Rusli, bukan nama sebenarnya, baru selesai membersihkan kebun kemiri miliknya. Tangan masih kotor, namun hidupnya kini jauh lebih tenang dibanding masa lalu. Lima tahun terakhir, dia memutuskan menjadi petani, meninggalkan pekerjaan lama sebagai pemburu satwa liar. Pria asal Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, itu pernah menjadi bagian rantai perburuan satwa di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Bentang hutan tropis terakhir di Asia Tenggara, yang menjadi habitat penting siamang dan orangutan sumatera. Siamang, primata berwarna hitam dengan kantung suara khas di leher, merupakan spesies dilindungi di Indonesia. Populasinya terancam akibat kehilangan habitat dan perburuan liar. Di Leuser dan hutan hujan Sumatera, siamang memiliki peran penting menebar biji dan membantu meregenerasi hutan secara alami. Hilangnya siamang bukan hanya soal berkurangnya satu spesies, tetapi juga ancaman bagi keseimbangan ekosistem. Di tingkat tapak, perburuan yang terjadi, dipicu persoalan ekonomi, minimnya alternatif pekerjaan, serta lemahnya pengawasan. “Kebutuhan hidup bertambah, setelah saya memiliki dua anak. Saat itu, umur saya 30 tahun dan tidak punya pilihan. Bertani terasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ucapnya, mengenang awal mula terjerumus perburuan satwa liar, Minggu (10/8/25). Sekitar 2004, Rusli kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Dia merantau ke Kota Langsa dan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, untuk mencari pekerjaan. Namun, keterampilan terbatas membuatnya tersisih dari pasar kerja. “Tidak ada yang mau mempekerjakan. Saya hanya bisa berkebun atau jadi buruh bangunan.” Di Kota Langsa, awalnya dia bekerja sebagai buruh bangunan. Beberapa bulan kemudian, menjadi sopir becak penumpang. “Ternyata, semua tidak cukup untuk kebutuhan rumah.” Dua tahun bekerja tanpa hasil berarti, Rusli…This article was originally published on Mongabay
Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]
Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]





Comments are closed.