Mubadalah.id – Sebagian perempuan lebih berisiko kesulitan dalam persalinan serta dirundung problema kesehatan jasmani maupun rohani sesudah bayi mereka lahir, lagi pula bayi pun lebih mungkin memiliki kesehatan yang buruk.
Yang biasa mengalami kesulitan ini adalah ibu-ibu yang tidak bersuami, sangat miskin, sangat muda, menyandang keterbelakangan mental, atau yang sudah punya anak-anak yang kurang gizi, sementara mereka sendiri juga kekurangan gizi.
Bila Bayi Meninggal
Sebagian besar perempuan mengalami kehamilan dan kelahiran yang sehat dan cukup mudah, bayi-bayi mereka pun sehat-sehat. Namun, kadangkala, tidak peduli apa pun yang telah diusahakannya, bayi yang lahir tetap tidak tertolong dan meninggal.
Si ibu akan mengalami kepedihan. Ia merasa sangat kehilangan. Padahal, saat itu ia habis bersalin dan membutuhkan banyak istirahat serta perawatan kesehatan yang baik. Meski bayinya telah tiada, ia harus tetap memulihkan tenaga seperti ibu-ibu lain.
Tidak ada bayi yang menyusu padanya, karenanya payudara sang ibu mungkin akan nyeri dan terasa bengkak, khususnya di hari ke-3 sesudah persalinan ketika ASI mengumpul di sana. Kompreslah dengan kain yang dicelup air dingin.
Selain itu, si ibu harus:
Pertama, jangan memerah payudara untuk mengeluarkan ASI pertama yang warnanya kekuningan (kolostrum) maupun ASI biasa yang putih. Kalau ASI yang terlanjur mengumpul ibu keluarkan, tubuhnya malah akan memproduksi lebih banyak lagi.
Kedua, awasi tanda-tanda infeksi payudara dan segera rawat bila ada. Ketiga, tunggu setidaknya 3 bulan lagi sebelum mencoba hamil kembali: tubuh butuh istirahat. Keempat, secepat mungkin laksanakan KB agar jangan hamil terlalu cepat.
Beri waktu kepada si ibu yang berduka untuk mengikis rasa sedihnya. Ia butuh perhatian, hiburan, dukungan, dan bantuan perawatan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 127.





Comments are closed.