Dengarkan artikel ini:
Willie Salim kini akrab dengan ulama hingga jenderal. Akankah ia menjadi Raffi Ahmad berikutnya?
“The weak ties are more likely to link members of different small groups than are strong ones.”
– Mark Granovetter, “The Strength of Weak Ties” (1973)
Cupin memperhatikan satu hal ganjil ketika menonton potongan video di ponselnya. Seorang kreator konten yang biasa memborong dagangan pedagang kecil kini muncul di ruang-ruang yang jauh dari dunia hiburan.
Ia melihat Willie Salim berdiri berdampingan dengan pemuka agama. Tak lama berselang, nama yang sama muncul di panggung yang diselenggarakan institusi kepolisian.
Bagi Cupin, ini bukan sekadar kebetulan seorang selebritas yang sedang naik daun. Ada pola yang lebih dalam, dan pola itu terasa akrab.
Willie Salim mampu masuk ke berbagai kalangan yang biasanya tidak saling bicara. Ia dekat dengan Ustaz Derry Sulaiman dalam misi kemanusiaan ke wilayah pengungsian Palestina melalui Delegasi Merah Putih.
Pada saat yang berbeda, ia hadir di ekosistem acara resmi negara. Kapolri Cup 2026 di Indonesia Arena, yang turut dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan sejumlah petinggi kementerian serta pimpinan tentara, menjadi panggung tempat figur-figur digital semacam Willie kian sering terlihat.
Cupin menyadari bahwa kemampuan berpindah lintas kalangan inilah yang membuat Willie istimewa. Ia bisa duduk di meja ulama, lalu pindah ke meja jenderal, kemudian kembali ke meja puluhan juta penontonnya.
Tiga meja yang biasanya terpisah itu seolah menemukan titik temu pada satu sosok. Kemampuan menyatukan dunia yang berbeda, menurut Cupin, jauh lebih berharga daripada sekadar ketenaran.
Cupin membandingkannya dengan citra publik yang selama ini melekat pada Willie. Ia dikenal lewat konten memborong dagangan dan aksi berbagi, sebuah kesan kedermawanan yang membuatnya kerap dijuluki “MrBeast Indonesia”.
Citra sosial itu, pikir Cupin, adalah kunci pembuka pintu. Kedermawanan memberi Willie legitimasi moral yang sulit dibeli dengan iklan, dan legitimasi itulah yang membuatnya diterima di ruang keagamaan maupun kenegaraan.
Namun, Cupin belum sepenuhnya yakin. Popularitas dan akses adalah dua hal yang berbeda, dan tidak semua yang populer otomatis memiliki pengaruh.
Ia pun mulai bertanya-tanya dalam hati. Apakah kedekatan Willie dengan berbagai kalangan ini benar-benar sebuah modal politik yang sedang terbentuk? Dan jika benar, apakah pola ini pernah kita saksikan sebelumnya pada sosok lain?
Modal Politik Willie Salim dan Bayang-Bayang Raffi
Cupin teringat satu nama yang lintasannya sudah lebih dahulu selesai, yaitu Raffi Ahmad. Sejumlah media kerap menyebut Raffi sebagai konektor yang dekat dengan banyak pejabat di lingkaran kekuasaan.
Raffi berpindah dari panggung hiburan, ke dunia usaha, hingga akhirnya dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni pada Oktober 2024. Lintasan itu memperlihatkan bagaimana popularitas bisa dikonversi menjadi posisi resmi.
Cupin lalu teringat gagasan sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Dalam khazanah pemikirannya soal modal sosial, nilai seseorang diukur dari jaringan hubungan yang bisa ia mobilisasi kapan saja.
Menurut kerangka Bourdieu, ada proses yang disebut konversi kapital. Modal budaya berupa popularitas dapat diubah menjadi modal sosial berupa akses, lalu berpotensi menjadi modal politik berupa pengaruh.
Willie Salim, di mata Cupin, sedang berada di tengah proses konversi itu. Dengan puluhan juta pengikut lintas platform, ia telah memegang modal budaya yang besar.
Cupin juga teringat tesis sosiolog Amerika, Mark Granovetter. Dalam tulisannya yang termasyhur, “The Strength of Weak Ties”, Granovetter berargumen bahwa pengaruh dan peluang justru mengalir paling deras melalui ikatan lemah yang menjembatani kelompok-kelompok berbeda.
Willie, pikir Cupin, adalah kolektor ikatan lemah lintas dunia dalam jumlah luar biasa banyak. Ia menyambungkan audiens digital, otoritas keagamaan, dan institusi negara dalam satu tubuh yang sama.
Cupin bahkan menakar dari sisi jangkauan mentah. Pada sebagian platform, basis pengikut Willie berada pada kelas yang setara, bahkan pada titik tertentu melampaui, tokoh yang kini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden.
Artinya, modal budaya itu sudah tersedia di tangan Willie. Yang membedakannya dari Raffi bukan lagi ukuran audiens, melainkan tahap konversi jaringannya menuju ranah kekuasaan.
Fenomena ini pun bukan khas Indonesia. Ilmuwan politik John Street dari University of East Anglia telah lama memetakan gejala celebrity politics, yaitu ketika selebritas menjadi perwakilan simbolik yang mengisi kekosongan kepercayaan terhadap politisi konvensional.
Cupin bahkan membayangkan skala yang lebih ekstrem. Volodymyr Zelensky di Ukraina berpindah dari komedian layar kaca menjadi presiden, sebuah bukti bahwa konversi modal budaya ke modal politik penuh benar-benar mungkin terjadi.
Meski demikian, Cupin tahu Willie belum sampai ke tahap itu. Raffi telah menyeberangi jembatan menuju posisi formal, sedangkan Willie baru pada fase membangun jembatannya.
Di titik inilah rasa penasaran Cupin memuncak. Jika modal sosial Willie terus tumbuh, ke arah mana ia akan bermuara? Dan apakah setiap konektor pada akhirnya harus berujung pada jabatan resmi seperti Raffi?
Masa Depan Politik Willie Salim, Berakhir Seperti Raffi?
Cupin mencoba membentangkan beberapa skenario di kepalanya. Skenario pertama adalah replikasi penuh, yaitu Willie mengikuti jejak Raffi hingga masuk ke dalam struktur resmi negara.
Skenario kedua lebih moderat. Willie tetap menjadi mitra strategis negara dan korporasi tanpa memegang jabatan, cukup sebagai jembatan komunikasi menuju generasi muda.
Skenario ketiga adalah kemungkinan ia tetap murni sebagai kreator. Modal sosialnya tidak dikonversi ke ranah politik, melainkan sepenuhnya diarahkan pada bisnis dan aktivitas sosial.
Cupin menyadari bahwa ketiga skenario itu sama-sama masuk akal. Sejarah para konektor memperlihatkan bahwa lintasan mereka tidak pernah tunggal, melainkan bercabang sesuai konteks dan pilihan yang diambil.
Untuk menimbang skenario-skenario itu, Cupin meminjam konsep soft power dari Joseph Nye. Dalam bukunya Soft Power: The Means to Success in World Politics, Nye menjelaskan bahwa daya tarik lebih efektif daripada paksaan dalam membangun pengaruh.
Ketika sebuah institusi negara menghadirkan kreator digital dan ekosistem esports untuk mendekati anak muda, yang sedang bekerja adalah daya tarik itu. Negara meminjam modal budaya kreator untuk memperkuat komunikasinya di ruang yang paling dihuni generasi muda.
Bagi Cupin, ini adalah tata kelola komunikasi publik yang adaptif. Ajang seperti Kapolri Cup 2026 dengan tagline Dream to Become memperlihatkan negara yang percaya diri hadir di ruang digital untuk membina talenta dan menyampaikan pesan positif.
Namun, Cupin tidak lupa pada sisi rapuh dari arketipe ini. Modal sosial yang dibangun di atas kepercayaan publik bisa naik cepat, tetapi juga bisa turun cepat.
Ia teringat bahwa Willie sendiri pernah tersentuh kontroversi. Legitimasi moral seorang konektor selalu bergantung pada konsistensi, dan itu bukan perkara mudah untuk dijaga.
Maka dari itu, Cupin menahan diri dari kesimpulan yang tergesa-gesa. Apakah Willie Salim adalah Raffi Ahmad 2.0? Jawaban jujurnya, ia memiliki bahan baku yang sama, tetapi belum menempuh perjalanan yang sama.
Pada akhirnya, Cupin memahami bahwa yang ia saksikan bukanlah kisah satu individu yang beruntung, melainkan sebuah pola struktural. Di era ketika kepercayaan mengalir melalui layar, negara dan pasar sama-sama membutuhkan sosok penghubung, dan Willie Salim hanyalah edisi terbarunya. Arketipe konektor akan terus mereproduksi dirinya, sementara lintasan masing-masing sosok tetap terbuka untuk ditentukan oleh pilihan, waktu, dan kepercayaan publik yang menyertainya. (A43)





Comments are closed.