Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Di Balik Meja Makan Lebaran, Ada Perempuan yang Tidak Pernah Duduk Tenang

Di Balik Meja Makan Lebaran, Ada Perempuan yang Tidak Pernah Duduk Tenang

di-balik-meja-makan-lebaran,-ada-perempuan-yang-tidak-pernah-duduk-tenang
Di Balik Meja Makan Lebaran, Ada Perempuan yang Tidak Pernah Duduk Tenang
service

Bincangperempuan.com- Hari Raya Idulfitri alias Lebaran selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu. Tiket sudah dipesan jauh hari, koper ditarik ke sana-sini, semua orang sibuk dengan urusan mudik. Tapi di balik hiruk-pikuk itu, di kampung halaman sudah ada ibu yang menunggu—dan mempersiapkan segalanya sendirian.

Mulai dari kue kering yang ditumpuk rapi di toples, lontong yang dibungkus daun pisang, opor ayam yang kuahnya sudah meresap sempurna, hingga rendang dan sambal yang dimasak sejak sehari sebelumnya. Ketika pagi Lebaran tiba, saat yang lain masih terlelap dalam selimut, dia sudah bangun lebih dulu. Dialah yang paling berisik membangunkan seluruh anggota keluarga untuk salat Id. Suaranya yang setengah kesal, setengah sayang, menjadi alarm pagi yang tak pernah absen.

Dan kita sering menganggap ini hal yang biasa. Bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai bahan candaan atau meme di media sosial, bahwa pagi hari Lebaran disebut sebagai “simulasi retaknya rumah tangga”. Karena ibu berteriak-teriak, anak-anak susah bangun, lemari berantakan, dan semua anggota keluarga terburu-buru.

Kita tertawa, seolah itu hanya kekacauan kecil yang wajar terjadi setahun sekali. Padahal di balik meja tamu yang rapi penuh dengan jamuan kue kering dan makanan, ada perempuan yang tak pernah duduk tenang.

Baca juga: Merakit Hubungan Sendiri: Beban Emosional Perempuan di Balik IKEA Effect

Kerja Domestik dan Mental Load di Balik Hari Raya

Kerja domestik seperti memasak, menyiapkan kue Lebaran, hingga membersihkan rumah memang sejak awal lebih dititikberatkan pada perempuan. Di momen seperti Lebaran, ini jadi makin kelihatan—perempuan yang bolak-balik dapur, memastikan makanan cukup, rumah rapi, dan tamu terlayani.

Padahal, ini bukan sekadar kebiasaan di satu rumah saja. Data UN Women (2023) menunjukkan bahwa secara global perempuan menghabiskan sekitar 2,8 jam lebih banyak setiap hari untuk kerja domestik dan perawatan tanpa upah dibandingkan laki-laki. Bahkan jika tren ini terus berlanjut, hingga 2050 perempuan masih akan menghabiskan sekitar 2,3 jam lebih banyak per hari untuk pekerjaan yang sama.

Semua ini terjadi karena dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh perempuan. Ibu menjadi pihak yang paling banyak bekerja—mulai dari pekerjaan yang terlihat hingga pekerjaan yang tidak terlihat seperti menyusun keuangan, menyisihkan uang untuk Tunjagan Hari Raya, hingga memikirkan anggaran untuk membeli parsel Lebaran. 

Pekerjaan yang tidak terlihat inilah yang sering disebut sebagai mental load atau beban mental. Beban ini mencakup proses kognitif dan emosional seperti merencanakan, mengingat, mengantisipasi, hingga mengatur berbagai hal agar perayaan Lebaran berjalan lancar dan semua orang merasa nyaman.

Dalam banyak keluarga, perempuan menjadi semacam manajer tidak resmi. Mereka bukan hanya melakukan pekerjaan, tetapi juga memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya—mengatur alur, menjaga suasana, sekaligus mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Detail-detail kecil yang terlewat bisa berdampak pada keseluruhan suasana, dan sering kali perempuan pula yang merasa bertanggung jawab atas hal tersebut.

Di sisi lain, yang turut membantu pun biasanya tetap perempuan. Anak perempuan atau saudara perempuan akan ikut terlibat di dapur tanpa perlu diminta, seolah sudah memahami perannya masing-masing. 

Sementara itu, laki-laki umumnya dilibatkan dalam pekerjaan fisik yang dianggap lebih berat, seperti menggeser lemari, mengangkat meja, atau menata ulang ruangan. Setelah pekerjaan tersebut selesai, keterlibatan mereka pun sering kali berakhir. Sedangkan pekerjaan di dapur yang berlangsung terus-menerus dari pagi hingga malam, tetap dijalankan oleh orang yang sama.

Baca juga: Memotret Beban Reproduksi Perempuan Melalui Tren Saat Gadis Vs Setelah Jadi Ibu

Beban Ganda Perempuan Pencari Nafkah

Beban ini menjadi semakin berat bagi perempuan yang bekerja, terlebih bagi mereka yang menjadi pencari nafkah utama (female breadwinner). Data Badan Pusat Statistik dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 menunjukkan bahwa sekitar 14,37% perempuan pekerja di Indonesia merupakan pencari nafkah utama. Artinya, satu dari sepuluh perempuan pekerja menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Bahkan, hampir setengahnya menyumbang 90–100% pendapatan rumah tangga.

Namun, di tengah kontribusi ekonomi yang besar tersebut, beban domestik tidak serta-merta berkurang. Data yang sama menunjukkan bahwa 84,39% perempuan pencari nafkah utama tetap menjalankan sebagian besar pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Mereka bekerja penuh waktu di kantor atau usaha, lalu saat cuti langsung memasuki “shift kedua” yaitu memasak, menyiapkan kebutuhan keluarga, mengurus mudik, membersihkan rumah, hingga memastikan semua siap untuk Lebaran.

Setelah shalat Id dan silaturahmi, mereka kembali mengurus makanan, membereskan rumah, dan memastikan suasana tetap berjalan baik. Kondisi ini sering disebut sebagai role overload, ketika seseorang memikul terlalu banyak peran sekaligus—bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai istri, ibu, dan penjaga harmoni keluarga. Dampaknya tidak sederhana. Kelelahan fisik dan mental menumpuk, berpotensi memicu stres berkepanjangan, gangguan tidur, hingga meningkatkan risiko masalah kesehatan mental.

Pada akhirnya, kita memang sering melihat Lebaran sebagai hari kemenangan bersama. Namun, kemenangan itu tidak selalu dirasakan dengan cara yang sama. Bagi sebagian perempuan, Lebaran justru menjadi puncak dari rangkaian pekerjaan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka menanggung keringat yang tidak terlihat agar orang lain dapat menikmati kebersamaan.

Stereotip gender yang menganggap pekerjaan domestik sebagai sesuatu yang alamiah bagi perempuan masih terus bertahan. Akibatnya, pembagian peran di dalam rumah berjalan tidak seimbang, bahkan di momen yang seharusnya menjadi ruang berbagi.

Padahal, Lebaran juga bisa menjadi kesempatan untuk meninjau kembali cara kita memaknai kebersamaan. Bukan sekadar berkumpul, tetapi juga berbagi tanggung jawab secara lebih adil—sejak tahap persiapan, bukan hanya saat hari perayaan. 

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.