Ikan asin buat sebagian besar masyarakat perkotaan atau pesisir adalah simbol kesederhanaan. Tapi, bagi masyarakat di pegunungan Sumatera Selatan, seperti wilayah Besemah (Semende, Lahat, dan Pagaralam), ikan asin adalah kemewahan. Sebuah kehormatan bagi seorang tamu, saat makan, dihidangkan masakan menu ikan asin. Rasa asin tidak mudah didapatkan di Semende, baik dari hutan maupun sungai. Berbeda dengan rasa asam dan manis yang mudah diperoleh dari tanaman. Rasa asin hanya didapatkan dari garam. Di masa lalu, garam didatangkan atau diambil dari wilayah pesisir Bengkulu Selatan, yang membutuhkan waktu panjang dan biaya tinggi. “Garam di sini sangat istimewa atau mewah, termasuk bahan masakan yang rasanya asin, seperti ikan asin,” kata Mansir (53), warga Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Rabu (15/4/2026). Elianah (47), warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah, menjelaskan hampir semua lauk dan sayur di Semende rasa asinnya cukup kuat. Rasa asin ini merupakan penghormatan. “Jangan heran, kalau masakan di Semende, khususnya lauk dan sayur, rasa asinnya lebih kuat dibandingkan rasa asam, manis, dan pedas.” Tapi, dalam perkembangan saat ini, seperti alasan kesehatan, rasa asin pada lauk dan sayur di Semende mulai berkurang. “Namun, rasa asinnya tetap menonjol dibandingkan masakan di Palembang,” katanya. Dijelaskan Mansir, hingga tahun 1970-an, garam yang dibutuhkan masyarakat Semende, diambil atau dibawa dari Bengkulu. Mereka yang membawa garam menggunakan kuda, melintasi perbukitan Gunung Patah dan Bukit Barisan Selatan. Jenis kuda yang dipakai yakni kuda sandel (Equus caballus), yang banyak dikembangkan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jalur garam ini…This article was originally published on Mongabay
Mencari Jejak Jalur Garam di Besemah
Mencari Jejak Jalur Garam di Besemah





Comments are closed.