ADA orang hidup di dalam waktu seperti penumpang kereta cepat. Tiba lebih dulu tapi tak sempat melihat pemandangan. Ada pula yang berjalan kaki. Geraknya lambat. Sol sepatunya menipis. Tapi perubahan tanah dan bau hujan pertama justru terbaca. Politik hari ini tampaknya lebih menyukai kecepatan. Perlambatan sering disangka kebingungan.
Satu hari di bulan Januari kembali tiba. Di luar, partai mungkin menyiapkan panggung, seragam merah yang rapat, dan yel-yel membelah udara. Ingar-bingar itu adalah cara sebuah mesin politik meyakinkan diri bahwa ia masih ada. Namun di titik pusatnya, Megawati Soekarnoputri hadir seperti jam tua di ruang tamu rumah lama. Detaknya pelan. Tidak sinkron dengan jam digital. Tidak menuntut perhatian. Namun saat listrik padam, suara detak itu justru terdengar. Konsisten. Sedikit angkuh di tengah sunyi.
Zaman ini memeras waktu. Segalanya diringkas. Segalanya diminta segera memberi hasil. Politik berubah menjadi panggung reaksi. Kehadiran diukur dari suara. Keberhasilan diukur dari kecepatan merespons. Keheningan dicurigai. Menunggu dianggap tanda uzur.
Megawati menampik ketergesaan itu. Sosok ini jarang berbicara panjang. Diam sering muncul di antara jeda pidato. Diam yang bukan berarti kosong. Kadang ia seperti cara seorang kurator merawat anggrek di kebun belakang: tak perlu banyak bicara, tapi tahu kapan tunas akan pecah. Dalam politik yang gemar berteriak menjelaskan diri sendiri, sikap itu terasa ganjil.
Keasingan tidak selalu berarti kesalahan.
Ada keyakinan lama yang terus dipelihara di sana. Bahwa kekuasaan tidak selalu harus hadir sebagai pernyataan keras. Organisasi lebih penting daripada momentum. Kekalahan bukan selalu akhir. Keyakinan semacam ini tidak lahir dari teks teori yang rapi. Ia terbentuk dari masa ketika politik adalah urusan bertahan hidup di bawah bayang-bayang aparat. Masa ketika menunggu berarti menjaga agar api di dapur tidak sepenuhnya padam. Tergesa tidak pernah menjadi kebajikan utama.
Politik kontemporer memuja kecepatan. Kelambatan diberi label usang. Padahal kecepatan sering hanya memindahkan kekacauan dari satu titik ke titik lain. Respons cepat belum tentu pemikiran matang. Keberisikan belum tentu kepedulian. Megawati seolah menolak tunduk. Waktu panjang dipercaya memberi ruang membaca pola. Bukan sekadar gejala. Bukan sekadar suara paling nyaring.
Namun waktu panjang juga menyimpan bahaya. Alasan sering bersembunyi di balik kesabaran. Penundaan dapat menyamar sebagai kebijaksanaan. Perubahan bisa digeser ke esok hari yang tak pernah tiba. Di sini, kesabaran bisa berubah menjadi jerat.
Bukan sekadar simbol keteguhan, figur ini juga penjaga poros. Poros memberi arah, tapi poros sekaligus membatasi gerak. Megawati memandang organisasi sebagai rumah. Rumah memerlukan tiang. Rumah perlu dijaga dari guncangan. Namun rumah juga bisa terlalu mapan. Renovasi ditunda. Jendela jarang dibuka. Debu sejarah menumpuk di pojok ruangan.
Dalam politik kita, partai sering diperlakukan sebagai kendaraan sewaan. Digunakan. Ditinggalkan. Diganti saat mogok. Pendekatan semacam itu ditolak di sini. Partai diperlakukan sebagai tubuh. Tubuh bisa sakit. Tubuh tidak dibuang. Pilihan ini membuat daya tahan terbentuk, meski beban ikut menumpuk. Beban simbol. Beban ekspektasi yang tak selalu rasional.
Nama yang dibawa telah menjadi ingatan kolektif yang licin. Legitimasi lahir darinya, tapi tafsir juga bisa membeku. Memori tidak pernah netral. Bagian tertentu diingat. Bagian lain dikubur. Mungkin di sebuah sudut ingatan, Megawati masihlah Adis—anak perempuan yang mendengar nasehat tentang sejarah di bawah pohon beringin atau di selasar istana yang luas. Dalam politik, pengelolaan memori semacam itu adalah pengelolaan masa depan. Nostalgia menjadi risiko permanen.
Megawati sering dibaca sebagai penjaga ingatan. Kesinambungan ideologis dirawat seperti menjaga naskah tua agar tidak dimakan rayap. Perubahan drastis dicurigai. Lompatan tanpa akar dianggap berbahaya. Pembacaan semacam ini bisa tampak bijaksana. Namun rasa takut kehilangan kendali juga bisa bersembunyi di baliknya.
Waktu panjang memberi kedalaman. Jarak juga tercipta. Jarak dari realitas yang berubah secepat ketukan layar ponsel. Jarak dari generasi yang tidak tumbuh bersama ingatan yang sama. Generasi hari ini hidup di dunia yang tidak menunggu. Sejarah dikonsumsi sebagai potongan pendek. Kesabaran terhadap simbol tanpa penjelasan semakin tipis.
Dalam dunia semacam itu, diam mudah disalahartikan. Megawati tidak merasa perlu menjelaskan setiap langkah. Penilaian waktu dipercaya akan datang. Waktu, bagaimanapun, tidak selalu adil. Lupa juga menjadi kerja waktu.
Ada momen ketika keteguhan berubah menjadi kekakuan. Ada momen ketika menjaga berarti menghambat. Megawati berdiri dekat ambang itu. Jarak panjang dari kekuasaan formal pernah dijalani dengan tegak. Integritas lahir dari sana. Namun jarak dapat berubah menjadi kebiasaan. Dunia bergerak sendiri.
Waktu panjang bukan tujuan. Ia hanya alat. Alat untuk mencegah perubahan serampangan. Megawati kerap disebut jangkar. Jangkar menjaga kapal agar tidak hanyut dibawa arus liar. Namun jangkar juga menahan kapal agar tidak berlayar. Badai membuat jangkar menyelamatkan. Cuaca tenang membuat jangkar menghalangi.
Pertanyaan penting bukan soal kebutuhan akan jangkar. Waktu pengangkatannya menjadi inti persoalan.
Politik Indonesia tidak kekurangan kegaduhan. Ambisi melimpah. Kesabaran struktural justru langka. Pembangunan institusi menuntut napas panjang. Kekalahan perlu diterima tanpa harus membakar seluruh sistem. Demokrasi membutuhkan penjaga, tapi ia juga membutuhkan rayap yang memakan bagian lapuk. Regenerasi tidak bisa sekadar simbolik. Sirkulasi gagasan harus nyata.
Waktu panjang tanpa regenerasi adalah penundaan. Regenerasi tanpa waktu panjang adalah kecerobohan. Pertemuan keduanya selalu tegang. Megawati percaya pertemuan itu harus dikendalikan. Arus liar dicurigai. Kendali dianggap perlu. Pilihan politik ini sah, namun pengujian terus menerus tetap dibutuhkan. Dunia semakin cair. Dunia semakin cepat.
Megawati berada di persimpangan tersebut. Peran yang tersisa mungkin bukan sebagai penentu arah tunggal. Penanda batas justru lebih tepat. Batas antara tergesa dan ceroboh. Batas antara sabar dan beku. Tidak semua kelambatan adalah kebodohan. Namun tidak semua ketahanan berarti kehidupan.
Sejarah tidak berjalan lurus. Belokan dan pengulangan selalu terjadi. Megawati telah berjalan jauh. Beban berat dipikul. Jejak yang ditinggalkan tidak sederhana. Pujian berlebihan menyederhanakan. Tuduhan penghambatan juga keliru. Nilai terbesarnya mungkin justru terletak pada paradoks tersebut. Kesimpulan cepat ditolak. Pertanyaan terus dipaksa muncul.
Apakah politik sekadar soal menang cepat atau soal bertahan cukup lama untuk melihat akibat dari pilihan sendiri?
Waktu panjang bukan jaminan kebijaksanaan. Tanpa waktu panjang, politik berubah menjadi reaksi tanpa ingatan. Kehidupan bergerak di antara dua ketakutan: takut terlambat atau takut salah arah. Megawati memilih takut yang pertama. Zaman memilih takut yang kedua.
Di antara keduanya, demokrasi berjalan. Tertatih. Ribut. Tidak rapi. Kerumitan barangkali memang kodratnya. Tugas bersama bukan memilih siapa paling benar. Kepanikan tidak boleh menguasai waktu sepenuhnya. Kesabaran tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mendengar suara dari luar pagar.
Megawati berada di sana. Tidak berlari. Tidak sepenuhnya diam. Satu tahun lagi bertambah, dan meski di luar sana sorak-sorai partai terdengar meyakinkan, penantian mungkin kian sunyi. Menunggu selalu mengandung harapan, namun risiko juga menyertainya. Waktu tidak pernah polos. Bekas selalu tertinggal, entah pada dinding rumah tua atau pada kerutan di ujung mata.
Virdika Rizky Utama
Direktur Eksekutif PARA Syndicate




Comments are closed.