Sun,10 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Beda Puasa Intermittent dengan Puasa Ramadan

Beda Puasa Intermittent dengan Puasa Ramadan

beda-puasa-intermittent-dengan-puasa-ramadan
Beda Puasa Intermittent dengan Puasa Ramadan
service

Intermittent fasting kerap menjadi tren pola makan yang diklaim efektif untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolik. Disisi lain, umat Muslim setiap tahun menjalankan puasa Ramadan sebagai bentuk ibadah. Meski sekilas tampak serupa karena sama-sama mengatur waktu makan, keduanya memiliki perbedaan mendasar, baik dari segi tujuan maupun penerapan gizinya.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Mahmud Aditya Rifqi menjelaskan bahwa perbedaan utama antara intermittent fasting dan puasa Ramadan terletak pada tujuan pelaksanaannya.

“Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” jelasnya, dikutip dari laman Unair, 20 Februari 2026.

Ia menyatakan, secara umum, baik intermittent fasting maupun puasa Ramadan sama-sama menerapkan konsep time-restricted eating atau pengaturan jendela makan. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam dari sahur hingga berbuka. Selama periode itu, umat Muslim tidak diperbolehkan makan maupun minum.

Adapun intermittent fasting, kata Mahmud, memiliki variasi pola yang lebih beragam. Pola yang paling populer adalah metode 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan. Misalnya, seseorang hanya makan pada pukul 12.00 hingga 20.00, lalu berpuasa hingga keesokan harinya.

Selain metode 16:8, terdapat pula pola 5:2 (lima hari makan normal dan dua hari pembatasan kalori), eat stop eat, hingga one meal a day (satu kali makan dalam sehari).

“Perbedaan lainnya adalah tingkat keketatan. Pada puasa Ramadan, selama waktu berpuasa tidak boleh ada asupan makanan maupun minuman. Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula,” terangnya.

Dari sudut pandang ilmu gizi, Mahmud menegaskan prinsip utama yang harus kita pegang adalah konsumsi makanan yang beragam, bergizi, dan seimbang. Tubuh membutuhkan waktu sekitar 3–6 jam untuk mencerna makanan. Selain itu, tubuh memiliki ritme biologis alami dalam mengatur proses makan, penyerapan, dan pengeluaran zat sisa.

Karbohidrat sebagai sumber energi utama akan tersimpan dalam bentuk glikogen ketika tidak langsung digunakan. Saat tubuh kekurangan asupan, glikogen tersebut akan pecah menjadi glukosa untuk memenuhi kebutuhan energi.

“Puasa, baik Ramadan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” ungkapnya.

Namun, ia mengingatkan pentingnya memperhatikan kebutuhan kalori minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR). Setiap orang memiliki kebutuhan energi minimal agar organ-organ vital tetap berfungsi optimal, bahkan saat tidak beraktivitas.

Jika asupan kalori terus-menerus berada di bawah kebutuhan minimal, tubuh bisa mengalami defisit energi yang berbahaya. Awalnya lemak memang terbakar, tetapi jika berlanjut, tubuh dapat menggunakan protein otot sebagai sumber energi. “Ini dapat menurunkan massa otot,” kata Mahmud.

Karena itu, kata dia, dalam praktik intermittent fasting, pengurangan kalori sebaiknya bertahap berkisar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, dan tidak sampai di bawah batas minimal kebutuhan tubuh.

Tips puasa Ramadan agar tetap sehat

Agar puasa Ramadan berjalan lancar tanpa gangguan kesehatan, Mahmud menyarankan agar masyarakat tidak sekadar menggeser waktu makan dari pagi dan siang ke malam dalam jumlah besar.

“Jangan sampai setelah berbuka justru makan berlebihan dalam waktu berdekatan. Tubuh bisa terbebani,” katanya.

Ia menyarankan pola makan dengan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta tambahan selingan sehat. Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus terpenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur.

Konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah, ucap dia, juga penting untuk membantu rasa kenyang lebih lama serta menjaga kestabilan energi selama berpuasa. Makanan berkuah seperti soto dapat menjadi alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan.

“Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” kata dia.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.