
Di balik hamparan tanah Nusantara, terdapat satu jenis mineral bernilai tinggi yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat luas, yaitu pasir zirkon.
Mineral yang umumnya ditemukan sebagai batuan ikutan (asesoris) pada batuan beku maupun endapan pasir ini memiliki karakteristik fisik yang sangat tangguh. Pasir zirkon dikenal sangat stabil, tahan terhadap suhu tinggi, serta memiliki ketahanan kimia yang kuat.
Karakteristik tahan panas dan stabil inilah yang membuat pasir zirkon menjadi bahan baku vital bagi berbagai sektor manufaktur. Dalam industri keramik dan sanitasi, olahan zirkon digunakan sebagai opacifier atau bahan pembentuk lapisan mengkilap dan putih pada permukaan keramik.
Indonesia beruntung menjadi salah satu negara yang memiliki simpanan pasir zirkon cukup melimpah.
Sebarannya membentang luas mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua, dengan cadangan terbesar berada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, serta Kepulauan Bangka Belitung.
Potensi Besar untuk Industri Dalam Negeri
Meskipun cadangannya melimpah, peran Indonesia dalam perdagangan pasir zirkon dunia saat ini masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan negara produsen utama seperti Australia dan Afrika Selatan.
Sebagian besar kebutuhan pasir zirkon industri lokal justru masih didatangkan dari luar negeri.
Padahal, pasar penyerapan di dalam negeri sangat jelas. Industri keramik dan sanitasi menyerap sekitar 56 persen kebutuhan pasir zirkon nasional, disusul oleh industri pengecoran logam sebesar 20 persen, serta berbagai sektor industri lainnya sebesar 24 persen.
Ketika pasir zirkon mentah diolah di dalam negeri menjadi produk turunan seperti zirkonia atau logam zirkonium, nilai ekonominya akan melonjak drastis dan mampu menyuplai kebutuhan pabrik-pabrik lokal secara mandiri.
Hasilnya, industri dalam negeri bisa semakin kuat dan devisa triliunan rupiah yang selama ini dipakai untuk impor bahan baku dapat diselamatkan.
“Berdasarkan data, 56 persen kebutuhan pasir zirkon nasional ada untuk industri keramik. Inilah yang akan jadi pasar utama yang harus kita usahakan untuk substitusi impor dan hemat devisa sebesar 1,6 triliun,” kata Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN Yuhelda Dahlan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.
Tim Editor





Comments are closed.