Arina.id – Neraca perdagangan Indonesia dilaporkan terus mengalami surplus atau kelebihan pendapatan secara beruntun selama 68 bulan. Artinya, kondisi surplus ini terjadi sejak masa pemerintahan Jokowi dulu, sampai berganti ke Prabowo.
Laporan ini disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS). Hingga akhir Desember 2025, neraca perdagangan RI melanjutkan tren keuntungan 68 bulan beruntun. Demikian disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 2 Januari 2026.
Hartono menjelaskan, secara kumulatif, sepanjang Januari-Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD 41,05 miliar, dengan rincian ekspor USD 282,91 miliar dan impor USD 241,86 miliar.
Keuntungan dagang RI itu, kata dia, naik signifikan dari surplus perdagangan sepanjang 2024 yang mencapai USD 31,33 miliar, sehingga ada lonjakan USD 9,72 miliar. “Perbandingan surplusnya cukup tinggi,” ucap dia, seperti dikutip dari Antara.
Hartono melanjutkan, surplus kumulatif ini didorong oleh surplus nonmigas sebesar USD 60,75 miliar, meski defisit migas masih tercatat sebesar USD 19,7 miliar. Knerja positif tersebut, kata dia, tidak terlepas dari peran sektor industri pengolahan yang menjadi penopang utama ekspor nasional.
Lebih lanjut, BPS juga mencatat industri pengolahan memberikan andil 10,77 persen terhadap peningkatan ekspor nonmigas sepanjang 2025.
Berikutnya sejumlah komoditas manufaktur yang mencatat kinerja ekspor kuat antara lain minyak kelapa sawit dan turunannya, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, logam dasar bukan besi, serta semikonduktor dan komponen elektronik.
Ia menyampaikan keuntungan dagang Indonesia tersebut ditopang oleh kinerja perdagangan dengan sejumlah mitra dagang utama.
Sepanjang Januari-Desember 2025, negara penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia adalah Amerika Serikat dengan surplus 18,11 miliar dolar AS, disusul India sebesar 13,49 miliar dolar AS, serta Filipina yang mencatat surplus 8,42 miliar dolar AS.
Sementara itu, untuk ekspor Indonesia pada Desember 2025 mencapai 26,35 miliar dolar AS, tumbuh 11,64 persen secara tahunan.
Peningkatan tersebut, kata dia, terutama berasal dari ekspor nonmigas yang mencapai 25,09 miliar dolar AS atau naik 13,72 persen dibandingkan Desember 2024.
Adapun untuk impor pada bulan tersebut tercatat sebesar 23,83 miliar dolar AS, dengan andil peningkatan 6,36 persen, utamanya diperuntukkan untuk bahan baku/penolong industri dalam negeri.
“Pada Desember 2025 neraca perdagangan barang mencapai surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS. Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak bulan Mei tahun 2020,” katanya.





Comments are closed.