Rencana masuknya perusahaan kayu, PT Sumber Permata Sipora (SPS) di Pulau Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) terus mendapat penolakan masyarakat. Mereka khawatir, kehadiran perusahaan akan membawa dampak buruk bagi kehidupan mereka dari sektor ekonomi, mengganggu budidaya toek, pertanian, hingga wisata berselancar. Toek adalah sejenis hewan moluska yang hidup di potongan kayu, terutama jenis tumung atau arthrophylum diversifollium dan kayu bakbak atau Campnosperma auriculata. Oleh perempuan di Sipora, budidaya toek banyak di sepanjang Sungai Saureinu untuk tambahan penghasilan. Belum lama ini, Mongabay menemui Rita dan perempuan Sipora lain yang tengah sibuk memanen toek di pinggir Sungai Saureinu. Sungai berair payau ini memang menjadi tempat ideal untuk budidaya toek. Dengan harga Rp20.000-25.000 per bungkus, toek merupakan sumber penghasilan yang menjanjikan. “Hampir semua ibu-ibu di sini jual toek. Mereka bisa dapat Rp400.000 sehari,” kata Rita Uang itu dapat menjadi tambahan mereka membiayai sekolah anak dan pemenuhan kebutuhan rumah lainnya. Rita tak ingat pasti kapan budidaya toek mulai warga lakukan. Yang pasti, sejak ada media sosial seperti Facebook, praktik ini kian menjamur. Banyak dari mereka yang memiliki pelanggan online. “Jadi kadang sudah ada pelanggan pesan di Facebook,” kata mantan penyiar radio di Mentawai ini. Dulu, saat akhir pekan, sungai-sungai di Sipora biasa penuh oleh kaum ibu-ibu -sebagian berasal dari luar Sipora- yang memanen toek. Sejak penebangan kayu di hulu marak, air sungai berubah lebih keruh hingga menjadikan kualitas toek berkurang. Bahkan tak layak konsumsi. “Karena sungainya keruh, toek-nya banyak yang merah. Yang bisa dimakan kan yang warna putih,” kata Riko, warga…This article was originally published on Mongabay
Waswas Warga Kalau Perusahaan Kayu Masuk Sipora
Waswas Warga Kalau Perusahaan Kayu Masuk Sipora





Comments are closed.