Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Dedi Mulyadi sempat mengalahkan Prabowo dalam satu simulasi elektabilitas berkat linimasa TikTok, tapi kalau modal utamanya cuma detik-detik perhatian yang gampang berpindah, seberapa jauh angka itu bisa dipercaya sampai 2029?
Nama Dedi Mulyadi, alias KDM, makin sering disebut sebagai kandidat alternatif Pilpres 2029: bukan lewat rapat koalisi, tapi lewat linimasa TikTok yang ditonton puluhan juta kali.
Riset soal ekonomi perhatian (attention economy), cabang teori komunikasi yang menganggap perhatian manusia sebagai sumber daya langka di tengah banjir informasi, mencatat rata-rata Gen Z hanya sanggup fokus sekitar 8 detik sebelum berpindah, sementara milenial sedikit lebih lama, sekitar 12 detik.
Kedua generasi ini bukan kelompok kecil dalam peta pemilih 2029, karena data KPU pertengahan 2026 menempatkan Gen Z dan milenial sebagai 61,54 persen dari total pemilih terdaftar, setara sekitar 131,9 juta orang.
Gen Z sendiri diperkirakan mencakup lebih dari 74 juta orang, atau sekitar 27,94 persen populasi Indonesia, kelompok yang cukup besar untuk membuat siapa pun yang menguasai linimasa mereka otomatis punya keuntungan struktural menjelang 2029.
Premisnya sederhana: begitu perhatian jadi barang langka dan pemegangnya mayoritas pemilih, kekuatan politik bergeser dari siapa yang punya program paling lengkap ke siapa yang paling piawai merebut detik-detik terbatas itu sebelum jempol pembaca pindah scroll.
Gaya blusukan KDM yang direkam pendek, personal, dan penuh momen “manusiawi” (menyapa anak bolos sekolah, bertemu bocah pengamen di pinggir sawah) tampak seolah dirancang persis untuk logika itu.
Tapi apakah kemenangan di detik-detik pertama linimasa benar-benar bisa diterjemahkan jadi kemenangan di bilik suara 2029?
Atau popularitas yang dibangun di atas ekonomi perhatian punya masa kedaluwarsa yang lebih pendek dari yang disadari banyak orang?
Panggung Politik Pindah ke For You Page
Klaim paling langsung adalah bahwa strategi konten KDM memang terbukti bekerja dalam skala besar.
Berbagai liputan media mencatat kumpulan videonya di TikTok sudah ditonton lebih dari 96 juta kali, angka yang sulit dicapai lewat kanal komunikasi politik konvensional.
Angka sebesar itu bukan kebetulan, karena format itu persis mengisi kekosongan yang selama ini gagal diisi komunikasi politik formal.
Riset Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 dari IDN Research Institute (disusun dari 628 responden, terdiri atas 279 milenial dan 349 Gen Z) menemukan 86,9 persen anak muda menilai komunikasi pemerintah di media sosial belum efektif.
Keluhan utamanya soal respons yang lambat dan tidak nyambung dengan isu publik yang sedang ramai dibicarakan.
Riset yang sama mencatat anak muda lebih percaya komunikasi yang disertai bukti konkret dan relevan dengan keseharian mereka, ketimbang sekadar pernyataan resmi berbahasa birokrasi.
Di titik itulah konten KDM menang, karena formatnya informal, personal, dan terasa “hadir langsung”: persis lawan dari komunikasi berjarak ala rilis pers.
Keunggulan di linimasa itu mulai terbaca di angka elektabilitas, meski dengan sebaran yang lebar antar lembaga survei.
Salah satu simulasi SMRC pada Juli 2026 bahkan sempat menempatkan KDM di angka 35 persen, jauh melampaui Prabowo yang ada di kisaran 14,5 persen pada simulasi itu.
Hasil itu jadi outlier dibanding sejumlah survei lembaga lain yang tetap menempatkan Prabowo di posisi teratas, meski dengan margin yang jauh lebih sempit dari periode-periode sebelumnya.
Pola serupa muncul di simulasi cawapres, dengan KDM sempat unggul atas Gibran Rakabuming Raka pada kisaran 23,9 persen berbanding 13,7 persen.
Sementara itu hampir 38,8 persen responden masih belum menentukan pilihan cawapres, sinyal bahwa kursi itu masih jadi rebutan terbuka menjelang 2029.
Tapi keunggulan di linimasa itu ada batasnya, karena riset IMGR 2027 yang sama juga mencatat 34,5 persen Milenial dan Gen Z langsung curiga begitu tokoh publik mengangkat isu yang mereka pedulikan.
Kecurigaan itu muncul karena tindakan semacam itu kerap dinilai sebagai upaya membangun citra semata, bukan keberpihakan yang tulus.
Riset yang sama bahkan mencatat 62,6 persen Milenial dan Gen Z bersikap skeptis begitu sentimen nasionalisme dipakai untuk kepentingan politik, sinyal bahwa audiens ini semakin sulit dipuaskan lewat narasi emosional semata.
Hanya 31,9 persen responden yang mengaku tetap fokus pada substansi isu, terlepas dari siapa yang menyampaikannya.
Artinya, mayoritas audiens yang berhasil direbut KDM sebenarnya masih menilai berdasarkan pembawa pesan, bukan isi pesan yang disampaikan.
Kalau dibaca lewat kacamata modal politik konvensional, keunggulan Prabowo di berbagai survei tetap bersandar pada sumber yang berbeda sama sekali: kendali koalisi dan mesin partai yang terbangun bertahun-tahun, bukan viralitas konten mingguan.
Tapi kalau modal utama KDM adalah perhatian yang gampang berpindah, seberapa jauh angka elektabilitas hari ini benar-benar mencerminkan preferensi yang solid?
Atau publik cuma sedang “berhenti sejenak” di kontennya, sebelum jempol berpindah ke isu viral berikutnya?
Kenapa Modal Viral Gampang Menguap?
Modal politik konvensional (patronase, jaringan elite, mesin partai) punya sifat akumulatif, dibangun bertahun-tahun dan tidak mudah runtuh dalam semalam.
Modal berbasis ekonomi perhatian punya sifat sebaliknya: ia harus terus-menerus direbut ulang di setiap unggahan, karena algoritma dan mood publik bisa berubah secepat tren berganti.
Ini yang membuat posisi KDM secara struktural lebih rapuh dibanding yang terlihat dari satu-dua simulasi survei yang kebetulan menguntungkannya.
Temuan bahwa sepertiga Milenial dan Gen Z otomatis curiga pada tokoh publik yang mengangkat isu adalah petunjuk paling jelas soal ini.
Perhatian yang direbut hari ini tidak otomatis berubah jadi kepercayaan, apalagi jadi suara yang benar-benar tercoblos di kotak suara 2029.
Persoalan ini bukan soal kurang modal atau kurang tim media sosial, karena ini soal genre.
Konten yang dirancang untuk memenangkan 8 detik pertama linimasa memang dirancang untuk digantikan oleh apa pun yang memenangkan 8 detik berikutnya.
Prabowo, sebaliknya, punya bantalan yang tidak bergantung pada siklus viral mingguan, sehingga fluktuasi perhatian publik tidak langsung mengguncang posisinya.
KDM tidak punya bantalan semacam itu, dan itu berarti setiap simulasi survei yang menguntungkannya berpotensi jadi puncak sementara, bukan tren yang stabil.
Demokrasi yang mesin elektoralnya makin bersandar pada ekonomi perhatian akan selalu punya front-runner yang bisa berganti dalam semalam, dan pertanyaan sesungguhnya menjelang 2029 bukan lagi sekadar siapa yang akan menang, melainkan jenis demokrasi seperti apa yang sedang dibangun Indonesia ketika kemenangan ditentukan oleh siapa yang paling lama bertahan di layar. (R100)





Comments are closed.