Upaya menjaga produktivitas padi di tanah air terus memicu lahirnya berbagai inovasi di tingkat tapak.
Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, para petani bersama peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkumpul untuk mempraktikkan cara baru dalam merawat persawahan. Tujuannya adalah memutus rantai serangan hama wereng batang cokelat tanpa harus merusak ekosistem lingkungan.
Ancaman wereng selama ini menjadi tantangan nyata bagi para petani. Serangan serangga kecil ini tidak hanya mengisap cairan batang hingga tanaman mengering, tetapi juga membawa virus kerdil yang berpotensi menurunkan hasil panen hingga 30 persen.
Di Desa Sidowayah, Polanharjo, Klaten, BRIN mengenalkan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi keberlanjutan sawah warga.
“Perkembangan wereng batang cokelat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari berkurangnya penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu, penanaman padi secara terus-menerus, penggunaan pestisida yang tidak tepat, hingga menurunnya populasi musuh alami,” kata Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN Arlyna Budi Pustika.
Mengandalkan Jamur Alami dan Varietas Unggul Tahan Hama
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah mengubah ketergantungan petani terhadap penggunaan semprotan kimia dosis tinggi. Kebiasaan menggunakan obat kimia secara berlebihan justru terbukti membuat imun hama semakin kuat dan membunuh organisme pemangsa alami di sawah.
Sebagai gantinya, BRIN mengajak petani memanfaatkan agensia hayati berbasis jamur alami seperti Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana sejak awal masa tanam. Jamur ini bekerja secara alami menekan perkembangbiakan wereng tanpa mencemari tanah.
Selain pemanfaatan musuh alami, langkah pencegahan juga diperkuat dengan penggunaan benih varietas tahan hama. Beberapa varietas unggul seperti Inpari 47 WBC, Inpari Gemah, dan Inpari Digdaya disiapkan untuk membantu petani memutus siklus hidup hama secara alami.
“Keberhasilan pengendalian wereng sangat ditentukan oleh penerapan strategi secara terpadu, mulai dari kesepakatan tanam serempak, monitoring populasi, pemanfaatan varietas tahan, hingga menjaga keberadaan musuh alami,” kata Arlyna.
Penguatan di lapangan juga dilengkapi dengan sentuhan teknologi digital. Tim periset BRIN mengenalkan aplikasi khusus bernama Program Komputer Pengidentifikasi Wereng Batang Coklat (YUKE-WBC) yang telah resmi terdaftar dalam hak cipta.
Aplikasi ini dirancang untuk membantu petani mendeteksi keberadaan dan tingkat kepadatan populasi wereng secara presisi di area persawahan.
Melalui perpaduan pengamatan langsung, jadwal tanam yang kompak, serta bantuan teknologi pemantauan digital ini, para petani kini memiliki cara yang lebih akurat dan hemat biaya untuk mengamankan hasil panen gabah mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.
Tim Editor





Comments are closed.