Mon,17 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. IEEFA: Efisiensi PLTS Lebih Hemat Rp67 Triliun per Tahun Ketimbang PLTD

IEEFA: Efisiensi PLTS Lebih Hemat Rp67 Triliun per Tahun Ketimbang PLTD

ieefa:-efisiensi-plts-lebih-hemat-rp67-triliun-per-tahun-ketimbang-pltd
IEEFA: Efisiensi PLTS Lebih Hemat Rp67 Triliun per Tahun Ketimbang PLTD
service

KABARBURSA.COM — Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS hingga 100 gigawatt mulai dilirik sebagai jalan keluar dari mahalnya biaya listrik berbasis diesel. Tahap awalnya dimulai dari konversi pembangkit listrik tenaga diesel atau PLTD sebesar 13 gigawatt.

Langkah ini dinilai bukan sekadar proyek energi, tetapi upaya menekan beban fiskal yang selama ini terseret oleh impor bahan bakar. Efisiensi anggaran yang dihasilkan bahkan diperkirakan bisa mencapai USD4 miliar per tahun (Rp67,6 triliun).

Ketergantungan pada diesel selama ini menjadi titik lemah elektrifikasi, terutama di wilayah terpencil. Biaya listrik dari PLTD melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, dari Rp4.746 per kWh pada 2020 menjadi Rp8.748 per kWh pada 2023.

Lonjakan ini memperlihatkan betapa mahalnya listrik berbasis bahan bakar impor, apalagi di tengah gejolak harga minyak global. Konflik di Timur Tengah semakin mempertegas risiko tersebut, ketika pasokan energi global menjadi tidak pasti.

Dalam hitungan terbaru Institute for Energy Economics and Financial Analysis atau IEEFA, kombinasi PLTS dengan sistem penyimpanan energi baterai atau BESS menawarkan biaya yang jauh lebih rendah. 

Biaya listriknya berada di kisaran USD0,08 hingga USD0,20 per kWh (Rp1.352 hingga Rp3.380), jauh di bawah PLTD yang bisa mencapai USD0,29 hingga USD0,40 per kWh (Rp4.901 hingga Rp6.760), bahkan sempat menembus USD0,55 hingga USD0,65 per kWh (Rp9.295 hingga Rp10.985).

“Peralihan ke sistem PLTS akan mengubah struktur biaya elektrifikasi di pulau-pulau terpencil. Dibanding harus mengimpor bahan bakar dan menghadapi logistik kompleks, Indonesia dapat memanfaatkan sinar matahari yang melimpah, menyimpannya secara lokal, dan mendistribusikannya secara andal selama lebih dari satu dekade,” ujar Research & Engagement Lead IEEFA, Mutya Yustika, dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 April 2026.

Selain menekan biaya listrik, konversi ini juga membuka ruang penghematan dari sisi impor. IEEFA memperkirakan pengurangan impor diesel bisa menghemat hingga USD2 miliar (Rp33,8 triliun).

Di sisi subsidi, dampaknya juga signifikan. Penghematan diperkirakan mencapai USD1,5 hingga USD2 miliar per tahun (Rp25,3 triliun hingga Rp33,8 triliun), setara sekitar 15 persen hingga 18 persen dari total subsidi dan kompensasi listrik yang mencapai USD11 miliar pada 2024.

Namun, jalan menuju transisi energi ini tidak sepenuhnya mulus. Tantangan utama datang dari ketidakpastian regulasi, terutama terkait skema tarif listrik untuk proyek PLTS dan BESS. Tanpa kepastian tarif yang jelas dan layak secara finansial, investor cenderung menahan diri.

Masalah lain muncul dari kebutuhan investasi awal yang besar, diperkirakan mencapai USD15 miliar hingga USD19,5 miliar (Rp253,5 triliun hingga Rp329,6 triliun). Kenaikan suku bunga global juga ikut menekan biaya pembiayaan, terutama untuk proyek di wilayah kepulauan yang skalanya terbatas.

Selain itu, persoalan klasik seperti pengadaan lahan dan tumpang tindih regulasi masih menjadi hambatan di lapangan. Integrasi tata ruang, pembentukan bank tanah, hingga keterlibatan masyarakat menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Meski begitu, potensi manfaatnya dinilai terlalu besar untuk diabaikan. “Jika hambatan tersebut dapat diatasi, konversi PLTD ke PLTS tidak hanya akan menurunkan biaya listrik, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan mendorong transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di Indonesia,” kata Mutya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.