Pulau Jawa telah kehilangan harimau jawa. Kini, hanya satu kucing besar yang masih menjadi penguasa hutan: macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Di tengah pulau yang menjadi rumah bagi lebih dari 150 juta manusia, predator ini ternyata masih mampu bertahan. Namun, kemampuan adaptasi yang luar biasa itu memiliki batas. Salah satu fakta menarik tentang macan tutul jawa adalah statusnya yang sangat istimewa. Ia merupakan satu dari sembilan subspesies macan tutul yang diakui di dunia dan hanya ditemukan di Pulau Jawa. Meski secara fisik tampak mirip dengan macan tutul dari Afrika atau India, perbedaan di antara mereka baru benar-benar terlihat melalui analisis genetik. Macan tutul jawa juga menyimpan teka-teki lain yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira macan kumbang adalah spesies berbeda. Padahal, macan kumbang hanyalah macan tutul jawa yang mengalami melanisme, kelainan genetik yang membuat bulunya tampak hitam. Jika diperhatikan dari dekat, corak tutulnya tetap terlihat samar. Menariknya lagi, sifat melanisme ini diduga menjadi hasil adaptasi terhadap hutan tropis Jawa yang teduh, sekaligus menjadi ciri khas yang tidak ditemukan pada subspesies macan tutul lain. Kemampuan bertahan hidup satwa ini juga mengesankan. Tidak seperti predator yang bergantung pada satu jenis mangsa, macan tutul jawa adalah pemburu oportunis. Tikus, burung, monyet, rusa, hingga babi hutan dapat masuk ke dalam menu makanannya. Fleksibilitas inilah yang membuatnya mampu bertahan di habitat yang terus berubah. Namun, kehebatan tersebut tidak cukup untuk melawan ancaman terbesar: hilangnya hutan. Menurut Hendra Gunawan, Peneliti Utama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), populasi macan tutul jawa…This article was originally published on Mongabay
Setelah Harimau Jawa Punah, Apakah Macan Tutul Mengalami Nasib yang Sama?
Setelah Harimau Jawa Punah, Apakah Macan Tutul Mengalami Nasib yang Sama?





Comments are closed.