Thu,9 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Dari Tangan Tuhan Menuju Tangan VAR: Drama Pertandingan Argentina-Mesir

Dari Tangan Tuhan Menuju Tangan VAR: Drama Pertandingan Argentina-Mesir

dari-tangan-tuhan-menuju-tangan-var:-drama-pertandingan-argentina-mesir
Dari Tangan Tuhan Menuju Tangan VAR: Drama Pertandingan Argentina-Mesir
service

Sepak bola selalu hidup dari drama. Itulah sebabnya miliaran orang di seluruh dunia mencintainya. Dalam sembilan puluh menit, seluruh emosi manusia dapat hadir sekaligus: harapan, kecemasan, kegembiraan, kemarahan, bahkan penyesalan. Namun ada satu hal yang membuat sepak bola berbeda dari sekadar permainan biasa, yaitu kepercayaan bahwa hasil pertandingan lahir dari kompetisi yang adil.

Pertandingan antara Argentina dan Mesir di Piala Dunia 2026 kemarin malam (7/7) memperlihatkan bagaimana kepercayaan itu dapat berubah menjadi perdebatan. Pada sebagian besar pertandingan, Mesir tampil disiplin, efektif, dan bahkan sempat unggul dua gol. Namun yang kemudian menjadi perbincangan luas bukan semata-mata kemenangan dramatis Argentina, melainkan beberapa keputusan Video Assistant Referee (VAR) yang dianggap tidak konsisten oleh banyak penonton.

Gol Mesir dianulir setelah VAR menelusuri proses serangan cukup jauh ke belakang. Di sisi lain, ketika kubu Mesir memprotes dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah di kotak penalti, pemeriksaan yang sama tidak dilakukan. Terlepas apakah kedua keputusan itu benar menurut hukum permainan, pertandingan tersebut menyisakan satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada siapa pemenangnya.

Apakah VAR benar-benar telah menghadirkan keadilan, atau justru melahirkan bentuk baru subjektivitas dalam sepak bola modern?

Pertanyaan itu menarik karena sejak awal VAR lahir dengan cita-cita yang sangat mulia. Selama puluhan tahun, sepak bola dipenuhi kesalahan wasit yang mengubah jalannya sejarah. Dunia masih mengingat gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona pada Piala Dunia 1986 yang lolos dari pengamatan wasit. 

Dunia juga masih mengingat gol Frank Lampard ke gawang Jerman pada Piala Dunia 2010 yang jelas melewati garis gawang tetapi tidak disahkan. Masih banyak lagi offside, penalti, dan kartu merah yang keliru karena keterbatasan pandangan manusia.

Teknologi kemudian hadir sebagai jawaban. FIFA memperkenalkan VAR dengan harapan sederhana namun revolusioner: mengurangi kesalahan yang nyata sehingga pertandingan menjadi lebih adil. Harapan publik pun berubah. Jika dahulu orang menerima bahwa wasit bisa salah karena tidak melihat, kini masyarakat berharap bahwa dengan bantuan teknologi kesalahan seperti itu tidak lagi terjadi.

Namun di sinilah paradoks mulai muncul. VAR memang menggunakan kamera, tayangan ulang, dan berbagai sudut pandang yang lebih lengkap daripada mata manusia. Akan tetapi keputusan akhirnya tetap berada di tangan manusia. Yang menentukan apakah suatu insiden layak diperiksa bukan teknologi, melainkan sekelompok wasit di ruang VAR dan wasit utama di lapangan. 

Dengan kata lain, teknologi memang berkembang, tetapi subjektivitas manusia tidak pernah benar-benar hilang.

Dalam praktiknya, FIFA mengenalkan berbagai konsep seperti clear and obvious error serta Attacking Possession Phase (APP). Melalui konsep APP, VAR dapat menelusuri kembali rangkaian penguasaan bola yang berujung pada sebuah gol. Secara teori, jika terdapat pelanggaran dalam fase tersebut, gol dapat dianulir meskipun pelanggaran terjadi beberapa saat sebelumnya.

Secara aturan, mekanisme ini dapat dipahami. 

Namun persoalan terbesar bukan terletak pada ada atau tidaknya aturan tersebut, melainkan pada bagaimana aturan itu diterapkan.

Pertandingan Argentina-Mesir semalam menjadi contoh yang menarik. Banyak penonton mempertanyakan mengapa pada satu kejadian VAR bersedia menelusuri fase serangan cukup jauh ke belakang untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran, sementara pada kejadian lain yang diprotes keras oleh kubu Mesir, pemeriksaan serupa tidak dilakukan. 

Kritik publik sesungguhnya bukan semata-mata ditujukan kepada hasil akhirnya, tetapi kepada standar yang tampak berbeda dalam menggunakan teknologi yang sama.

Dalam ilmu hukum dikenal sebuah prinsip yang sangat penting: justice must not only be done, but must also be seen to be done. Keadilan bukan hanya harus dilaksanakan, tetapi juga harus tampak dilaksanakan. Sebuah putusan yang secara hukum benar sekalipun akan kehilangan legitimasi apabila prosedur menuju putusan tersebut dipandang tidak konsisten oleh masyarakat.

Di sinilah letak persoalan filosofis VAR. Teknologi memang mampu membantu menemukan fakta, tetapi akses terhadap teknologi tersebut tidak dimiliki oleh semua pihak secara seimbang. Pemain tidak memiliki hak meminta pemeriksaan. 

Pelatih tidak memiliki hak meminta pemeriksaan. Bahkan kapten tim pun tidak memiliki hak prosedural untuk memastikan suatu insiden benar-benar ditinjau. Semua bergantung pada keputusan ruang VAR dan wasit.

Ironisnya, teknologi yang semula dihadirkan untuk mengurangi subjektivitas justru tetap berada dalam lingkaran subjektivitas itu sendiri. Yang berubah hanyalah pelakunya, bukan mekanisme distribusi kewenangannya.

Perdebatan ini menjadi semakin menarik apabila dibandingkan dengan beberapa cabang olahraga lain.

Dalam tenis, dikenal sistem challenge. Pada era ketika sistem tersebut masih digunakan secara luas, pemain memiliki hak meminta pemeriksaan ulang terhadap keputusan garis. Wasit tidak berwenang menolak begitu saja permintaan tersebut selama pemain masih memiliki jatah challenge. Teknologi digunakan bukan semata sebagai alat bantu wasit, melainkan sebagai hak prosedural bagi peserta pertandingan.

Kriket bahkan mengembangkan Decision Review System (DRS), sebuah sistem yang memungkinkan pemain meminta peninjauan ulang melalui berbagai teknologi sekaligus, seperti pelacakan bola, ultra edge, dan tayangan lambat. Dalam bola voli dan basket, pelatih juga diberikan kesempatan mengajukan challenge terhadap keputusan tertentu. Jumlahnya memang dibatasi agar pertandingan tetap mengalir, tetapi hak untuk meminta pemeriksaan tetap berada di tangan pihak yang merasa dirugikan.

Perbedaan mendasarnya sangat jelas. Dalam sepak bola, hak memulai pemeriksaan berada pada otoritas pertandingan. Dalam sistem challenge, hak memulai pemeriksaan juga dimiliki oleh peserta pertandingan.

Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang sangat mendasar dalam teori kelembagaan.

VAR dibangun di atas paradigma bahwa wasit tetap merupakan pusat seluruh proses pengambilan keputusan. Teknologi hanyalah alat bantu bagi wasit. Sebaliknya, sistem challenge dibangun di atas paradigma checks and balances. Wasit tetap menjadi pengambil keputusan terakhir, tetapi peserta pertandingan diberi hak untuk meminta proses pemeriksaan berlangsung ketika mereka merasa terdapat kekeliruan yang berpotensi menentukan hasil pertandingan.

Dengan demikian, teknologi tidak lagi hanya memperkuat kewenangan wasit, melainkan juga memperkuat hak peserta pertandingan memperoleh keadilan prosedural.

Gagasan ini sesungguhnya tidak asing dalam dunia hukum modern. Negara demokratis tidak hanya mengenal hakim yang independen, tetapi juga menyediakan mekanisme banding, kasasi, peninjauan kembali, hingga hak warga negara untuk menggugat keputusan pemerintah. Semua mekanisme tersebut lahir dari satu kesadaran sederhana: tidak ada satu pun otoritas yang boleh memonopoli akses menuju keadilan.

Pertanyaannya, mengapa prinsip serupa belum sepenuhnya hadir dalam sepak bola modern? Bayangkan apabila setiap tim diberi dua kesempatan challenge selama pertandingan. Ketika merasa terdapat pelanggaran yang sangat menentukan, kapten atau pelatih dapat meminta pemeriksaan VAR. 

Wasit tetap menjadi pihak yang mengambil keputusan akhir setelah melihat tayangan. Apabila challenge terbukti benar, jatah tetap dimiliki. Sebaliknya, apabila keliru, jatah berkurang.

Model seperti ini tidak akan membuat pertandingan berhenti setiap saat karena jumlah challenge dibatasi. Namun yang lebih penting, setiap tim memperoleh hak prosedural yang sama untuk mengakses teknologi.

Pada titik inilah diskusi tentang VAR seharusnya bergerak naik. Kita tidak lagi memperdebatkan apakah satu pertandingan dimenangkan secara adil atau tidak. Kita mulai mempertanyakan apakah desain kelembagaan VAR sudah benar-benar memenuhi prinsip keadilan prosedural.

Teknologi tidak pernah sepenuhnya netral. Keadilan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat, tetapi juga oleh siapa yang berhak menggunakannya. Ketika akses terhadap teknologi hanya dimonopoli oleh otoritas tertentu, maka ruang bagi kecurigaan akan selalu ada, betapapun baik niat awal sistem tersebut.

Sepak bola modern membutuhkan lebih dari sekadar kamera beresolusi tinggi dan ruang VAR yang dipenuhi monitor. Sepak bola membutuhkan tata kelola yang mampu menghadirkan rasa keadilan. Sebab pertandingan bukan hanya tentang mencari siapa yang menang, melainkan juga memastikan bahwa setiap tim memperoleh kesempatan yang sama untuk membela haknya ketika merasa dirugikan.

Mungkin inilah pelajaran terbesar dari drama Argentina-Mesir. Yang dipertanyakan publik bukan semata-mata keputusan tertentu, melainkan konsistensi prosedur menuju keputusan tersebut. Dan selama persoalan itu belum dijawab secara meyakinkan, perdebatan tentang VAR tidak akan pernah benar-benar selesai.

Pada akhirnya, sejarah sepak bola bergerak dari dari masa sebelum teknologi dengan “Tangan Tuhan” menuju sepakbola modern dengan “Tangan VAR”. Namun perjalanan itu tampaknya belum berakhir. Teknologi memang telah membantu mengurangi banyak kesalahan, tetapi keadilan tidak cukup dibangun oleh teknologi semata. Keadilan lahir dari prosedur yang transparan, konsisten, dan memberikan hak yang sama kepada semua pihak untuk mengaksesnya.

Mungkin sudah saatnya FIFA mulai memikirkan tahap berikutnya dalam evolusi sepak bola modern: bukan sekadar mempertahankan VAR sebagai alat bantu wasit, melainkan mengubahnya menjadi instrumen keadilan yang benar-benar dapat diakses secara setara oleh kedua tim. Sebab dalam olahraga, sebagaimana dalam negara hukum, legitimasi sebuah keputusan tidak hanya ditentukan oleh hasil akhirnya, tetapi juga oleh proses yang membawa semua orang sampai pada hasil tersebut.

Dalam sepakbola memang kejam, termasuk pertandingan semalam, ketidakmungkinan hanya akan berhenti ketika peluit panjang wasit ditiup di akhir pertandingan, sebelum itu apapun masih misteri dan masih bisa terjadi, termasuk bagaimana Argentina yang di 70 menit pertama dibikin kikuk dan seakan gagu oleh permainan lepas mesir yang bebas tanpa beban dan bisa memasukkan 3 gol di gawang Argentina dengan 1 gol yang dianulir, sementara Argentina di 20 menit terakhir mampu membalik keadaan dan bisa menjebol 3 gol ke gawang Mesir, itulah pertandingan, jangan sampai hilang keindahan dan misterinya karena VAR yang tak adil dan memihak.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.