Bincangperempuan.com- Coba cek screen time di smartphone kamu hari ini. Berapa jam yang kamu habiskan untuk scrolling media sosial atau buka-tutup aplikasi?
Sekarang, bayangkan kalau kebiasaan kita menatap layar ini dituduh sebagai biang kerok utama turunnya angka kelahiran di seluruh dunia. Terdengar agak ekstrem, kan? Tapi belakangan ini, muncul narasi provokatif dari analisis Financial Times (FT) yang mengklaim bahwa tingkat kesuburan merosot tajam tepat di era ketika smartphone mulai populer.
Tulisan yang memicu perdebatan tersebut mengklaim bahwa kejatuhan angka kelahiran memiliki korelasi langsung dengan popularitas smartphone dan media sosial. Namun, sebelum kita terburu-buru menyalahkan layar gawai atas krisis demografi global, ada baiknya kita membedah klaim tersebut secara kritis.
Baca juga: Kenapa Angka Kelahiran Menurun Belakangan Ini?
Layar Gadget Pembawa Krisis Kelahiran?
Analisis yang ditulis oleh John Burn-Murdoch di Financial Times mencoba menarik garis lurus antara popularitas smartphone dan anjloknya Total Fertility Rate (TFR) atau Tingkat Kesuburan Total. TFR sendiri adalah estimasi rata-rata jumlah anak yang akan dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya. Di negara maju, tingkat penggantian populasi (replacement level) idealnya berada di angka 2,1. Saat ini, 18 dari 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia memiliki TFR di bawah ambang batas tersebut.
Untuk membuktikan argumennya, Burn-Murdoch menggunakan konsep “tahun nol”—yaitu momen di mana revolusi smartphone secara efektif dimulai di sebuah negara. Ia menggunakan volume pencarian Google untuk aplikasi seluler sebagai proksi atau indikator adopsi massal. Hasilnya, “tahun nol” ditetapkan berbeda-beda: tahun 2007 untuk Amerika Serikat dan Inggris, 2009 untuk Prancis, 2012 untuk Indonesia, dan 2015 untuk Iran.
Berdasarkan “tahun nol” tersebut, FT kemudian membuat sebuah tren linier ekspektasi angka kelahiran berdasarkan sepuluh tahun sebelumnya. Grafik yang disajikan FT mengklaim bahwa setelah smartphone masuk, angka kelahiran menyimpang jauh dari tren yang diharapkan. Bahkan di Amerika Serikat, tingkat kesuburan disebut anjlok hingga 30% dibandingkan tren yang seharusnya terjadi jika smartphone tidak pernah ada. Kesimpulannya, di negara mana pun, kehadiran smartphone selalu diikuti oleh penurunan angka kelahiran yang tajam.
Sekilas, narasi ini sangat menarik dan mudah dicerna. Tapi, jika dibedah lebih dalam menggunakan pisau analisis data yang kritis, argumen FT terasa terlalu menyederhanakan masalah.
Metrik “Tahun Nol” yang Bermasalah
Kesimpulan tersebut dibantah oleh analisis yang dimuat dalam XYZ. Analisis yang ditulis oleh dua ahli ekonomi Polandia tersebut menangkap aspek paling fatal dari argumen FT ada pada penetapan “tahun nol” kedatangan smartphone. Di AS, tahun tersebut ditetapkan pada 2007, bertepatan dengan peluncuran iPhone generasi pertama. Secara logis, peluncuran sebuah produk teknologi baru tidak otomatis berarti adopsi massal yang dampaknya bisa langsung merombak struktur demografi masyarakat dalam waktu enam bulan.
Masalah serupa terjadi di negara lain. Australia diberi label tahun 2008 (padahal iPhone baru masuk pertengahan tahun), sedangkan Inggris, Prancis, dan Polandia dipukul rata pada 2009. Lonjakan pencarian aplikasi di Google pada tahun-tahun tersebut lebih mencerminkan efek kebaruan (novelty effect) dari segelintir kaum berpunya yang baru membeli ponsel pintar, bukan cerminan penggunaan yang meluas di masyarakat.
Metode yang jauh lebih akurat adalah melihat persentase populasi yang benar-benar menggunakan smartphone. Mengacu pada berbagai survei kredibel, dari Pew Research Center hingga Google Our Mobile Planet, adopsi massal baru bisa dianggap memberikan dampak sosial ketika sekitar 35% populasi telah aktif menggunakannya. Oleh karena itu menggunakan tahun rilis produk sebagai patokan adopsi massal adalah asumsi yang kurang tepat.
Baca juga: Childfree Bukan Hanya Urusan Perempuan, Tapi Kesepakatan Pasangan
Akar Masalah: Ruang Hidup dan Realita Ekonomi
Studi di Malawi menunjukkan penggunaan ponsel menurunkan keinginan punya banyak anak. Sebaliknya, studi di Tiongkok menemukan bahwa akses internet broadband justru meningkatkan fertilitas karena membuka peluang kerja fleksibel dan mempermudah akses layanan kesehatan.
Oleh karena itu menjadikan smartphone dan media sosial sebagai penyebab angka kelahiran adalah kesimpulan yang kurang tepat. Penurunan angka kelahiran berasal dari faktor-faktor sistemik yang jauh lebih fundamental. Seperti meningkatnya partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi, pergeseran norma budaya, serta mandeknya pemenuhan hak-hak pekerja.
Belum lagi realita ekonomi yang menghantam generasi muda saat ini. Tata ruang kota yang tidak inklusif, meroketnya harga properti, serta krisis perumahan yang layak di banyak negara membuat keputusan untuk memiliki anak menjadi kemewahan finansial yang tidak lagi terjangkau oleh kelas pekerja. Smartphone mungkin mengubah cara kita berinteraksi, tetapi ketidakpastian ekonomi dan kebijakan publik yang bias-lah yang akhirnya membuat generasi hari ini ragu untuk membawa kehidupan baru ke dunia.
Referensi:
- Billari, F. C., Rotondi, V., & Trinitapoli, J. (2020). Mobile phones, digital inequality, and fertility: Longitudinal evidence from Malawi. Demographic Research, 42, 1057–1096. https://www.jstor.org/stable/26936817
- Burn-Murdoch, J. (2026). Financial Times. https://www.ft.com/content/fba35eca-df3a-4ad6-b42d-eb08eb7c9ad3
- Si, C., Wang, D., & Wu, M. (2025). How broadband internet access shapes fertility decisions: Evidence and mechanisms. Journal of Asian Economics, 99, 101962. https://doi.org/10.1016/j.asieco.2025.101962
- Skawiński, M., & Kulbacki, M. (2026, 21 Mei). Are smartphones the main cause of the fertility crisis? That is far too simplistic. XYZ. https://xyz.pl/poland-unpacked/are-smartphones-the-main-cause-of-the-
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.