Ringkasan eksekutif industri tembakau terus menyebarluaskan narasi bahwa budi daya tembakau merupakan usaha yang menguntungkan. Selain itu, kebijakan pengendalian tembakau akan berdampak buruk terhadap hasil budi daya serta penghidupan petani tembakau.
Namun, komunitas pengendalian tembakau global telah memperoleh wawasan penting mengenai penghidupan petani dan ekonomi politik kebijakan tembakau—yang didukung oleh studi-studi mendalam selama dua dekade terakhir—yang membantah klaim-klaim itu.
Temuan ini terungkap dalam hasil kajian akademis “Aspek Ekonomi Pertanian Tembakau di Indonesia: Survei Petani Tembakau Gelombang Ke-4” yang dikeluarkan pada Juli ini.
Studi ini melibatkan lima akademikus dari pelbagai belahan duni. Mereka adalah Gumilang Aryo Sahadewo dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada dan Jeffrey Drope, Bloomberg School of Public Health, Johns Hopkins University.
Ada juga Firman Witoelar, Crawford School of Public Policy, Australian National University; Qing Li, School of Economics, University of Cape Town; dan, Raphael Lencucha, School of Physical and Occupational Therapy, McGill University.
Salah satu temuan survei adalah mantan petani tembakau memperoleh pendapatan lebih tinggi dari tanaman non-tembakau selama musim kemarau. Hasil usaha tani yang lebih baik pada mantan petani tembakau ini didorong oleh diversifikasi pendapatan yang lebih baik dibandingkan petani tembakau saat ini.
Beberapa studi ini menggunakan data survei rumah tangga sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memahami penghidupan pekerja di sektor tembakau. “Selain itu, melakukan analisis mendalam terhadap konteks kebijakan melalui wawancara dan analisis dokumen secara sistematis.”
Para peneliti telah menganalisis penghidupan petani tembakau di negara-negara penghasil tembakau seperti Indonesia, Filipina, Zambia, Kenya, Zimbabwe, Malawi, dan Bangladesh. Temuan-temuan ini memberikan wawasan mengenai penghidupan petani tembakau, biaya budi daya tembakau, prevalensi pertanian kontrak, dan alasan petani menanam tembakau.
Selain itu, perihal alasan petani beralih dari budidaya tembakau, tingkat kemiskinan di kalangan petani tembakau, serta dampak budidaya tembakau terhadap pendapatan rumah tangga petani.
Pada umumnya, terlepas dari konteks negaranya, rumah tangga petani tembakau hanya memperoleh keuntungan kecil dan bahkan sering kali merugi. Terutama ketika kondisi cuaca tidak mendukung budidaya tembakau.
“Perusahaan sering kali memberikan pinjaman berbunga tinggi kepada rumah tangga petani dalam bentuk sarana produksi dan modal. Namun, karena rendahnya harga jual daun tembakau di akhir musim, para petani kerap kesulitan melunasi pinjaman itu.”
Tingginya biaya produksi dan rendahnya hasil pendapatan sering menjerumuskan petani ke dalam siklus utang dan ketergantungan. Bahkan ketika petani tembakau berhasil mencetak keuntungan, mantan petani tembakau cenderung memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik berkat diversifikasi sumber pendapatan utama yang lebih baik.
Laporan ini menyajikan temuan dari gelombang keempat pengumpulan data—sebagai kelanjutan dari tiga gelombang sebelumnya—dalam Studi Petani Tembakau di Indonesia. Laporan ini menganalisis dinamika usaha tani tembakau dan penghidupan petani dari waktu ke waktu.
Salah satu aspek unik dari studi ini adalah analisis perbandingan antara petani tembakau aktif dan mantan petani tembakau. Studi Gelombang 4 berhasil melacak kembali sebagian besar mantan petani tembakau dari gelombang survei sebelumnya.
Sehingga memungkinkan tim peneliti untuk menganalisis kumpulan data panel yang kaya informasi. Kumpulan data ini memungkinkan kami menganalisis penghidupan petani tembakau maupun mantan petani tembakau pada tahun-tahun dengan kondisi cuaca yang kurang menguntungkan (Gelombang 1).
Selain itu, tahun-tahun dengan kondisi cuaca dan curah hujan yang relatif baik (Gelombang 2, 3, dan 4). “Studi Gelombang 4 ini juga dilaksanakan selama pandemi Covid-19, yang menghadirkan dimensi ekonomi kompleks tambahan.”
Baca juga
Survei Petani Tembakau: Mantan Peroleh Pendapatan Lebih Tinggi dari Tanaman Non-tembakau





Comments are closed.