Jakarta, Arina.id—Cendekiawan muslim Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa dorongan paling dasar dalam diri manusia adalah kebutuhan perut. Ia menegaskan, syahwat ini bersifat elementer dan menjadi fondasi bagi munculnya dorongan-dorongan lain dalam kehidupan manusia.
“Syahwat paling dasar itu syahwat perut. kebutuhan perut yo kebutuhan gizi makan biar ndak stunting ya. Jadi kebutuhan syahwat perut ini elementer. Orang itu yang pertama kali dibutuhkan yo syahwat perut ini. Kalau yang perut ini belum terpenuhi, yang syahwat-syahwat yang lainnya biasanya masih belum muncul. Jadi harus beres dulu di yang perut,” ujarnya tayangan video Mengaji Hening, diakses Minggu (5/4/2026).
Ia mengingatkan, ketika kebutuhan dasar ini belum terpenuhi, seseorang cenderung mengarahkan berbagai aktivitasnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, bahkan tanpa disadari.
“Jadi ekonomimu belum beres. Kamu geser ke ranah agama yo urusan agama kamu jadikan orientasi untuk memenuhi kebutuhan perut. urusan perutmu belum beres. Kamu melakukan aktivitas kebaikan sosial itu biasanya diam-diam gak sadar kebaikan sosial itu kamu dediskasikan untuk memenuhi kebutuhan perutmu,” lanjutnya.
Mengacu pada pemikiran Imam Ghazali, ia menjelaskan bahwa setelah kebutuhan perut terpenuhi, dorongan manusia akan bergerak ke tingkat berikutnya, yakni syahwat seksual.
“Kalau kamu lapar, itu peduli amat. Ada yang cakep, ada yang itu penginnya makan. Makanya Rasulullah itu ngasih tips anak-anak muda yang sudah pengin menikah tapi belum mampu puasalah. Karena kalau perut itu kosong, perut itu lapar, kamu sudah di melihat yang cantik-cantik, yang ganteng-ganteng itu sudah enggak nafsu,” jelasnya.
Namun, ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, dorongan lain kembali muncul dan meningkat ke level berikutnya, yaitu keinginan akan harta dan kedudukan.
“Kalau yang kedua ini juga terpenuhi biasanya terus naik juga satu level lagi muncul syahwat tentang harta dan kedudukan. Jadi mulai mikir status, mulai mikir kepemilikan. Aku harus kaya, aku harus berkedudukan,” katanya.
Menurutnya, pada tahap ini muncul berbagai penyakit hati seperti riya, sombong, dan pamer, yang kemudian diikuti rasa iri dan dengki terhadap orang lain.
“Kalau kemudian terpenuhi syahwat kedudukan dan harta ini, muncul penyakit lanjutannya. Riak, sombong, pamer. Kalau riak, sombong, bermegahan pamer ini muncul biasanya hadir juga temannya dengki, memusuhi orang iri,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa rangkaian syahwat tersebut merupakan hal yang manusiawi, namun tetap harus dikendalikan agar tidak membawa dampak negatif.
“Nah, ini rangkaian nafsu syahwat. Kata Imam Ghazali, hati-hati dengan munculnya syahwat-syahwat ini. Bahwa manusiawi orang ingin memenuhi kebutuhan perutnya, ingin menikah, ingin hidup terjamin dengan harta, ingin punya kedudukan, tapi harus ngerti kapan direm, harus sadar juga penyakit-penyakit ikutannya,” tegasnya.
Sebagai upaya mengendalikan dorongan tersebut, ia menyebut puasa sebagai salah satu cara efektif untuk menekan syahwat.
“Nah, biar tidak terlalu ditelan oleh rangkaian syahwat ini berarti puasa bisa jadi solusi. Karena ketika kita puasa kita lapar, kebutuhan syahwatnya turun ke level yang paling awal. Sudah gak mikir apa-apa. Yang dipikir hanya perut dan itu kita dapatkan setelah magrib,” ungkapnya.
Dua jalur penyucian jiwa
Lebih lanjut, Fahrudin Faiz juga menjelaskan bahwa proses penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs ditempuh melalui dua jalur, yakni usaha manusia dan pertolongan Tuhan.
“Nah, proses tazkiyatun nafs itu ada dua jalur. Itu kan teman-teman sendiri, jalur mujahadah namanya. Jangan lupa selain jalur mujahadah ada jalur hidayah. Jalur hidayah itu Allah yang membukakan jalan,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan agar tidak pesimistis dalam menjalani proses tersebut karena selain usaha, ada peran hidayah atau pertolongan dari Allah.
“Maka jangan pesimis. Meskipun tadi rasanya kok berat ya, Pak. Apa bisa ya, Pak? Kalian juga bisa kok. Kalau Allah rida. Karena selain mujahadah yang itu berdasarkan kekuatanmu, masih ada hidayah, pertolongan, anugerah dari Allah,” katanya.
Menurutnya, keyakinan kepada Tuhan menjadi sumber kekuatan utama agar manusia tidak terjebak dalam keputusasaan.
“Makanya beruntungnya orang yang punya Tuhan itu terhindar dari putus asa. Sepahit apapun situasinya, selemah apapun kondisi kita, kita masih punya Tuhan, kita masih punya Allah. Ndak pantas kita mengeluh, ndak pantas kita putus asa,” pungkasnya.




Comments are closed.