Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu kalap memborong buku, niatnya langsung dibaca, bahkan mungkin sudah rajin kamu catat ke dalam planner bacaan bulan ini. Tapi, ujung-ujungnya buku-buku itu malah berakhir menumpuk jadi pajangan di rak, masih rapi terbungkus plastik segel. Nah, kebiasaan menimbun buku ini ternyata ada istilah resminya, yaitu Tsundoku.
Istilah Tsundoku (積読) sendiri berasal dari bahasa Jepang. Di ekosistem pencinta buku masa kini—seperti di komunitas BookTok atau Bookstagram—istilah ini sering dipakai sebagai candaan untuk menertawakan diri sendiri. Mereka menggunakan kata ini untuk merayakan menggunungnya daftar TBR (To Be Read) alias antrean buku yang (entah kapan) akan dibaca. Lewat Tsundoku, mereka seolah sepakat bahwa membeli buku dan membaca buku adalah dua hobi yang sama sekali berbeda.
Baca juga: Mengapa Perempuan Lebih Enggan Gunakan AI, dan Apa Dampaknya?
Asal Mula Sebutan Tsundoku
Mengutip dari Huffpost, Yoshihiro Yasuhara, pakar studi Jepang dari Carnegie Mellon University, istilah tsundoku punya sejarah panjang yang secara harfiah berarti menumpuk buku yang dibeli karena penasaran tapi belum sempat dibaca. Dan ternyata, kata ini sudah muncul di literatur Jepang sejak tahun 1880-an dengan nuansa komedi yang menyindir. Saat itu, penulis Mori Senzo menggunakan frasa “tsundoku sensei” dalam teks satirnya untuk meledek seorang guru yang punya koleksi buku segunung tapi tidak pernah benar-benar dibaca.
Istilah ini sebenarnya lahir dari evolusi bahasa yang cukup unik. Awalnya, kata ini berasal dari frasa kerja bahasa Jepang tsunde-oku yang secara harfiah berarti menumpuk sesuatu dan membiarkannya begitu saja. Terdapat unsur permainan kata di dalamnya. Karakter kedua dari kata ini, yaitu doku (membaca), terdengar mirip dengan bagian belakang tsunde-oku. Dari pelesetan pelafalan inilah, kata tsundoku lahir dan populer.
Ditambah lagi, kegiatan merapikan rak atau menyusun target bacaan di planner sering memberikan rasa puas. Kita merasa sudah produktif dan mencapai sesuatu, padahal kita baru menyelesaikan transaksi belanja, bukan kegiatan literasi. Ujung-ujungnya, karena mabuk estetika, buku bergeser fungsi dari jendela dunia menjadi sekadar properti dekorasi kamar.
Tsundoku sering kali dianggap lebih dari sekadar masalah manajemen waktu yang buruk. Saat kita membeli buku terutama bacaan-bacaan berat yang kompleks kita sebenarnya sedang membeli sebuah identitas. Kita seolah memvalidasi diri sebagai sosok yang cerdas, terpelajar, dan berwawasan luas. Membayar buku di meja kasir terasa seperti jalan pintas untuk mendapatkan label intelektual tersebut, meskipun proses menyerap ilmunya justru mandek. Ditambah lagi, kegiatan menata rak atau menyusun target bacaan di planner terasa sudah cukup untuk memberikan suntikan dopamin di otak. Kita telanjur merasa produktif, padahal kita baru saja menyelesaikan transaksi finansial, bukan aktivitas literasi.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Rapi: Membaca Ulang Makna Rumah lewat Mindful Home
Namun, Apakah Tsundoku Seburuk Itu?
Membiarkan dirimu dikelilingi oleh tumpukan buku yang belum dibaca sebenarnya memiliki nilai filosofis yang mendalam. Sebuah ulasan yang dimuat dalam InsideHook menyoroti bahwa pada era modern, Tsundoku telah mengalami pergeseran makna yang jauh lebih positif. Membeli dan menumpuk buku bukan lagi dilihat sebagai perilaku menimbun (hoarding) yang impulsif, tetapi sebagau bentuk kerendahan hati.
Deretan buku yang belum terbaca di kamar kita berfungsi sebagai pengingat visual yang paling jujur atas ketidaktahuan kita sendiri. Semakin banyak buku yang menumpuk dan belum kamu sentuh, semakin kamu ditampar oleh realita bahwa dunia ini sangatlah luas, pengetahuan kita masih sangat dangkal, dan akan selalu ada gagasan baru untuk dieksplorasi.
Ulasan tersebut mencontohkan Ernest Hemingway. Penulis legendaris ini menghabiskan dua dekade hidupnya di Finca Vigía, Havana. Rumahnya dikenal karena ukuran perpustakaan pribadinya yang sangat masif. Buku-bukunya tidak dikurung dalam satu ruangan khusus, tetapi tersebar dan menumpuk di setiap sudut rumah, mulai dari atas perapian, di dapur, hingga terselip di antara toilet dan kamar mandi. Apakah Hemingway membaca setiap lembar dari ribuan buku tersebut? Sangat mungkin tidak.
Namun, koleksi raksasa itu adalah bentuk Tsundoku yang fungsional. Selama buku-buku itu ada di sekitarnya, informasi, referensi riset, dan inspirasi tidak akan pernah berjarak terlalu jauh darinya.
Pada akhirnya, tsundoku bukanlah sebuah kejahatan, apalagi sesuatu yang harus terus-menerus diratapi dengan rasa bersalah. Sebab mengumpulkan buku dan membaca buku itu sebenarnya adalah dua hobi yang berbeda, dan itu sah-sah saja.
Memiliki tumpukan buku yang belum terbaca adalah bukti dari rasa ingin tahu yang masih menyala. Praktik ini secara tidak langsung menjaga hubungan yang sehat antara kita dengan ilmu pengetahuan, memastikan pikiran kita tidak terjebak dalam arogansi karena merasa sudah tahu segalanya.
Tentu saja, hal ini berlaku selama tumpukan buku tersebut benar-benar berfungsi sebagai pengingat ketidaktahuan kita, dan bukan murni dibeli sekadar demi konten agar kamar terlihat estetik di media sosial. Karena ruang yang dipenuhi buku yang belum dibaca sekalipun bisa jadi lebih baik daripada ruang kosong yang sama sekali tidak menawarkan ruang untuk bertumbuh.
Referensi:
- Bologna, C. (2025, 31 Oktober). Buy books and never read them? There’s a Japanese term for that. HuffPost. https://www.huffpost.com/entry/tsundoku-unread-books-japanese_l_68fea6ace4b0ebfddfba3012/amp
- Garrity, T. (2025, 26 September). The benefits of buying books you’ll probably never read. InsideHook. https://www.insidehook.com/wellness/buying-books-never-read-tsundoku
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.