Indonesia menguasai 47,3% pangsa pasar dunia untuk ekspor batubara termal—kalori rendah, juga sedang—yang jadi primadona untuk bahan bakar pembangkit listrik di kawasan Asia, tetapi, harga jual berada di bawah pasaran (underpricing). Jika berlanjut, kondisi ini akan mengorbankan lingkungan dan perekonomian. Kajian Transisi Bersih bertajuk Reformasi Tata Kelola Ekspor: Mengakhiri Era batubara Underpricing yang rilis Juli lalu menyebut, kondisi underpricing tak hanya bermakna menjual batubara dengan harga murah, tetapi ketika nilai ekspor berada di bawah harga pasar yang wajar, setelah memperhitungkan kualitas, kandungan energi, biaya logistik, syarat pengiriman, dan waktu transaksi. “Sederhananya, harga rendah belum tentu bermasalah. Transaksi tergolong underpriced apabila selisihnya tetap signifikan meski seluruh faktor tersebut telah diperhitungkan,” kata Muhammad Irfan Islami, analis senior Transisi Bersih, saat peluncuran laporan. Penelitian itu menggunakan selisih harga komoditas ini Indonesia dengan indeks acuan dunia, seperti Newcastle Australia 6.000 kcal/kg Net As Received (NAR) yang biasa pasar gunakan untuk batubara kualitas tinggi. Secara teori ekonomi, katanya, dua komoditas energi yang dapat saling menggantikan seharusnya hanya memiliki perbedaan harga yang mencerminkan kualitas, kandungan energi, dan biaya pengangkutan. “Namun yang kami temukan, batubara Indonesia diperdagangkan dengan diskon yang jauh lebih besar daripada sekadar penyesuaian kandungan energinya.” Tim riset juga menganalisis ekspor 20 negara eksportir terbesar, terutama Australia, Rusia, Afrika Selatan, dan Kolombia, sepanjang 2020–2024. Tidak hanya harga per ton, juga mengonversinya ke satuan energi US$ per gigajoule (GJ). Hasilnya, harga ekspor batubara Indonesia secara konsisten berada pada kisaran US$50–60 per ton. Lebih murah ketimbang eksportir lain—dan tetap bertahan, terlepas dari naik-turunnya harga batubara acuan (HBA)…This article was originally published on Mongabay
Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan
Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan





Comments are closed.