Malam itu hujan ketika seorang cowok kulit hitam naik dalam angkot. Hanya ada aku dan si sopir di dalamnya. Kami was-was. Apakah dia bakal memalak kami?
Dengan tubuh yang hampir dua meter, dia dapat dengan mudah menekan batok kepalaku hingga remuk. Si sopir yang kerempeng itu bisa dia lempar lewat jendela depan.
Dia mendekati sopir, merogoh sesuatu dari sakunya. Astaga pisau lipatkah? Atau pistol? Aku hendak kabur ketika lihat yang dia keluarkan adalah sebuah hape China.
Dia buka Google Translate lalu bilang, “Bogor Stasiun?”.
“Ya, stasiun” jawab si sopir lega meski bibirnya gemetar. Mungkin dia merasakan apa yang juga aku rasakan.
Dia mengetik lagi di aplikasi penerjemah itu, “Berapa?” tanyanya.
Si sopir menunjukkan lima jari, artinya lima ribu rupiah dan orang asing itu paham. Itu harga asli tanpa diskriminasi ia turis atau warga lokal. Alangkah indahnya kalau seluruh angkot di dunia ini berani mematok tarif jujur sekalipun kepada orang asing.
Kami duduk saling berhadapan, menciptakan ketidaknyamanan. Iseng, kusenggol bahunya yang lebar. Dia memakai dashiki, batiknya orang Afrika.
“Where do you come from?” tanyaku.
“Sudan” jawabnya “South Sudan”.
Dimulai dari percakapan kecil itu, kami mulai ngobrol.
“Why you come to Indonesia?” Maksudku masih banyak tujuan negara lain. Mereka bisa ke Amerika, Australia, atau Mesir yang memiliki akar kebudayaan yang sama.
“Is not safe, my country” telingaku harus ekstra fokus karena tak terbiasa dengan aksen Afrika.
“Every day war. Indonesia safe” dia melanjutkan dengan bahasa Indonesia “Tidak ada perang.”
Oh ternyata dia bisa sedikit berbahasa Indonesia. Namun ironisnya, kalimat yang ia hafalkan bukan “selamat siang” atau “nama saya adalah…” melainkan “tidak ada perang”.
Kutanya berapa umurnya, awalnya kukira dia seumuranku. Tapi “Thirty four” jawabnya.
Orang kulit hitam emang awet muda. Coba lihat Morgan Freeman, dari dulu mukanya gitu-gitu aja.
Kami sampai stasiun ketika hujan berganti gerimis.
“Where do you wanna go?” tanyaku sembari melompat kecil, menghindar kubangan air.
“Tanah Abang” jawabnya “I work there”.
Kami duduk bersebelahan di KRL. Di depan kami ada seorang cewek memakai kain batik, sepatu Dr. Martens, menggabungkan antara budaya nusantara dengan imperialisme Inggris. Wajahnya bersih, sapuan lipstiknya tipis memperlihatkan bibir merah mudanya yang tebal, ah, dia nampak seperti Angelina Jolie muda.
”Hei” kusenggol si Sudan itu “What do you think about Indonesian girl?”.
Biasanya obrolan tentang cewek bisa menyatukan kaum Adam di manapun di dunia ini. Tapi nggak kali ini.
“I have a wife” dia menunjukkan wallpaper ponselnya, foto dia dan istrinya di satu pernikahan tradisional Afrika.
“I mean… They’re beautiful eh?” pancingku.
Si Sudan memalingkan wajahnya ke jendela. Sesuatu sedang disembunyikan olehnya.
“Right?” masih kupancing lagi.
“When I try to talk with them. They like…” dia masih memalingkan wajahnya “Scared“.
“Because of your skin?” tanyaku.
Dia mengangguk pelan. Suara bising kereta membuyarkan obrolan kami.
–
Si Sudan itu ingin bilang kalau orang Indonesia rasis sama orang kulit hitam, tapi dia takut menyinggung perasaanku.
Aku yang justru merasa nggak enak dengannya. Jauh-jauh menghindari perang saudara di tanah kelahirannya hanya untuk didiskriminasi oleh bangsa yang katanya paling ramah sedunia.
“I’m sorry for that. I’m really sorry” kataku.
“No… it’s not your fault” matanya yang tadi mengarah ke jendela, kini beralih ke arahku. Seolah sedang menghibur seorang kawan.
Aku jadi teringat kisah saudara kita di Papua. Orang Jawa mengeruk kekayaan mereka sementara penduduk aslinya menderita. Hutan adat kena gusur jadi kebun sawit. Makanan pokok sagu diganti jadi nasi yang jelas nggak tumbuh di bumi Papua.
Jawa tak ada bedanya dari Belanda, sama-sama penjajah.
Kuceritakan padanya bagaimana orang Jawa ramai-ramai menyuarakan #AllEyesOnPapua sementara ketika saudara kami dari Papua merantau ke Jawa, mereka selalu dijauhi.
Orang Jawa menganggap orang kulit hitam terbelakang. Sehingga si Jawa nggak mau main sama orang Papua. Sehingga banyak dari mereka membentuk kelompok sendiri sesama orang Papua.
Sesama orang yang terpinggirkan.
Menurutku, kataku pada si Sudan. Itu terjadi karena orang Jawa bangsat masih mewarisi budaya feodal. Kasta. Tingkat-tingkatan.
Orang kulit putih dan priyayi disanjung betul. Makanya kalau ada bule, orang Jawa suka ngajak foto seolah mereka artis (padahal bisa saja mereka gembel).
Sementara orang kulit hitam dianggapnya terbelakang buta huruf (padahal bisa saja mereka ilmuwan).
Dia termenung mendengar kisah orang Papua. Kisah sama yang dia alami sendiri di negeri yang bhineka tunggal ika.
Kami berjabat tangan sebelum berpisah, kurasakan hangat telapak tangan yang dua kali lebih besar dariku.
“I almost forget to ask this, what’s your name?”
Dia tersenyum.
“My name is Ukachukwu Bonaventure”.
“Ukachukwu is my family name” lalu dia melanjukan.
“Bonaventure means good fortune”.
Pintu kereta Stasiun Manggarai terbuka, si Angelina Jolie kecil masih memejamkan matanya.
Si Sudan itu segera meloncat keluar dan melambaikan tangannya padaku. Pintu tertutup, kereta berjalan.
Ukachukwu,
Semoga kamu dapat keberuntungan sebagaimana namamu.





Comments are closed.