Sat,1 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ketika Orang Dewasa Gagal Hadir, Belajar dari Drama Korea Teach You a Lesson

Ketika Orang Dewasa Gagal Hadir, Belajar dari Drama Korea Teach You a Lesson

ketika-orang-dewasa-gagal-hadir,-belajar-dari-drama-korea-teach-you-a-lesson
Ketika Orang Dewasa Gagal Hadir, Belajar dari Drama Korea Teach You a Lesson
service

Mubadalah.id -Saya masih ingat sebuah cerita dari seorang teman yang pernah menjadi korban perundungan semasa sekolah. Bertahun-tahun ia menyimpan pengalaman itu sendirian. Bukan karena tidak ada yang bisa menjadi tempat cerita, tapi karena setiap kali ia mencoba bicara, respons yang ia terima selalu sama: “Ah, namanya juga anak-anak. Biasa.”

Kalimat itu, yang terdengar sepele, sesungguhnya menyimpan luka dan trauma yang panjang.

Perundungan di lingkungan pendidikan kita memang seolah tidak pernah benar-benar selesai. Hampir setiap tahun muncul berita tentang siswa yang menjadi korban kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis. Tidak sedikit yang berakhir tragis. Dan hampir selalu, di balik tragedi itu, ada cerita yang sama: korban merasa sendirian, dan tidak ada orang dewasa yang sungguh-sungguh hadir.

Drama Korea yang Mengajukan Pertanyaan Tidak Nyaman

Di tengah kondisi itu, drama Korea terbaru Teach You a Lesson (2026) hadir dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Hasil adaptasi dari webtoon Get Schooled, drama ini tidak menempatkan siswa sebagai tokoh utama. Justru sebaliknya fokus pada Na Hwa Jin, seorang pengawas dari Biro Perlindungan Hak Pendidik yang bertugas menangani berbagai bentuk ketidakadilan di sekolah.

Setiap episode mengangkat kasus yang berbeda: perundungan, kekerasan kelompok, penyalahgunaan narkoba, eksploitasi seksual, hingga korupsi yang melibatkan institusi pendidikan. Tapi di balik semua variasi kasus itu, ada satu pertanyaan yang terus-menerus diulang dan tidak mudah dijawab: Di mana orang dewasa ketika anak-anak ini membutuhkan pertolongan?

Pertanyaan itu tidak hanya relevan untuk konteks Korea. Namun juga berbicara langsung kepada kita.

Perundungan Bukan Sekadar “Kenakalan Anak-Anak”

Salah satu hal yang berhasil dari drama ini dengan baik adalah bahwa perundungan bukan sekadar konflik antar remaja yang akan selesai sendirinya. Ia adalah masalah sosial yang tumbuh dari relasi kuasa yang tidak seimbang.

Pelaku perundungan jarang benar-benar bertindak sendirian. Mereka sering mendapat “lampu hijau” dari budaya sekolah yang permisif, diam-nya teman-teman sebaya yang menyaksikan, guru yang memilih tidak mau repot, atau orang tua yang menganggap anak-anak perlu “belajar menghadapi dunia keras” sendiri. Dalam kondisi seperti itu, korban tidak hanya menanggung luka fisik mereka kehilangan rasa aman, harga diri, dan kepercayaan bahwa ada orang yang akan melindungi mereka.

Di Indonesia, pola ini berulang dengan cara yang menyakitkan. Banyak kasus baru terungkap setelah berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Korban memilih diam bukan karena tidak ingin bicara, tapi karena mereka sudah tidak percaya bahwa suara mereka akan didengar.

Ketika sampai pada titik itu, perundungan bukan lagi soal individu. Ia adalah cermin dari sistem perlindungan yang gagal.

Ketika Nama Baik Sekolah Lebih Penting dari Keselamatan Anak

Ada adegan dalam drama Korea Teach You a Lesson yang terasa sangat dekat dengan keseharian kita. Ketika pihak sekolah lebih sibuk meredam isu daripada menangani kasusnya.

Fenomena ini juga bukan hal asing di Indonesia. Tidak sedikit kasus kekerasan yang penyelesaiannya “secara kekeluargaan” dalam banyak situasi sebenarnya berarti korban dan keluarganya agar diam demi menjaga nama baik lembaga. Belum ada proses pemulihan. Tidak ada pendampingan. Yang ada hanya tekanan untuk tutup mulut.

Padahal, keberanian mengakui adanya perundungan dan masalah justru merupakan tanda kedewasaan sebuah institusi. Sekolah yang sehat bukan sekolah yang tidak pernah punya masalah, tapi sekolah yang tahu bagaimana menghadapi masalah dengan jujur dan berpihak kepada yang paling rentan. Menutupi kasus tidak menghilangkan persoalan ia hanya memperpanjang penderitaan korban, sambil memberi ruang bagi pelaku untuk merasa aman melanjutkan kekerasan.

Menonton drama ini ada kepuasan tersendiri saat Na Hwa Jin “menghajar” para pelaku. Drama ini memang pandai memainkan emosi penonton ia memberi kita rasa keadilan yang langsung terasa, tanpa perlu menunggu proses birokrasi yang berlarut-larut.

Tapi kita tahu, kepuasan itu semu.

Dalam kehidupan nyata, kekerasan tidak bisa menjadi instrumen pendidikan. Menghentikan kekerasan dengan kekerasan hanya akan melahirkan lingkaran balas dendam yang tidak pernah selesai. Dan yang lebih penting pendekatan seperti itu tidak menyentuh akar persoalannya sama sekali.

Yang kita butuhkan bukan pahlawan yang datang terlambat untuk menghukum pelaku. Namun sistem yang bekerja sejak awal: mekanisme pelaporan yang aman dan terpercaya, layanan pendampingan psikologis yang sungguh-sungguh tersedia, pendidikan empati yang tidak berhenti di papan tulis, serta budaya sekolah. Yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan kemampuan menindas yang lebih lemah melainkan keberanian untuk membela mereka yang rentan.

Perlindungan Anak Adalah Urusan Kita Semua

Pesan paling kuat dari Teach You a Lesson sesungguhnya bukan pada adegan aksinya. Namun, terletak pada kritik, bagaimana anak-anak menghadapi kekerasan sendirian karena orang-orang dewasa di sekitar mereka memilih tidak melihat, tidak mendengar, atau tidak mau repot.

Dalam semangat mubadalah kesalingan dan tanggung jawab bersama perlindungan terhadap anak tidak bisa dibebankan hanya pada satu pihak. Ia adalah amanah kolektif: keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara, semuanya punya peran yang tidak bisa dialihkan begitu saja kepada yang lain.

Setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bermartabat. Mereka membutuhkan orang dewasa yang hadir bukan hanya ketika kasusnya sudah viral, tapi sejak jauh sebelum itu. Yang mau mendengarkan. Yang tidak meremehkan. Yang berani berpihak.

Pelajaran terbesar dari drama ini bukan tentang bagaimana menghukum pelaku perundungan. Pelajaran terbesarnya adalah tentang kita orang-orang dewasa yang sering terlalu sibuk, terlalu nyaman, atau terlalu takut untuk hadir ketika seorang anak sedang butuh pertolongan. Karena ukuran keberhasilan sebuah sistem pendidikan bukan hanya seberapa tinggi nilai ujian siswanya. Tapi seberapa aman ia menjaga martabat setiap anak yang ada di dalamnya. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.