Mon,24 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun

Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun

jangan-sentuh,-burung-endemik-papua-ini-beracun
Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun
service

Di alam, warna mencolok sering menjadi tanda bahaya. Pada pitohui, burung endemik Papua, peringatan itu bukan sekadar isyarat. Kulit dan bulunya benar-benar mengandung racun yang dapat mengusir predator maupun parasit. Ironisnya, kemampuan bertahan hidup yang unik ini tidak membuat pitohui aman dari ancaman manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, burung “beracun” tersebut justru semakin sering ditemukan di pasar burung dan platform jual beli daring. Keunikan pitohui terletak pada racun yang terdapat di kulit dan bulunya. Burung ini mengandung neurotoksin kuat yang membantu melindungi tubuhnya dari parasit, seperti kutu dan caplak, sekaligus menghalau predator. Saat disentuh manusia, racun tersebut dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan menimbulkan sensasi seperti reaksi alergi. Meski demikian, racun ini tidak menghalangi minat para kolektor, karena pitohui memiliki suara kicauan yang keras dan merdu. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Bird Conservation International (Desember 2024) menunjukkan perubahan cukup mencolok. Selama dua dekade, antara 1994 hingga 2014, pitohui nyaris tidak pernah ditemukan dalam perdagangan burung kicau. Namun sejak 2015, spesies ini mulai bermunculan di pasar burung dan media sosial. Hingga 2023, peneliti mencatat sedikitnya 113 individu dijual di 12 pasar burung serta 199 individu diperdagangkan secara daring. Dari jumlah itu, 54 individu merupakan pitohui kepala hitam (Pitohui dichrous), spesies yang dikenal paling beracun. Mengapa pitohui tiba-tiba diminati? Salah satu penyebabnya adalah krisis burung kicau di Indonesia. Banyak spesies favorit penghobi semakin langka akibat perburuan berlebihan, sehingga pasar terus mencari “pengganti” baru. Pitohui kemudian dipasarkan dengan nama dagang yang lebih menarik, seperti “cucakrawa Papua”, memanfaatkan popularitas cucakrawa asli yang kini semakin…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.