Ume atau menanam padi di ladang adalah budaya masyarakat lahan basah Sungai Musi, Sumatera Selatan. Sebelum menanam padi atau tanaman lainnya, dilakukan pembersihan lahan yang dilanjutkan dengan pembakaran. Tradisi membakar lahan diperkirakan sudah dilakukan masyarakat sebelum kehadiran Hindu Buddha atau di masa Kedatuan Sriwijaya. Berdasarkan penelitian di Percandian Bumiayu, yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Ecole Francaise d’Extreme Orient (EFEO) pada 2024, ditemukan lapisan arang hasil pembakaran lahan di bawah struktur bata candi Bumiayu. “Hasil uji pertanggalan absolutnya sekitar abad ke-6 Masehi,” kata Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, di sela Festival Lahan Basah Tempirai di Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kamis (18/6/26). Selain itu, ditemukan sekam padi pada sejumlah batu bata bangunan candi Bumiayu. “Jadi diperkirakan pembakaran lahan tersebut diperuntukan untuk menanam padi,” kata Sondang. Percandian Bumiayu dikelilingi lahan basah, baik yang terhubung dengan Sungai Lematang, Sungai Penukal, dan Sungai Abab, yang masuk Kabupaten PALI. Masyarakat yang menetap di lahan basah tersebut selama ratusan tahun mengenal budaya ume, beserta tradisi membakar lahannya. Padi lokal yang ditanam di ume di Tempirai. Foto: Ariadi Damara/Mongabay Indonesia. Tradisi membakar lahan ini berhenti atau berkurang pada pertengahan tahun 2000-an. Pemerintah melarang siapa pun membakar lahan untuk aktivitas pertanian dan perkebunan. Larangan ini menyusul bencana kebakaran lahan dan hutan di Indonesia yang menyebabkan bencana kabut asap, sejak 1997-1998. “Kemarau tahun ini lama, sehingga pengawasan pembakaran lahan sangat ketat. Banyak warga takut dan tidak membuka ume,” kata Asrina…This article was originally published on Mongabay
Tradisi Ume dan Varietas Padi Lokal Masyarakat Tempirai
Tradisi Ume dan Varietas Padi Lokal Masyarakat Tempirai





Comments are closed.