
Selepas bermain bola di lapangan tengah kota, saya dan empat rekan mampir di warung angkringan langganan. Yang lain memesan es teh, sementara saya cukup air putih hangat. Kalau tidak salah, sudah lima tahun belakangan ini saya sudah tidak punya keberanian minum es. Dan ternyata itu cukup memberi pengaruh baik bagi tubuh saya. Seperti tidak gampang batuk, pilek, flu, atau sekadar masuk angin. Dan itu semakin meyakinkan saya, bahwa air putih adalah minuman yang terbaik.
Lagi asiknya ngobrol dan ngemil kacang rebus, tiba-tiba ada hewan kecil (bangsa coro/ kecoak) nyungsep di atas tikar. Tepat di tengah-tengah kami duduk melingkar, dengan posisi badannya terbalik. Kecoak tersebut muser-muser, agaknya kesulitan untuk membalikkan badannya. Sekuat tenaga ia berjuang memosisikan ideal tubuhnya, tapi gagal. Usahanya sia-sia. Spontan teman saya, Arief, mengangkat dan membalikkan posisi kecoak malang tersebut.
“Bisa jadi selama ini, kita terhindar dari kecelakaan atau musibah karena perbuatan kecil seperti ini. Menolong sesama makhluk Allah.” ujarnya.
Tertegun saya mendengarnya. Obrolan yang tadinya receh berubah menjadi agak serius bahkan religius. Udin, teman saya yang lain kemudian menceritakan pengalamannya.
Suatu hari Udin bersama temannya pergi ngampus. Di tengah jalan, ia melihat seorang ibu-ibu penjual cilok tengah menuntun sepeda motor. Tampak ban belakang motornya kempes. Ibu tersebut nyaris kewalahan menuntun motornya lantaran tak kuat menahan beban gerobak di atas jok. Syahdan Udin menepikan motornya. Ia turun dan gegas mengambil alih motor si Ibu. Menuntunnya sekuat tenaga hingga beberapa ratus metrer, dan ketemulah bengkel tambal ban.
Seberes menolong Ibu penjual cilok, Udin mengalami kejadian yang tak mungkin ia lupakan sepanjang hidupnya. Sebelum sampai kampus, ia melewati jalan kecil yang dilintasi rel kereta api tanpa palang. Karena asik ngobrol dengan temannya, Udin tidak menyadari ada kereta yang hendak lewat. Jaraknya sudah sangat dekat. Untungnya, ada bapak tukang becak yang mangkal di dekat lokasi dan langsung meneriakinya. “Awas, Mas. Ada kereta!!” Udin dan temannya selamat dari ancaman maut.
***
Dari peristiwa kecil tersebut kita dapat menukil beberapa pelajaran berharga. Di mana tindakan menolong kecoak serta menolong si Ibu penjual cilok adalah salah satu bentuk tadabbur dari surat Az-Zalzalah (ayat 7-8). Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Begitu pun sebaliknya.
Ayat ini bersifat dialektika. Allah membebaskan sebebas-bebasnya kepada manusia untuk memilih. Meh tumindak becik monggo, meh gawe ala yo rapopo. Mau berbuat baik silakan, mau berbuat buruk juga tidak apa-apa. Namun ingat, masing-masing tindakan pasti ada konsekuensinya.
Menolong adalah suatu kebaikan. Sekalipun itu menolong seekor kecoak. Dari yang kecil-kecil itu kita belajar. Manusia diciptakan di muka bumi tidak lain sebagai rahmat. Mengasihi dan menyayangi. Kepada binatang, tumbuhan, dan semua makhluk ciptaan Tuhan. Kepada manusia, apalagi. Sudah selaiknya.
***
Sikap menolong juga dapat melatih rasa iba dan perasaan tak tega. Anak sulung dari cinta adalah empati. Begitu nasihat bijak Mbah Nun yang selalu terngiang-ngiang dalam benak saya. Kalau kita sudah cinta, maka yang pertama kita tampilkan adalah rasa empati. Turut merasakan apa yang orang lain rasakan. Dengan begitu lahirlah dari diri kita (tanpa diminta) sikap saling tolong menolong, melayani, dan mengayomi satu sama lain.
Ada sedikit cerita yang berkaitan dengan perasaan tak tega. Di belakang rumah saya terdapat sebidang kolam yang dihuni ikan Nila dan kura-kura. Ide miara ikan datang dari anak sulung. Ia suka sekali dengan ikan. Alhasil, kami pun membeli bibit ikan lalu disebar di kolam belakang.
Seperti halnya manusia, tiga kali saya memberi jatah makan kepada mereka (Nila-nila kecil). Setiap hari. Pagi, siang, dan malam.
Tiga bulan berselang, bibit-bibit ikan Nila tersebut tumbuh besar. Berukuran hingga sak epek-epek (telapak) tangan orang dewasa. Sesekali ada keinginan untuk menjaring, membakar, lalu menyantapnya. Ahh sedaap. Niat itu pun akhirnya terlaksana.
Tiga ikan Nila besar berhasil dijaring dan dimasukkan ke ember. Saya dan istri berdiskusi. Bagaimana cara mateni-nya? Saya tak punya nyali untuk menyembelih, apalagi membantingnya hingga mati. Istri saya pun ogah untuk mengeksekusi. Ikan-ikan tersebut terpaksa nginep semalaman di bak ember.
Pagi harinya, saya pun tetap tidak punya keberanian untuk menghabisi ikan-ikan tersebut. Ada rasa tak tega. Kasihan. Rasanya mereka sudah saya anggap seperti anak sendiri. (Semoga tidak lebay ya).
Alam bawah sadar saya selalu muncul perasaan tak tega nglarani kewan (menyakiti binatang) apalagi memusnahkannya. Satu-satunya hewan yang saya tega untuk membunuhnya hanyalah nyamuk.
Setelah menimbang-nimbang, tiga ikan Nila tersebut akhirnya saya masukkan lagi ke dalam kolam. Mereka kembali ke habitatnya. Dan kami gagal total untuk sekadar mencicipinya.
***
Selain melatih rasa iba, sikap menolong juga mampu menumbuh—dan menambah rasa syukur kepada Allah. Kenapa? Karena tanpa disadari atau tidak, kita telah dipilih Allah sebagai perantara pertolongan bagi liyan (termasuk kepada binatang, tumbuhan, dan sesama manusia). Menjadi tangan panjang-Nya Allah. Bukankah suatu kebahagiaan tak terkira ketika Allah berkenan “menggunakan” jasa kita? Dengan kata lain, kita dianggep, “diwongke” sama Gusti Allah.
Semakin sering kita diberi kesempatan untuk menolong, semakin bersyukur kita kepada-Nya. Selain berpotensi memperoleh ganjaran pahala, ia (jiwa menolong) juga sangat ampuh menghindarkan diri dari segala jenis mara bahaya. Wallahu a’lam bish-shawab.
***
Dan yang terakhir, kami berbaik sangka kepada Allah. Bahwa Mbah Nun sepanjang hidupnya disedekahkan untuk menolong sesiapa saja. Menolong mereka dari keputus asaan, penindasan, kesewenang-wenangan, jalan buntu, lorong gelap, ketidakadilan, pertikaian, bahkan rong-rongan kehancuran.
“Hakikat hidup bukanlah apa yang kita ketahui. Bukan buku-buku yang kita baca, atau kalimat-kalimat yang kita pidatokan. Melainkan apa yang kita kerjakan, apa yang paling mengakar di hati, jiwa, dan inti kehidupan kita.”
Terima kasih Mbah Nun, atas segala prinsip nilai hidup yang engkau teladankan. Semoga jiwa menolong selamanya tertancap dan mengakar dalam inti kehidupan kita. Menolong diri sendiri, keluarga, sesaudara, nusa, dan bangsa.
Syafakallah Simbah. Panjang umur. Al-Fatihah.
Gemolong, Mei 2026





Comments are closed.