Kasus dugaan penyekapan hingga penganiayaan berat oleh tersangka Taufik Hidayat (30) memasuki tahapan rekonstruksi (reka adegan) pada 2 Juli 2026.
Ada 21 adegan yang menggambarkan betapa sadisnya dugaan penyiksaan Taufik pada kekasihnya sendiri, YTR (29), hingga korban mengalami kebutaan dan cacat permanen.
Namun, menurut kacamata filsuf Hannah Arendt, sebenarnya kita dipaksa menghadapi kenyataan yang jauh lebih mengerikan: kejahatan paling brutal sekalipun sering kali tidak lahir dari kegelapan batin yang luar biasa, melainkan dari kedangkalan, rutinitas, dan pelaku yang sebenarnya adalah manusia “biasa”.
Fenomena inilah yang disebut Arendt sebagai banality of evil (banalitas kejahatan), yakni saat kekejaman menjadi rutinitas yang normal tanpa memicu penyesalan.
Arendt menekankan bahwa akar kejahatan bukanlah dari niat jahat, melainkan thoughtlessness—sebuah kondisi ketidakberpikiran atau lumpuhnya fungsi refleksi moral individu dan publik hingga menciptakan sistem yang menormalkan tindak kejahatan.
Read more: Is it time to reconsider the idea of ‘the banality of evil’?
Ketika kekerasan justru dipelihara dan menjadi rutinitas, pelaku tidak lagi melihat tindakan tersebut sebagai sebuah pelanggaran moral yang besar.
Dalam edisi terbaru Ask the Expert, dosen Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan dari Unit Matakuliah Pengembangan Kepribadian Universitas Atma Jaya Yogyakarta (MPK UAJY), Roberto Reno Sitepu menegaskan, bahwa kasus Taufik Hidayat seharusnya menjadi alarm keras bagi masyarakat. Di sinilah lingkungan sekitar memegang peran yang krusial.
Dengan menumbuhkan kembali refleksi moral, kita tidak bisa lagi bersikap pasif dan menganggap kekerasan ekstrem adalah urusan hukum semata. Lambatnya intervensi sosial, dapat memberikan ruang dan waktu suatu tindak kejahatan untuk terus tumbuh dan semakin brutal.
Tonton video wawancara kami di sini:
Tonton video-video seputar sains menarik lainnya hanya di channel YouTube dan TikTok The Conversation Indonesia, jangan lupa ikuti dan berlangganan sekarang juga!
Klik di sini:





Comments are closed.