Jakarta, Arina.id—Di tengah tingginya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mencapai 72,2 persen, sektor ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah yang paling banyak mendapat sorotan dari masyarakat.
Hal itu diungkap Peneliti Utama Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi dalam Survei Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 11–17 Mei 2026.
Masduri mengatakan hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap bidang ekonomi hanya mencapai 59,2 persen menjadi yang terendah dibandingkan sektor lainnya.
“Sebagai perbandingan, tingkat kepuasan pada bidang kesehatan mencapai 75,4 persen, pertahanan dan keamanan 74,5 persen, serta pendidikan 72,5 persen,” kata Masduri di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Rendahnya penilaian terhadap sektor ekonomi, imbuh Masduri, sejalan dengan berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 37,5 persen responden menyebut mahalnya harga kebutuhan pokok sebagai masalah utama yang paling mendesak saat ini.
“Harga pokok mahal adalah persoalan yang langsung dirasakan langsung oleh masyarakat saat ini. Disusul sulitnya mencari lapangan kerja dengan 9,2 persen dan mahalnya biaya kesehatan 7,8 persen,” jelasnya.
Sementara itu, dampak yang paling dirasakan masyarakat akibat kenaikan harga BBM non-subsidi adalah naiknya harga kebutuhan pokok 53,8 persen, kenaikan tarif transportasi 16,4 persen, serta berkurangnya kecukupan pendapatan bulanan 10,1 persen.
“Temuan tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi rumah tangga masih menjadi perhatian utama publik meskipun sejumlah program bantuan pemerintah telah berjalan,” ungkapnya.
Meski demikian, sejumlah program pemerintah tetap mendapat apresiasi masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi program yang paling dirasakan manfaatnya dengan tingkat pengakuan sebesar 27,6 persen. Program tersebut juga dinilai paling tepat sasaran oleh 24,5 persen responden.
Masduri menilai temuan ini menunjukkan adanya perbedaan antara apresiasi publik terhadap berbagai program sosial pemerintah dengan persepsi mereka terhadap kondisi ekonomi yang dihadapi sehari-hari.
“Persoalan harga kebutuhan pokok dan lapangan pekerjaan masih menjadi isu yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, kondisi ekonomi menjadi faktor yang sangat memengaruhi penilaian publik terhadap kinerja pemerintah,” tandasnya.
Peneliti Poltracking Indonesia, Ahmad Zia Fitrahuddin menambahkan hasil survei ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam merumuskan dan memperkuat berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Survei ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk menentukan program-program yang perlu dilanjutkan, diperkuat, maupun dievaluasi agar manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat,” tandasnya.
Survei Poltracking Indonesia melibatkan 1.220 responden yang dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling di 38 provinsi. Survei memiliki margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara terlatih menggunakan aplikasi digital.




Comments are closed.