Minggu sore kemarin, Vamel membawa kertas dan spidol sekeranjang, ke Salemba. Ia mengeluarkannya secara cepat di atas meja.
Saya kagum dengan kecepatannya mengumpulkan kertas, spidol, krayon warna-warni untuk mengajak orang muda menuliskan surat buat Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS yang masih terbaring di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
“Biar hidup Andrie lebih ringan, dan dia bisa membaca surat yang lucu-lucu,” kata Vamel, yang sehari-hari aktif di Organisasi Perempuan Mahardhika, Jakarta.
Nisyu, dari Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK) menggambar makanan MBG, cepat sembuh ya ndrie, kapan kita mau ngobrolin soal MBG lagi, ndrie? tulis Nisyu.
Ia tergolong orang muda yang cepat sekali menggambar. Banyak yang berdecak dengan kecepatannya menggambar, mana persis lagi.
Selama ini, Nisyu sudah sering melakukan komunikasi dengan Andrie soal Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan hal-hal lain, peristiwa politik yang membuat satir, lucu tapi pedih. Pikiran ini juga dituangkannya ke dalam surat biar dibaca Andrie.
“Dia pasti senyum-senyum kalau dibacain ini.”
Baca Juga: Aktivis HAM Andrie Yunus Diserang Air Keras, KontraS: Bukan Lagi Alarm, Inilah Jurang Demokrasi

Anak muda lainnya juga menuliskan surat secara personal untuk Andrie. Mereka punya relasi perkawanan yang dekat, sering bertemu di forum-forum dan terutama aksi-aksi Kamisan.
KontraS sebagai koordinator aksi Kamisan, banyak menghimpun anak muda. Kamisan sudah jadi rutinitas ruang pertemuan bagi anak muda dan mahasiswa, di sanalah mereka sering bertemu Andrie Yunus.
“Kita sering ledek-ledekan sama Andrie, saling mengirim informasi politik yang bikin kita frustasi, trus tertawa bareng habis kita saling komen.”
Minggu sore, 15 Maret 2026 kemarin, Vamel, Nisyu, dan orang-orang muda yang tergabung dalam Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK) dan Aliansi Perempuan Indonesia (API) menuliskan surat untuk Andrie Yunus. Surat ditulis di Salemba. Andrie tidak boleh ditengok, masih dalam perawatan intensif. Mereka datang dengan dukungan untuk Andrie agar ia tak menyerah dan agar Andrie tahu jika ia didukung oleh orang-orang muda.
Sebelumnya, Andrie Yunus diserang Orang Tak Dikenal (OTD) di sekitar kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) paska ia mengisi podcast disana pada 12 Maret 2026. Ia mengalami luka bakar di tubuh bagian kanan, termasuk mata, wajah, dada, dan tangan, sehingga dirawat intensif di Di RSCM.
Jane Rosalina, aktivis KontraS dalam konferensi pers 16 Maret 2026 hari ini mengatakan, Andrie masih dirawat secara intensif.
Baca Juga: Mengupas Lapisan Operasi Pembungkaman Orang Muda Terbesar Sejak Reformasi: Temuan Komisi Pencari Fakta Agustus 2025
“Andrie masih dirawat intensif. Serangan pada Andrie tidak hanya serangan tunggal, tapi juga serangan pada publik secara meluas, dan ini bentuk kejahatan HAM yang melahirkan teror dan intimidasi yang mengeluarkan suara kritis.”
Dalam konferensi pers di YLBHI hari ini, tim pengacara untuk Andrie Yunus, yaitu dari YLBHI, KontraS dan Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menyatakan, kejadian yang menimpa Andrie ini adalah pembunuhan berencana, dilakukan secara kolaboratif dan ada aktor intelektual di dalamnya. Di tempat kejadian juga ditemukan botol, botol ini ditemukan oleh salah satu saksi. Disana juga ditemukan helm pelaku yang dicopot. Diduga pelaku juga terkena cipratan air keras. Maka TAUD kemudian mendesak pembentukan tim investigasi independen untuk kasus ini.
Selain Vamel, tim KontraS dengan kejadian itu, dengan perjuangan non- litigasinya lalu menghimpun surat, biar bisa membacakannya untuk Andrie, dan yang penting, ia tetap semangat.
Surat-surat dari GMLK dan API kemarin ditulis dari kertas warna-warni dengan spidol warna-warni pula. Sedangkan pernyataan sikap ditulis dengan kertas putih. Mereka datang, dan dengan cepat mengkoordinasikannya.
Setelah menulis surat selesai, GMLK dan API kemudian membawa surat dan pernyataan sikap yang dibacakan di sekitaran Salemba, tak jauh dari peristiwa penyiraman air keras terhadap Andrie. Mereka yang membacakan tuntutannya, Eka Ernawati dan Nisyu.

“Kami mengutuk keras penyiraman air keras kepada Andrie Yunus. Serangan ini adalah salah bentuk teror kepada pembela HAM dan aktivis muda, yang berani melawan kriminalisasi dan pembungkaman kebebasan berekspresi.”
Baca Juga: Laras Faizati (Tidak) Bebas Bersyarat, Rezim Kriminalisasi Awasi Perempuan dan Rakyat Kritis
Mereka menuntut negara untuk mengusut tuntas pelaku dan menjamin keselamatan para pembela HAM. Serta menghimpun kepada anak muda agar tidak takut.
“Kami bersama Andrie, lawan, lawan, lawan.”
Di Yogyakarta, aksi untuk mendukung penuntasan kasus Andrie Yunus juga dilakukan oleh Suara Ibu Indonesia.
GMLK didirikan oleh orang-orang muda pada September 2025 sejak banyaknya orang muda yang ditangkap pada peristiwa aksi-aksi Agustus 202. Ketika Affan Kurniawan terbunuh pada Agustus 2025.

Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi/ GMLK melakukan aksi dukungan pembebasan Tapol di pengadilan di Jakarta (Foto: Salsabila Putri/ Konde.co)
GMLK mengisi ruang keberanian anak muda, mereka hadir di persidangan, di penjara, di tempat-tempat tahanan dimana solidaritas ditumbuhkan. Sejumlah aktivis 90an yang saya temui merasa lega ketika saya ceritakan tentang organisasi muda yang bertumbuh. Ini membuatnya tidak pernah kuatir dengan pengkaderan yang mandek, maupun gak ada generasi muda yang mengurus politik di masa mendatang.
Baca Juga: Aliansi Perempuan Indonesia Tuntut Prabowo Berhentikan Kapolri dan Stop Kekerasan Aparat
Sedangkan Aliansi Perempuan Indonesia (API), adalah kumpulan dari 93 organisasi perempuan yang berhimpun dan menyikapi kondisi kultur, ekonomi dan politik perempuan secara cepat.

Panggung perempuan di Hari Perempuan internasional, Aliansi Perempuan Indonesia (API) di TIM, Jakarta (Foto: API)
API juga melakukan aksi-aksi protes atas penangkapan Tapol, kebijakan Prabowo- Gibran yang tak berperspektif perempuan. Pada 8 Maret 2026, API mengadakan panggung bersama perempuan yang dihadiri seribu (1000) perempuan. Bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM), rata-rata yang datang anak muda.
Surat-surat untuk Andrie merupakan salah satu bagian dari gerakan ini. Di gerakan lain, GMLK misalnya mengunjungi para Tapol di Polda Metro Jaya, sejak Delpedro, Syahdan, Kharif dan Muzafar ditangkap. Sampai mengunjungi Yusuf Maulana, tapol dari Bandung yang ditangkap dan dipindahkan ke Rutan Polda Metro Jaya, Jakarta.
Tim konde.co juga beberapa kali melakukan kunjungan ke Rutan Polda Metro Jaya sejak September 2025 untuk memantau kondisi Tapol bersama GMLK dan API.
Andrie Yunus juga mendapatkan surat solidaritas dari para tahanan politik (tapol). Lewat Instagram @Setapol.Indonesia, para Tapol juga menuliskan surat.
Baca Juga: Edisi Akhir Tahun 2025: Perlawanan Perempuan di Musim Penangkapan dan Tahun #KiamatDemokrasi

Surat merupakan salah satu penyampai pesan dukungan yang banyak dilakukan sejak banyak anak muda ditangkap dan dipenjara. Amnesty International Indonesia pernah menggalang dukungan surat untuk para Tapol lewat surat. Intinya mengajak publik untuk bersolidaritas dan bersuara melawan kesewenang-wenangan.
Pada November 2025, Amnesty mencatat lebih dari 400 orang menulis surat solidaritas berisi dukungan dan harapan untuk para korban yang ditangkap hanya karena bersuara.

Mereka juga menulis surat desakan kepada Kapolri untuk membebaskan para korban dan memperbaiki kinerja aparat.
“Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk kita saling jaga dan bersolidaritas.”
Baca Juga: Mogok Makan di Balik Jeruji Penjara, Syahdan dan 16 Aktivis Muda Protes Penangkapan Mereka
Dalam konteks feminis, surat-surat yang mengabarkan situasi batin dan kondisi politik perempuan, ini bisa dibaca dari tulisan Kartini kepada Nyonya Abendanon dan Stella Zeehandelaar. Kartini menyurati bagaimana dia seperti terpenjara di dalam rumah sendiri, tidak boleh ke mana-mana. Padahal kakaknya, Kartono, bisa sekolah ke luar negeri, sedangkan Kartini dipingit di dalam rumah.
Korespondensi melalui surat juga ditulis oleh Pudji Aswati, seorang narapidana politik yang juga menulis surat kepada Patricia Cleveland-Peck.
Patricia merupakan penulis asal Inggris. Patricia sebelumnya mulai menulis surat kepada para tahanan politik di seluruh dunia sebagai bagian dari sebuah kampanye yang diprakarsai oleh Perkumpulan Agama Sahabat (Quaker). Quaker, sebuah denominasi agama Kristen yang didirikan di Inggris pada abad ke-17, sangat terlibat dalam advokasi untuk tahanan
Vannessa Hearman, Senior lecturer in Indonesian Studies, Charles Darwin University The Conversation.com menuliskan tentang surat Pudji sebagai Tapol dan Patricia sebagai penulis ini. Mengirim kartu pos dan surat kepada tahanan-tahanan politik dan otoritas pemerintah telah menjadi bagian yang integral dari kampanye hak asasi manusia. Terutama di negara-negara Barat, seperti yang dilakukan oleh Amnesty International. Anggota organisasi ini diminta untuk menulis permohonan kepada pemerintah di berbagai negara atas nama tahanan politik untuk menjamin keselamatan dan pembebasan mereka.
Baca Juga: Penangkapan Dera dan Munif: Ujian Pernikahan Itu Bernama Kriminalisasi
Pudji dan suaminya, Gatot Lestario, merupakan korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia pada pertengahan 1960-an. Hampir setengah juta orang dibunuh dan banyak yang dipenjara. Kebanyakan tanpa melewati pengadilan, karena afiliasi mereka dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dengan menerima surat, para tahanan merasa terhubung dengan dunia luar. Bagi narapidana politik Indonesia, melakukan korespondensi dengan sahabat pena dari luar Indonesia berbeda jauh dengan stigmatisasi yang mereka alami di negara sendiri.
Vannessa Hearman menulis, surat pribadi adalah bentuk komunikasi yang intim. Ketika dianalisis secara sensitif dan etis, surat-surat memberikan gambaran penting bagi sejarawan tentang hubungan emosional yang dibangun secara kuat antara para penulis surat.
Surat- surat dari orang muda untuk Andrie Yunus dan para Tapol, merupakan bentuk komunikasi intim yang dibangun dengan solidaritas kuat.





Comments are closed.