Mubadalah.id – Kejadian ini memang sudah dua tahun yang lalu, meskipun sakitnya tidak pernah berkurang hingga saat ini. Selama menjalani perawatan sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam kandungan, saya sudah berjanji pada diri sendiri. Bahwa nanti, jika saya sudah diberi kekuatan untuk bercerita, saya akan menuliskan bagaimana potret layanan kesehatan yang ramah perempuan itu benar-benar ada, dan berdampak besar bagi seorang ibu.
Saya bukan nakes, saya juga tidak memiliki kepentingan apapun dengan instansi yang saya tuliskan dalam artikel ini. Tulisan ini murni berangkat dari refleksi dan pengalaman, dengan harapan perlakuan serupa bisa diimplementasikan di layanan kesehatan lainnya.
Ibu Hamil dan Segala Resiko yang Menyertai, Termasuk Kematian
Ini adalah kehamilan kedua, setelah 7 tahun penantian di usia saya ke 33. Saya rutin memeriksakan kehamilan setiap bulan sekali. Memasuki usia 7 bulan, dokter spesialis kandungan yang biasa saya datangi, yang juga membantu persalinan anak saya yang pertama, memberikan surat rujukan.
Ia menjelaskan dengan sangat hati hati bahwa saya mengalami placenta previa akreta. Karena plasenta menutupi jalan lahir dan menempel pada rahim, kondisi kehamilan saya tergolong berisiko dan mengharuskan saya dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas lengkap serta dokter obgyn yang berpengalaman.
Akhirnya saya memilih RSUD di Ponorogo, dan tertangani oleh DR. Arif Prijatna, Sp. Og. Beliau menjelaskan dengan bahasa medis yang menenangkan, tidak menakut nakuti, pun tidak mensimplifikasi. Meskipun resiko pendarahannya tinggi, namun saya tidak merasa khawatir ketika jadwal control tiba.
Pagi itu, 29 Februari 2024 adalah jadwal control terakhir sebelum menentukan tanggal operasi Sectio Caesarea atau SC. Dokter memeriksa janin dengan alat USG, mengukur lingkar kepala, memperlihatkan pelekatan placenta dan rahim, hingga sampailah waktunya beliau mendengarkan detak jantung bayi.
“loh bu, ibu kapan terakhir merasa ada gerakan janin? Bapak, bapak ke sini pak” beliau memanggil suami yang posisinya ada di belakang beliau.
Saya masih ingat, pagi sebelum perjalanan ke RSUD saya masih merasakan pergerakan janin. Saya menjawab bahwa saya masih merasakan pagi tadi sebelum ke RSUD.
“bayi ibu sudah meninggal, ibu boleh sedih ibu boleh menangis, tapi ibu tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Ibu sudah berjuang dengan sangat baik, bapak urus administrasi kamar inap, ibu sama saya disini ya”
Afirmasi yang Menenangkan
Suami keluar dari ruangan, menyiapkan administrasi termasuk menyiapkan darah untuk kebutuhan SC, karena resiko pendarahan. Yang saya ingat, saya hanya duduk mematung di samping DR Arif yang sedang memeriksa pasien lainnya.
Sembari mendengarkan pasiennya, beliau menengok ke arah saya yang menangis, dan bilang berulang kali “ibu tidak salah, ibu sudah berjuang, ibu di sini dulu ya”. Saya tidak mendengar beliau melarang saya menangis, iya beliau memberi saya ruang untuk meluapkan sisi emosional saya.
Tanpa harus disalahkan, percayalah bahwa ibu adalah orang yang paling merasa bersalah ketika kandungannya tidak baik baik saja. Afirmasi dari dokter kandungan yang terus mengatakan ibu tidak salah, ibu sudah berjuang, nyata menguatkan hati ibu yang sudah hancur ini. Kalimat itu nampak sederhana, tapi tidak demikian bagi ibu. Karena Ibu merasa dikuatkan, merasa ada banyak orang di sisinya.
Layanan yang Ramah Perempuan
Setelah urusan administrasi selesai, mereka membawa saya keluar ruangan menuju ruang operasi. Di sinilah tagline RSUD Ponorogo yang ramah anak dan perempuan saya rasakan implementasinya. Saya berhusnudzon, nakes yang ada di ruang perawatan dan operasi sudah mengetahui bahwa saya mengalami IUDF atau janin meninggal dalam kandungan. Sepanjang operasi, nakes berkelakar memecah suasana sedih, dan berkali kali bilang “ibu semangat ya, ibu masih muda, ibu sehat!”
Setelah janin mereka keluarkan, perawat meminta pendapat suami, apakah bayi langsung dimandikan dan dikafani, ataukah menunggu saya selesei operasi? Suami memutuskan untuk menunggu saya keluar dari ruang operasi. Selama hampir 1 jam, perawat membiarkan suami memeluk bayi mungil yang sudah tidak bernyawa.
Perawat tidak banyak bertanya, ia memberi ruang bagi suami saya untuk terus memeluk. Perawat tidak pergi, ia beberapa kali menawarkan untuk meletakkan jenazah di atas kasur jika suami merasa capek dan memastikan suami saya kuat dengan menawarkan minuman.
Mereka Diam dan Hadir
Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk memeluk jenazah anak saya, seingat saya ada sekitar 4 perawat perempuan dan 2 perawat pemulasaraan jenazah. Tidak ada satupun yang melarang saya menangis, tidak ada yang bilang sabar, apalagi pernyataan “semoga segera isi lagi ya bu”.
Mereka memberi saya kesempatan untuk meluapkan emosi dan kesedihan. Mereka hanya berdiri dan ikut menangis, sesekali perawat perempuan mengusap tangan saya. Petugas pemulasaraan jenazah juga menunggu, menunggu sampai saya ikhlas melepaskan pelukan dan menyerahkan jenazah untuk dimandikan dan dikafani.
Di ruang pemulihan, mereka memisahkan saya dari ibu lain yang melahirkan berbarengan dengan saya. Mungkin tujuannya agar saya tidak mendengar tangisan bayi yang membuat saya semakin bersedih. Pun demikian di kamar inap, selama tiga hari di rawat, saya hampir tidak pernah mendengar bayi menangis.
Mungkin memang letak kamar saya, sengaja terpilih di ruangan yang jauh dengan riuh tangisan bayi. Saya juga masih ingat, bidan ataupun perawat yang masuk ke kamar, selalu menyapa dengan senyum ceria. “Bagaiman ibu? Sudah baikan? Ibu semangat ya”
Empati sebagai Fondasi Utama
Dari sini, saya mengambil hikmah bahwa empati adalah hal yang utama. Tenaga kesehatan di RSUD Ponorogo tidak hanya menjalankan tugas medis, tetapi juga berusaha memahami posisi pasien.
Dari pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa layanan kesehatan ramah perempuan dan anak tidak hanya ditentukan oleh fasilitas atau kecanggihan sistem. Melainkan berakar pada kualitas relasi antara pemberi layanan dan penerima manfaat. Empati, kemampuan untuk memahami pengalaman perempuan, kerentanan, dan kebutuhan spesifik perempuan tanpa menghakimi menjadi fondasi utama.
Dari empati inilah lahir pelayanan yang totalitas, yakni layanan yang tidak berhenti pada prosedur administratif, tetapi hadir secara utuh, responsif, dan berpihak. Dengan demikian, menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif dan berkeadilan menuntut semua pihak untuk mengubah cara pandang dari sekadar melayani menjadi sungguh-sungguh peduli dalam setiap interaksi. []





Comments are closed.