“Sampai kapanpun akan ku tunggu kehadiran mereka, pintu ini selalu terbuka untuk mereka, tidak ada rasa dendam dan marah.”
– Niatus Sholihah
Mubadalah.id – Mengutip dari website RRI.CO.ID, kalimat di atas mengingatkan kita bahwa memaafkan kerap kali diposisikan sebagai tanda kedewasaan, bahkan keshalehan, tanpa terlebih dahulu memberi ruang. Bagi mereka yang terluka atas perlakuan tidak nyaman yang telah orang lain perbuat. Dengan membiarkan diri sendiri terjebak dengan ketidak nyamanan yang orang lain perbuat.
Kisah Niatus Sholihah seorang perempuan difabel yang tangguh menjadi penting untuk dituliskan. Sebagai refleksi dan pembelajaran kepada kita semua akan keberanian yang mengakui luka tanpa terjebak di dalamnya, sehingga menjadi trauma yang berkepanjangan.
Kisah Hidup Niatus Sholihah sebagai Perempuan Difabel
Niatus Sholihah merupakan salah satu perempuan disabilitas asal Bondowoso, Jawa Timur. Ia hadir dan tumbuh tanpa kasih sayang orang tua kandungnya. Tapi, kehidupannya tetap berjalan dengan kasih sayang tulus dari sang kakek dan neneknya. Sang kakek yang selalu mengusahakan dengan berjualan balon keliling untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Serta sang nenek yang menjadi tempat pulang dengan memberi kasih sayang dan perhatian yang tulus kepada Niatus Sholihah.
Perjalanan hidup yang ia jalani ini menjadi kisah inspiratif bagi mereka yang melihat dan membaca di platform media sosial. Lebih dari itu, keberhasilanya dalam menempuh pendidikan tinggi, bagaimana cara ia memaknai makna pilihan untuk memaafkan dan mengakui luka sebagai bentuk kejujuran.
Mengutip dari website RRI.COD, saat acara Kick Andy tahun 2023. Niatus Sholihah menceritakan secara terbuka pengalaman sedih yang ia alami. Bermula dari ia sebagai anak yang mengetahui identitas orang tua kandungnya. Mereka tidak mengakui Niatus sebagai anaknya, terkhusus dari sang ayah.
Melalui pengalaman tersebut, Niatus memilih untuk jujur, bahwa ia sulit menghindari perasaan kecewa, sedih, dan perasaan tidak adil. Perasaan ini menghasilkan luka yang membekas dalam kehidupannya.
Perasaan di atas, mengingatkan kita mengenai makna kejujuran. Sebab, kebanyakan dari mereka sulit mengakui luka yang ada, justru menilai mereka sebagai kelemahan. Padahal, mengakui luka merupakan sebagai bentuk kejujuran dan langkah awal pemulihan.
Dari kisah di atas, Niatus Sholihah tampil sebagai sosok perempuan yang berani menghadapi lukanya sendiri. Tidak menyimpan dendam dan memaafkan apa yang sudah terjadi. Serta membebaskan diri dan pulih dari luka yang ada. Ia pun mengajarkan kepada kita akan pentingnya relasi antar sesama manusia, terkhusus relasi kepada orang tua dan anak.
Sebab, tidak ada yang namanya mantan anak. Dari realitas yang Niatus alami sebagai anak merupakan sebagai salah satu bukti nyata. Memaafkan bukan berarti lemah, tapi sebagai bentuk pulih dari luka, tanpa menghilangkan esensi relasi antara orang tua dan anak.
Melanjutkan Hidup Sebagai bentuk Kesadaran
Dalam perjalanaan hidupnya, Niatus seorang perempuan disabilitas mampu membuka ruang empati tanpa menumbuhkan sikap kebencian. Ia memilih menerima kenyataan bahwa orang tuanya memiliki jalan hidup masing-masing.
Dari pilihan tersebut, Niatus justru tumbuh dalam lingkungan yang memberinya pengalaman dan relasi yang sehat. Kehadiran kakek dan neneknya menjadi bagian penting dalam kehidupannya, menghadirkan kasih sayang, tanggung jawab, serta empati yang saling menguatkan.
Niatus yang berhasil menempuh pendidikan sarjana sebagai mahasiswa Universitas PGRI Semarang, melalui beasiswa KIP. Selain itu ia juga aktif sebagai konten kreator yang kerap membagikan kisah dan refleksi kehidupannya.
Raffi Ahmad, sebagai utusan khusus presiden di bidang pembinaan generasi muda dan pekerja seni yang mengetahui kisah dan refleksi itu, memberikan kesempatan pada Niatus Sholihah untuk menjadi staff.
Berbagai pencapaian ini, ia tetap berdiri sebagai manusia biasa dengan masa lalu yang tidak sepenuhnya ramah dan tidak membiarkan kesedihan menjadi kelemahan. Tetapi, menjadikan pengalaman hidupnya sebagai sumber refleksi dan kekuatan diri.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa memaafkan bukan berarti melupakan. Akan tetapi, memaafkan adalah pilihan sadar untuk mengakui luka, sekaligus memberi ruang bagi proses pemulihan diri. Mereka yang memilih untuk tidak menutupi lukanya, dan memaafkan dengan tulus. Hal ini, merupakan salah satu bukti, bahwa keberanian kita sebagai manusia lahir dari sifat kejujuran. []





Comments are closed.