Wed,2 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Seni dan Musik Jadi Perlawanan Kaum Muda Dadap Hadapi Kerusakan Lingkungan Pesisir

Seni dan Musik Jadi Perlawanan Kaum Muda Dadap Hadapi Kerusakan Lingkungan Pesisir

seni-dan-musik-jadi-perlawanan-kaum-muda-dadap-hadapi-kerusakan-lingkungan-pesisir
Seni dan Musik Jadi Perlawanan Kaum Muda Dadap Hadapi Kerusakan Lingkungan Pesisir
service

Kerusakan ekosistem pesisir mengubah kehidupan masyarakat Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Nelayan semakin sulit memperoleh hasil laut, sementara perempuan harus bekerja lebih keras untuk menjaga ekonomi keluarga. Di tengah kondisi tersebut, generasi muda menyuarakan persoalan kampung melalui musik dan seni. Dadap dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Dahulu, nelayan dapat mencari kerang langsung di alam. Kini, perubahan lanskap pesisir, reklamasi Teluk Jakarta, hilangnya mangrove, serta pencemaran laut membuat kerang semakin sulit ditemukan. Budidaya kemudian beralih menggunakan keramba jaring apung yang dapat dipindahkan saat kualitas air memburuk. Namun, investasi awalnya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mayoritas keramba pun dimiliki pemodal dari luar, sedangkan warga Dadap menjadi buruh budidaya dan pengupas kerang. Ida, salah seorang perempuan Dadap, mampu mengupas 12–15 kilogram kerang per hari. Dengan upah Rp4.000 per kilogram, penghasilannya berkisar Rp50.000–Rp60.000 sehari. Fatimah, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia Tangerang, mengatakan perempuan harus mencari berbagai cara agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bekerja sebagai pengupas kerang, asisten rumah tangga, pengemudi ojek, pedagang keliling, hingga pengolah hasil laut. Ikan yang kurang diminati pasar diolah menjadi kerupuk dan produk UMKM lain. Sebagian keluarga nelayan juga terjerat pinjaman bank keliling dan rentenir. Kesulitan ekonomi semakin berat karena banjir rob membawa lumpur dan sampah ke rumah hampir setiap hari. Perempuan yang seharusnya dapat mencari penghasilan harus menghabiskan waktu membersihkan rumah. Kelelahan fisik dan emosional itu turut memengaruhi hubungan mereka dengan anak. “Ketika anak nangis, tambah ruwet karena saya sudah lelah. Jadi akhirnya dampaknya ke anak juga.”, kata Imah. Kerusakan pesisir juga menekan pendapatan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.