Wed,2 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan

Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan

batubara-di-bawah-harga-pasaran-rugikan-ekonomi-dan-lingkungan
Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan
service

Indonesia menguasai 47,3% pangsa pasar dunia untuk ekspor batubara termal—kalori rendah, juga sedang—yang jadi primadona untuk bahan bakar pembangkit listrik di kawasan Asia,  tetapi, harga jual berada di bawah pasaran (underpricing). Jika berlanjut, kondisi ini akan mengorbankan lingkungan dan perekonomian. Kajian Transisi Bersih bertajuk Reformasi Tata Kelola Ekspor: Mengakhiri Era batubara Underpricing yang rilis Juli lalu menyebut,  kondisi underpricing tak hanya bermakna menjual batubara dengan harga murah, tetapi ketika nilai ekspor berada di bawah harga pasar yang wajar, setelah memperhitungkan kualitas, kandungan energi, biaya logistik, syarat pengiriman, dan waktu transaksi. “Sederhananya, harga rendah belum tentu bermasalah. Transaksi tergolong underpriced apabila selisihnya tetap signifikan meski seluruh faktor tersebut telah diperhitungkan,” kata  Muhammad Irfan Islami, analis senior Transisi Bersih, saat peluncuran laporan. Penelitian itu menggunakan selisih harga komoditas ini Indonesia dengan indeks acuan dunia, seperti Newcastle Australia 6.000 kcal/kg Net As Received (NAR) yang biasa pasar gunakan untuk batubara kualitas tinggi. Secara teori ekonomi, katanya, dua komoditas energi yang dapat saling menggantikan seharusnya hanya memiliki perbedaan harga yang mencerminkan kualitas, kandungan energi, dan biaya pengangkutan. “Namun yang kami temukan, batubara Indonesia diperdagangkan dengan diskon yang jauh lebih besar daripada sekadar penyesuaian kandungan energinya.” Tim riset juga menganalisis ekspor 20 negara eksportir terbesar, terutama Australia, Rusia, Afrika Selatan, dan Kolombia, sepanjang 2020–2024. Tidak hanya harga per ton, juga mengonversinya ke satuan energi US$ per gigajoule (GJ). Hasilnya, harga ekspor batubara Indonesia secara konsisten berada pada kisaran US$50–60 per ton. Lebih murah ketimbang eksportir lain—dan tetap bertahan, terlepas dari naik-turunnya harga batubara acuan (HBA)…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.