Mubadalah.id – Beberapa waktu lalu, sempat beredar video penyiksaan seekor anjing cantik bernama Wang-wang dan keempat anaknya di threads. Tak butuh waktu lama, video itu segera viral dan mendapat respon serta komentar dari netizen hingga jutaan kali.
Saya sendiri tidak sanggup melihat video penyiksaan hewan malang tersebut selama satu setengah jam lamanya. Hanya dengan membaca cerita kronologinya, hati saya bergetar.
Wang-wang adalah anjing betina yang sedang berbahagia menyusui ketiga anaknya yang bahkan belum bisa membuka mata dengan sempurna. Lalu, datanglah keempat anak laki-laki yang mulai menyiksa, memukuli, mencongkel matanya, membunuh ketiga anaknya, dan membakarnya hidup-hidup.
Ia masih bertahan selama satu setangah jam dengan tubuh terbakar. Ia sempat mendekati anaknya dan menjilatinya. Tak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah memastikan anak-anaknya telah mati.
Sungguh perbuatan yang sangat tak masuk di akal. Bagaimana mungkin seorang anak memiliki jiwa sebengis itu. Mereka sengaja menyiksa hewan, merekam, dan tertawa selama proses kejam tersebut. Mereka menganggap penderitaan hewan lain adalah hiburan baginya.
Kejadian itu berlangsung di sebuah desa di Cina. Setelah diusut netizen, ternyata kebiasaan menyiksa hewan itu sudah berlangsung sekian lama di desa tersebut. Bahkan, kabarnya orang tua dari anak-anak tersebut kembali membakar tiga anak kucing sebagai bentuk protes sebab anak-anaknya dihujat di dunia maya. Mereka mengancam akan terus melakukan kekerasan terhadap hewan jika berita tentang keempat anaknya tidak berhenti diviralkan di internet.
Pelanggaran Penyiksaan Hewan
Sayangnya, setelah berita ini viral, tak ada tindak lanjut berupa hukuman yang bermakna bagi pelaku kekerasan pada hewan. Secara resmi mereka hendak dikirim ke sekolah pembinaan. Akan tetapi, berdasarkan laporan netizen, mereka sebenarnya hanya di rumah sambil menunggu kasus ini reda.
Cina memang belum memiliki hukum yang sah tentang pelanggaran penyiksaan hewan. Sehingga kasus ini belum tertangani dengan baik. Apalagi pelakunya adalah pelajar yang masih berusia 14 tahun. Mereka masih di bawah umur dan dianggap belum layak menerima sangsi hukum.
Namun, harusnya kasus ini membuat kita berpikir keras. Bagaimana mungkin anak-anak di bawah umur yang masih berusia belasan tahun tega menyiksa, membakar hewan hidup-hidup, dan membunuh anaknya di depan matanya?
Bagaimana bisa mereka tertawa di atas penderitaan makhluk hidup lain? Apakah di dalam hatinya tak ada rasa iba sedikitpun? Kemanakah rasa kemanusiaan yang harusnya ada di dalam sanubari mereka? Apakah telah menguap begitu saja hingga tak tersisa sedikitpun belas kasihan terhadap sesama makhluk Tuhan yang sama-sama merasakan sakit?
Anak-anak terlahir suci dan bersih. Orang tuanyalah yang mengisi dan memolesnya, entah menjadi sosok pribadi seperti apa. Kondisi sosial di lingkungan anak turut mempengaruhi perkembangan karakter anak. Jika ia tumbuh di lingkungan yang baik, yang semua anak-anaknya berangkat ke sekolah di pagi hari, lalu berangkat mengaji di sore hari, dan menutup malam dengan jamaah sholat maghrib misalnya, maka dapat dipastikan ia akan mudah tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik pula.
Lain halnya jika anak tumbuh di lingkungan yang sebaliknya, lingkungan orang yang tak gemar beribadah misalnya. Ketika membolos sekolah, melawan guru, dan pulang larut malam menjadi kebiasaan, ia akan belajar bahwa tak apa-apa melakukan semua itu.
Sistem Pengasuhan Bersama
Memang benar ungkapan ‘It’s takes a village to raise a child’. Butuh satu desa untuk mendidik anak dan membesarkannya. Hal ini pula yang dibahas Kalis Mardiasih dalam buku Parenting di Negara Gagal. Menurutnya, sistem pengasuhan bersama justru yang paling berhasil mendidik dan membentuk karakter anak. Sebab, tak mungkin orang tua bisa ada di sisi anak selama 24 jam.
Saat orang tua harus bekerja atau meninggalkan rumah untuk urusan sosial kemasyarakatan lainnya, anak akan bersama kakek, nenek, bibi, atau mungkin tetangganya. Saat itulah anak-anak melihat dan mengamati karakter orang dewasa yang ada di sekitarnya. Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka akan dengan cepat belajar menyesuaikan dan menirukan bagaimana orang-orang di sekitarnya berperilaku.
Karakter yang tumbuh dalam diri seorang anak remaja tidak muncul dalam semalam saja. Rangkaian pengalaman hidup, didikan orang tua, dan pergaulan dengan kawan-kawan sebayanya membentuk kepribadian mereka.
Di lain waktu saya juga pernah melihat sebuah video yang beredar di instagram tentang seorang ibu muda yang makan di sebuah restoran. Ia menyisihkan beberapa potong daging dan sebagian nasi untuk memberi makan seekor anjing liar.
Anjing kurus itu digiring ke sisi lain agar berjauhan dengan rumah makan dan memberikan makanan itu di sana. Ibu muda itu melakukannya di depan anak-anaknya.
Mendidik Anak
Tentu dari peristiwa ini kita sadar, yang ia inginkan adalah anak-anaknya belajar untuk menirunya. Ia ingin anak-anaknya tahu, bahwa memberi makan hewan yang kelaparan adalah sebuah kebajikan.
Dengan cara itu pula, ia memberi tahu anaknya bahwa rasa kasih sayang tak terbatas hanya pada spesies yang sama saja. Kita tidak akan kekurangan hanya karena berbagi. Justru hati kita akan penuh ketika melihat bantuan kita bermakna bagi makhluk lain.
Harusnya, demikianlah orang tua dan masyarakat di lingkungan sekitar kita mengajarkan kebaikan dan kasih sayang kepada makhluk hidup lain kepada anak-anak kita. Sehingga dengan cara itulah, anak-anak akan paham bahwa mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan tempat tinggalnya.
Anak-anak perlu tahu, apa yang bisa mereka rasakan seperti rasa sakit, senang, cemas, bahagia, juga bisa dialami oleh makhluk hidup di sekitarnya. Sehingga mereka perlu tahu, kesakitan makhluk hidup lain tak boleh menjadi bahan candaan dan hiburan bagi mereka. Karena sejatinya manusia adalah makhluk yang paling besar tanggung jawabnya untuk menjaga bumi seisinya. []





Comments are closed.