Sun,30 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Banjir Nepal-China, 579 Korban Meninggal Dunia, 2.400 Orang Hilang

Banjir Nepal-China, 579 Korban Meninggal Dunia, 2.400 Orang Hilang

banjir-nepal-china,-579-korban-meninggal-dunia,-2.400-orang-hilang
Banjir Nepal-China, 579 Korban Meninggal Dunia, 2.400 Orang Hilang
service

Kathmandu, Arina.idJumlah orang yang dinyatakan hilang akibat banjir dan longsor mematikan yang menerjang Nepal dan wilayah Tibet, China, mencapai lebih dari 2.400 orang. Bencana tersebut terjadi setelah gelombang air dan material longsor menyerupai tsunami menyapu permukiman dan menewaskan ratusan orang.

Hingga Jumat (28/8/2026), tim penyelamat telah menemukan sedikitnya 586 jenazah. Sebagian korban bahkan terbawa arus sungai hingga memasuki wilayah India.

Diberitakan AFP, otoritas penanggulangan bencana Nepal memperbarui daftar orang hilang dengan memasukkan 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air. Sebelumnya, daftar tersebut mencakup pendaki dan peziarah yang melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash di Tibet.

Kerabat korban terus mendatangi rumah sakit di Kathmandu untuk mencari anggota keluarga mereka. Foto dan nama orang yang hilang ditempel di sejumlah dinding rumah sakit.

“Ini sudah hari ketiga dan kami tidak tahu apa-apa. Semoga dia berada di tempat yang aman,” kata Samjhana Thing (27) kepada AFP, merujuk pada saudara laki-lakinya.

“Kami kehilangan segalanya. Dia adalah segalanya bagi kami,” ujarnya.

Dipicu Runtuhnya Gletser
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut bencana tersebut sebagai yang paling mematikan di Nepal sejak gempa bumi 2015. Banjir terjadi setelah runtuhnya gletser yang memicu aliran besar material es dan puing-puing.

Aliran es dan lumpur tersebut kemudian membentuk sejumlah danau besar. Salah satu danau bahkan menjadi ancaman baru bagi tim penyelamat yang tengah mencari korban selamat di wilayah terdampak.

Kepolisian Nepal meminta seluruh tim penyelamat segera berpindah ke lokasi aman setelah menerima informasi bahwa bendungan air kembali jebol di sisi Tibet.

Di wilayah Tibet, China, operasi penyelamatan di kawasan Gyirong yang paling parah terdampak sempat dihentikan pada Jumat karena ancaman banjir susulan. Namun, otoritas setempat kemudian menyatakan kondisi mulai membaik.

Televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan danau yang terbentuk akibat tumpukan material longsor mulai meluap ke arah lokasi tim penyelamat. Namun, ketinggian air kemudian dilaporkan menurun sehingga operasi penyelamatan dapat dilanjutkan.

Operasi penyelamatan disebut “berlangsung secara tertib”.

Presiden China Xi Jinping memimpin rapat mengenai penanganan bencana dan menyatakan Beijing siap membantu operasi darurat Nepal.

Ratusan Orang Terjebak
Tim penyelamat masih berpacu mencari korban selamat di berbagai wilayah terdampak. Kerusakan infrastruktur yang luas membuat persediaan makanan dan air bersih semakin menipis.

Militer Nepal menemukan sejumlah orang yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A. Tim kemudian berupaya membuka akses menuju terowongan untuk mengevakuasi mereka.

“Dua helikopter telah dikerahkan, tetapi situasinya sulit karena bahkan untuk menemukan pintu masuk terowongan saja sangat sulit,” kata juru bicara militer Nepal Raja Ram Basnet kepada AFP.

Sekitar 350 pekerja dan warga telah berhasil dievakuasi dari lokasi tersebut. Namun, lebih dari 100 orang lainnya masih terjebak dan menunggu penyelamatan.

Buddha Tamang, salah seorang pekerja yang berhasil diselamatkan, mengatakan dirinya selamat karena berada di dalam terowongan ketika banjir menerjang.

“Para pejabat senior yang bekerja di sisi lain, mereka semua tersapu banjir,” kata Tamang kepada AFP.

Ia kemudian dievakuasi menggunakan helikopter pada Kamis (27/8/2026) setelah terisolasi selama lebih dari 24 jam.

“Saya Hanya Ingin Anak Saya Kembali”
Bencana tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Para penyintas yang dirawat di rumah sakit darurat masih menunggu kabar mengenai anggota keluarga mereka yang belum ditemukan.

Kula Priya, yang putra sulungnya hilang, mengatakan dirinya kehilangan segalanya ketika gelombang lumpur dan air menerjang.

“Saya tidak peduli dengan harta benda. Saya hanya ingin anak saya kembali. Jika ada di antara kalian yang bisa menyelamatkan anak saya, tolong lakukan untuk saya,” katanya kepada AFP.

Otoritas Nepal pada Jumat melaporkan 579 orang meninggal dunia. Sebanyak 1.924 orang, termasuk 517 warga negara asing, masih belum dapat dihubungi.

Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan data sebelumnya yang mencatat 977 orang hilang.

Di India, otoritas menemukan tujuh jenazah dari sungai yang mengalir dari Nepal. Mereka diduga merupakan korban banjir yang terbawa arus.

Sementara itu, di Tibet, China, sedikitnya tujuh orang meninggal dunia dan 554 lainnya masih hilang, menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua. Otoritas setempat juga mengevakuasi 555 wisatawan yang terjebak dan 499 warga China dari wilayah terdampak.

Peziarah Gunung Kailash Turut Hilang
Puluhan umat Hindu dari berbagai negara termasuk dalam daftar orang hilang. Mereka diketahui sedang melakukan perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash, Tibet.

Sivaranjani Muthunathan (46) sedang bepergian menggunakan bus bersama 56 orang lainnya menuju perbatasan China ketika kendaraan mereka terjebak. Mereka awalnya mengira kondisi tersebut hanya kemacetan lalu lintas.

“Kemudian muncul kabut, asap, sesuatu yang sepertinya tiba-tiba menyelimuti kami,” kata Muthunathan kepada AFP.

Ia merekam video menggunakan ponselnya ketika aliran deras air dan material longsor bergerak ke arah mereka. Kendaraan di sekitar lokasi tersapu arus atau tertimbun lumpur.

“Kami juga satu per satu keluar melalui sisi pengemudi,” ujarnya.

Mereka kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan mendaki sebuah bukit.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.