Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Hadapi Ancaman Zoonosis dan Keamanan Pangan, Perkuat One Health

Hadapi Ancaman Zoonosis dan Keamanan Pangan, Perkuat One Health

hadapi-ancaman-zoonosis-dan-keamanan-pangan,-perkuat-one-health
Hadapi Ancaman Zoonosis dan Keamanan Pangan, Perkuat One Health
service

Hari Dokter Hewan Sedunia pada 25 April lalu menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran strategis dokter hewan dalam menjaga kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Di tengah meningkatnya ancaman zoonosis, tantangan ketahanan pangan, serta tekanan terhadap kelestarian satwa liar dan lingkungan, dokter hewan berperan dalam kesehatan hewan.

Dokter hewan juga menjadi bagian integral dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Melalui pendekatan One Health, sinergi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, aman, dan berkelanjutan.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Widagdo Sri Nugroho, menegaskan dokter hewan memegang posisi strategis dalam menjaga keseimbangan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam kerangka One Health.

Peran ini tak terbatas pada aspek kesehatan hewan semata, tapi juga mencakup upaya pencegahan penyakit, penjaminan keamanan pangan, hingga perlindungan lingkungan secara berkelanjutan.

“Tidak bisa hanya fokus pada hewan saja, karena lingkungan juga menjadi perhatian dalam pengelolaannya,” ujarnya, Senin, 27 April 2026.

Menurutnya, ancaman zoonosis masih menjadi salah satu isu krusial yang memerlukan perhatian serius. Hal ini mengingat mengingat sebagian besar penyakit ini bersumber dari hewan dan memiliki potensi menular ke manusia.

Dari sisi teknis, kata dia, keterbatasan jumlah vaksin serta kesulitan menjangkau target vaksinasi di daerah endemik menjadi hambatan utama. Sementara itu, faktor sosial budaya masyarakat juga turut mempengaruhi. Misalnya, adanya kekhawatiran terhadap vaksinasi hingga kebiasaan mengonsumsi atau membagikan daging dari hewan yang sakit.

“Tidak hanya sekadar teknis kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut pengetahuan dan latar belakang sosial budaya masyarakat,” jelasnya.

Sementara, dari sisi ketahanan pangan juga tidak luput dari perhatian dokter hewan. Ia menuturkan bahwa setiap dokter hewan juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan keamanan produk hewani dari hulu hingga hilir.

Menurut dia, pengawasan dilakukan sejak proses budidaya hingga pasca panen untuk memastikan produk bebas dari residu bahan kimia dan cemaran mikroba yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Setelah proses pascapanen menjamin tidak ada cemaran mikroba sehingga produk yang dihasilkan itu tidak membawa agen penyakit untuk bisa menular ke manusia.

“Jangan sampai limbah yang dihasilkan dari proses produksi pangan asal hewan itu bisa menimbulkan gangguan lingkungan,” katanya tegas.

Sementara itu, lanjut dia, dalam upaya konservasi satwa liar, ia menilai peran dokter hewan saat ini sudah kian berkembang. Terkhusus dalam kegiatan penyelamatan dan rehabilitasi.

Tidak hanya itu, ia juga menuturkan bahwa bahwa upaya edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mencegah praktik berisiko. Seperti konsumsi satwa liar yang berpotensi memicu munculnya penyakit zoonotik baru.

Namun demikian, kata dia, perlindungan habitat satwa liar masih menjadi tantangan yang memerlukan komitmen kuat dari berbagai pihak. Peraturan sebenarnya sudah banyak, tetapi konsistensi pelaksanaannya yang masih perlu diperkuat.

“Edukasi berbasis pendekatan One Health penting dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk sosial dan budaya, guna mengubah perilaku masyarakat secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Ke depan, Widagdo berharap penguatan peran dokter hewan dapat didukung oleh political will yang kuat dari pemerintah. Dukungan itu perlu diwujudkan dalam program-program konkret, seperti vaksinasi, edukasi kepada masyarakat, penerapan praktik peternakan yang baik (good farming practices), serta kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi munculnya penyakit baru.

Ia menilai, upaya itu juga harus ditopang oleh dukungan penganggaran yang memadai agar implementasi di lapangan dapat berjalan optimal. Kuncinya ada pada political will pemerintah.

“Harus ada keberpihakan nyata yang diwujudkan dalam program-program seperti vaksinasi, edukasi, dan kesiapsiagaan terhadap penyakit baru,” tutur Widagdo.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.