Mon,1 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Sambat
  3. diplomat vrindavan

diplomat vrindavan

diplomat-vrindavan
diplomat vrindavan
service

Mulutku menganga ketika mengetahui tiga orang asing yang baru saja kuajak bicara ternyata pernah sekolah di India. Kok bisa? Tanyaku.

“Ikut papa, kak” kata salah satu dari mereka yang cewek. “Papa kerja di kedubes”.

Aih diplomat rupanya sebagaimana Agus Salim dan Mohammad Roem.

Kehidupan diplomat cenderung tertutup. Seberapa banyak dari kita yang tahu bagaimana kehidupan diplomat India? Apa yang mereka makan? Atau di mana anak mereka sekolah?

Minggu sore ketika langit Blok M berwarna jingga, untuk pertama kalinya aku ngobrol sama anak diplomat. Dan kalian akan segera tahu jawaban dari tiga pertanyaan itu.

Wawasanku terbuka begitu kerja di Jakarta. Beberapa wawasan itu misalnya: aku baru tahu ada kampus bernama London School of Public Relations (kampus swasta elit di pikiranku mentok di Binus, Ciputra, dan Pelita Harapan). Aku juga baru tahu ternyata Jakarta itu nggak semuanya gedung-gedung tinggi (lihat kawasan Pasar Rebo atau dekat kosanku di Senen). Hingga wawasan paling ekstrem: aku baru tahu ternyata ada orang psikopatik yang makan sarapan pakai mi ayam.

Jadi, sebenci-bencinya aku dengan Jakarta, dengan budaya kapitalismenya, dengan kehidupan monotonnya, dengan ketimpangan sosialnya, kota itu telah membuka cakrawalaku. Sekaligus membuktikan betapa sempit pengetahuanku.

Minggu siang ketika aku selesai membaca Orang Asing (Camus). Itu bukan tipe novel yang dibaca untuk kesenangan (reading for pleasure), tapi novel yang dibaca untuk dipikir.

Aku pernah mendengar (di siniar mungkin) yang mengatakan bahwa Albert Camus mengibaratkan kehidupan monoton manusia (kerja-tidur-kerja) seperti Sisifus. Kurang lebih beginilah kisahnya:

Dalam mitologi Yunani, Zeus menghukum Sisifus untuk mengangkat sebongkah batu dari bawah bukit sampai atas. Setelah sampai atas, batu itu menggelinding ke bawah, memaksa Sisifus untuk mengangkat batu itu lagi sampai atas, lalu menggelinding lagi, lalu mengangkat lagi. Begitu seterusnya, begitu selamanya, sama seperti manusia.

Pemikirannya menarik untuk didalami, aku harus membaca buku ajaib itu: Mitos Sisifus. Di mana lagi aku bisa mendapatkannya kalau nggak di Blok M?

Pukul dua ketika aku sampai di Blok M dan melihat lautan manusia di sana. Sepertinya, semua orang Jakarta berpikir segala masalah bisa diselesaikan di Blok M.

Gerombolan cewek gothic sedang outfit check di depan pintu masuk M Bloc. Rerumputan di Taman Literasi nggak kelihatan hijaunya karena dipenuhi orang pacaran. Mereka menggelar tikar, lalu bertukar cerita sembari menyuapi jajanan. Dengan kata lain: bikin iri.

Buat mereka yang punya duit lebih, mereka memilih buat jajan di cafe Taman Literasi yang secangkir kopi bisa buat makan warteg tiga kali dua puluh empat jam. Mereka bisa memilih untuk duduk indoor di bawah ruangan ber-ac, atau bisa merokok ria di kursi outdoor yang tertulis: “khusus pelanggan cafe”.

Aku keluar area Taman Literasi, lalu berjalan ke arah Blok M Square. Berjejer pedangang kaki lima sepanjang trotoar. Ada penjual cilok, cilor, pancong, bakso, sate padang, gorengan, telor gulung. Nah buat mereka yang nggak punya duit, mereka akan jajan di sini dengan konsekuensi mencret keesokan harinya.

Terdapat antrean sepanjang antrean pertalite di kedai Kopi Tuku. Ah muda-mudi fomo, pikirku. Nggak lama terdengar lolongan barista “Nomor delapan puluh tujuh!”. Seorang cewek mengambil kopi pesanannya, sementara seorang cowok yang berdiri di tengah antrean keluar barisan dan bubar jalan sambil membanting sobekan kertas. Aku pungut kertas itu. Di situ tertulis nomor 107.

Mereka rela berdiri dan antre hanya untuk segelas kopi.

Apa sih istimewanya Kopi Tuku? Aku sendiri tipe orang yang gampang penasaran, tapi untuk antre dua jam hanya untuk secangkir kopi, hmmm nggak dulu deh.

Aku meliuk di antara parkiran motor, menghindari kubangan hitam dan ri=ompalan aspal, lalu menuruni anak tangga menuju rubanah Blok M Square. Tempat jualan buku di mana aku bisa menemukan Mitos Sisifus.

Memasuki rubanah itu seperti memasuki dunia lain yang belum terjamah umat Nabi Adam. Sepi dan sunyi. Tumpukan buku berdebu di kanan-kiri toko seperti dibiarkan bertahun-tahun tak tersentuh tangan manusia. Penjual buku terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Tulisan ‘obral satu buku 10 ribu’ yang tergantung di langit-langit hanya menarik perhatian laba-laba untuk membuat sarang di sana.

Bahkan kopi tuku lebih ramai ketimbang toko buku.

“Bang Jimmy!” Kutepuk pundak penjual buku itu, mukanya langsung cerah seperti melihat saudara lama pulang dari perantauan.

“Alwi saudaraku, konten kreator kita”. Saudaraku adalah panggilan akrab dia kepadaku. “Duduk sini, mau kopi? Teh? Gorengan?” Sifat sigapnya seperti ajudan bupati, meski aku tahu dia cuma basa-basi.

“Ada masuk stok apa lagi bang?”

“Itu dari Kakaktua saudaraku, Kafka, Dazai, Tolstoy” lalu dia mengeluarkan buku dari tas kecilnya. “Nih abang lagi baca ini, Orang Asing!”.

Bukan main penjual satu ini. Karya Camus itu termasuk novel yang susah dibaca, tapi dia membacanya. Bahkan (meski tipis) aku sendiri perlu konsentrasi penuh untuk menamatkan karya absurd itu.

“Mitos Sisifus ada bang?”.

Dia mengambil segepok buku dari etalase lalu melemparnya ke arahku. “Pilih sendiri saudaraku! Buka aja plastiknya saudaraku”.

“Ini ya bang”. Aku ambil Mitos Sisifus dari tumpukan buku baru seperti aku mengambil jajan di warung sendiri. Aku buka plastik segel, menciumnya seperti junkie mencium sabu. Aroma buku baru emang nggak ada lawan.

Bang Jimmy nggak mempermasalahkan orang baca dagangannya di tempat. Dia nggak mengusir mahasiswa bokek yang baca Bertrand Russell di tokonya. Yang penting pembeli senang, minat baca meningkat. Itu misi utamanya.

Agaknya Gramedia perlu belajar pada Bang Jimmy.

Bahkan bukunya dibiarkan begitu saja saat dia pergi, sebab dia percaya kalau seorang pecinta buku nggak mungkin menurunkan derajatnya sendiri dengan mencuri.

Yah, mungkin dia belum tahu kalau Chairil Anwar adalah seorang pecinta buku yang suka menggarong buku di toko buku Von Drop (salah satu hasil curian Chairil adalah Thus Spoke Zarathustra).

Pukul 5 sore Taman Literasi makin padat saja. Muda mudi berjejal menempati area yang belum terjajah orang lain. Awalnya aku ingin pulang setelah mendapat Mitos Sisifus di tangan, tapi keramaian adalah kesempatan emas buat bikin konten.

Sebagai konten kreator yang apa-apa sendiri, aku harus meminta tolong orang lain untuk pegangin kamera. Di sini kemampuan public speaking-ku diuji. Sebab, mengutip New Jeans, aku orang yang SUPER SHY (kalian boleh nggak percaya).

Seperapa super shy-nya aku? Saat aku mau ngomong sama orang nggak dikenal, selalu ada bisikan dari belakang kepalaku seperti di lukisan memento mori. “Nanti kamu dianggap sok asik”. “Kamu bakal ganggu mereka”. “Kamu introvert, kamu pasti gugup”.

Jika bisikan itu datang, aku akan mematung. Dilema di pikiranku: mengiyakan atau menghiraukan si tengkorak. Aku selalu mengukuti perkataannya. “Kamu benar” kataku. Lalu aku akan pulang diiringi gelak tawa si tengkorak.

Kali ini bisikan itu datang lagi.

Pulang! Nggak perlulah ngonten segala macam. Kan sudah dapat Mitos Sisifus? Ayo pulang saja dan baca buku itu, nggak perlu interaksi sama orang lain!

Hampir aku menyetujui apa kata tengkorak, hingga pencerahan datang dari seorang sales kopi.

Cewek usia 23 kurasa, dia memakai baju dua size lebih kecil dari ukuran seharusnya sehingga menunjukkan lekuk tubuhnya yang semlohai. “Kopinya kaaak… Aslinya 30 ribu, khusus hari ini 25 ribu ajaaahhh”.

Dia terus mendapat penolakan, tapi apakah itu membuatnya mutung? Nggak. Dia terus menawarkan kopi botolannya terus menerus hingga sampai juga di depanku.

“Kopinya kaak, harga spesial 25 ribu ajaaahhh”.

“Terima kasih mbak” kataku. “Karena sudah menginspirasi”.

Dia nampak bingung, apanya yang menginspirasi? Tapi aku nggak menjawabnya bahwa sales montok itu telah menghancurkan si tengkorak di belakang kepalaku.

Alwi, ngomong sama orang asing nggak bakal membunuhmu. Aku terus membisikkan mantra itu. Belajar dari si sales, dia aja bisa masa elu nggak.

Aku mulai melancarkan serangan pertama. Targetku satu rombongan cowok yang lagi makan cilor. “Sori kak ganggu waktunya, aku lagi bikin konten nih” Meski tergagap, aku bisa menyelesaikan kalimat itu. “Kalian mau nggak masuk kontenku?”.

Aku menanti jawaban dari mulutnya yang sedang dengan syahdunya mengunyah cilor. Ya atau nggak. Ya atau nggak. Dia menelan cilornya. Jawaban muncul:

“Nggak mas, terima kasih”.

Suara konsonan k di akhir terdengar tajam di telingaku. Dan benar. Ternyata penolakan nggak semenakutkan itu. Ketakutan hanya bersarang di batok kepalaku saja.

Bahkan dia menyematkan “terima kasih” di akhir kalimat. Menandakan kalau orang Indonesia itu a) ramah atau b) nggak enakan.

Aku mendekati kelompok kedua, cowok cewek lagi double date. Nggak makasih lagi yang kuterima. Kelompok tiga dan empat dan lima juga sama. Sembilan penolakan dan aku masih hidup. Kan, penolakan nggak akan mencabut nyawaku!

Aku mulai beradaptasi dengan penolakan, seratus penolakan pun akan kulayani. Semakin membuktikan perkataan Nietzsche apa yang nggak membunuhmu akan membuatmu bertambah kuat. Namun waktuku nggak banyak. Matahari mulai tenggelam, sumirat jingganya hampir pudar.

“Satu kelompok lagi, kalau dia bilang nggak, maka aku bakal pulang”.

Aku dekati tiga orang yang berdiri di sudut pagar besi. Dua cowok dan satu cewek berambut pendek. Ini kesempatan terakhir.

“Sori ganggu waktunya” mereka berhenti berbincang, melirik ke arahku. “Aku lagi bikin konten nih, kalian mau nggak kalau masuk konten?”

Mereka saling pandang. “Konten apa kak?”

Terpancing.

“Kuis pengetahuan umum, misal tanggal berapakah pasukan Amerika menjatuhkan bom atom di Jepang?”

Cowok 1: “6 dan 9 Agustus!”
Cowok 2 nggak peduli, terus scroll laman fyp.

“Nah gampang kan?”
Cewek: “Ah nanti yang keluar pasti susah. Matematika!”.

Telunjuk si cewek tertuju lurus ke arah hidungku, rambutnya berkibar terkena angin.

Aku: “Berapakah 3x3x3”
Cowok 1: “27!”
Aku: “Tuh kan?”

Cowok 1 dan cewek saling pandang, aha pancinganku kena! Kuharap ‘ya’ yang keluar dari mulutnya, namun justru ‘nggak’ yang kudapat. “Maaf kak, saya takut nanti kalau kelihatan bego wkwk”.

Aku: “Aku jamin yang keluar soal-soal anak SMP”
Cowok 1: “Maaf kak, mungkin lain waktu” Nggak lupa dia mengakhiri dengan “terima kasih”.

Yah sudahlah, aku nggak bisa memaksa. Hari ini libur dulu nggak bikin konten, seenggaknya aku sudah memberanikan diri ngomong sama orang lain, itu sudah termasuk prestasi bagiku.

Sayonara, saatnya pulang.

Yaudah makasih ya, aku berbalik membelakangi tiga orang itu sebelum cowok 2 yang dari tadi diam menunjukkan ponselnya ke arahku. “Abang yang ini bukan?”.

Nampak profil Instagramku di iPhone 15-nya. “Iya itu aku!”

Cowok 2: “Oke bang, aku mau masuk konten!”
Aku: “Tapi aku butuh dua orang lagi, paling nggak buat pegangin kamera”. Aku melirik ke cowok 1 dan si cewek.

Cowok 2 meyakinkan kedua temannya hingga mereka bilang “YA”.

Dari situ aku percaya bahwa benar, every no is one step closer to a yes.

Setelah selesai bikin video, basa-basilah kami berempat.

Aku: Kalian SMA atau kuliah?
Mereka: Baru lulus SMA kak

Aku: Kuliah di mana?
Cewek: Aku di Binus
Cowo 1: Aku di UI
Cowo 2: Aku di UPN

Aku: Teman SMA?
Cewek: Bukan.
Aku: Teman SMP?
Cowok 1: Bukan kak.
Aku: Teman kompleks?
Cowok 2: Bukan bang.

Aku: Kok bisa saling kenal?
Cewek: Dulu kami ketemu di India kak.

Belum sempat kaget, si cewek melanjutkan “Ikut papa. Papa kerja di Kedubes”. Demikianlah seperti yang aku ceritakan di paragraf pertama.

Aku nggak jadi pulang, membayangkan pekerjaan ayah mereka yang diplomat. Salah satu profesi yang dulu sempat kuidam-idamkan, tapi kuurungkan setelah aku berkenalan dengan benda keramat bernama film.

Sekarang aku kerja di FPCI yang erat kaitannya dengan kebijakan luar negeri dan hubungan internasional, aku pernah bertemu beberapa diplomat di kantorku dalam acara diskusi. Dan kuberi tahu kawan, mereka bukan orang biasa. Aura mereka memancar, setiap pertanyaan mereka jawab sistematis, ilmiah, dan gampang dicerna.

Banyak orang pengen kerja jadi diplomat karena bisa ke luar negeri tanpa uang, kalau boleh juiur salah satu motivasiku pengen jadi diplomat ya itu. Tapi yang banyak orang nggak tau, diperlukan kemampuan intelektual tigkat sinuhun untuk menjadi diplomat.

Seorang diplomat harus selalu update isu global, The Jakarta Post adalah bacaan wajib tiap hari. IELTS paling nggak di angka 8.5 overall band (dengan writing nggak kurang dari 8). Kemampuan negosiasi ala Sun Tzu, Machiavelli, hingga Bismark harus mengalir di peredaran darah bersama hemoglobin. Buku Bureaucratic Politics and Foreign Policy haruslah dihafal di luar kepala.

Namun nggak cuma harus pinter intelektual saja, seorang diplomat harus memiliki mental petarung.

Sebab menjadi diplomat adalah menjadi petarung.

Obrolan kami berlanjut.

Aku: Pernah diare nggak? Kan makanan India terbuat dari perpaduan antara rempah dengan salmonella
Cowok 1: Kalau di jalanan memang kurang higenis, tapi banyak juga kok yang bersih.

Seperti yang sudah kuduga dari seorang anak diplomat: jawabannya diplomatis.

Aku: Makanan paling enak?
Cewek: “Paling suka pani puri”. Aku menahan hoek sebab seketika aku teringat pani puri ekstrak sari ketiak yang aku tonton di TikTok.
Cowok 2: “Tikka masala dekat Birla Mandir sih, nggak ada lawan”.
Cowok 1: Menurut saya semuanya enak. Aih, lagi-lagi jawaban diplomatis.

Aku: Culture shock paling kerasa?
Sebelum pertanyaan ini, jawaban mereka berbeda. Untuk kali ini jawaban mereka sama satu suara:

“Kasta”.

Aku: Contoh kasus?
Cowok 2: Staff papaku ada yang sudah jadi manajer, tapi dia nggak boleh makan bareng tukang kebun.
Aku: Kenapa?
Cowok 2: Karena kasta si tukang kebun lebih tinggi dari manajer.

Hah?

Cowok 1: Jadi, jabatan tinggi tidak berpengaruh kalau seorang itu berasal dari kasta sudra.
Cowok 2: Makanya banyak orang India yang pergi ke Amerika, mungkin itu salah satu alasannya.

Aku: Selain kasta?
Cewek: Rasisme
Cowok 1 dan 2: Setuju.

Cowok 2: Aku pernah salat di ruang komputer, tiba-tiba saja dikelilingin tujuh cowok. Gangguin salat biar batal.

Cowok 1: Saya selalu dikira orang Chinese, lalu mengejek saya seperti ini”. Cowok 1 menyipit-nyipitkan matanya dengan kedua tangan.

Si cewek tertunduk, menahan luapan air yang sudah di pelupuk mata.

Kenapa?

Dia bercerita dengan terbata. “Sebelum sekolah di India,” katanya sembari menyibakkan rambut pendeknya “Aku pakai hijab”.

Demikianlah aku belajar dari mereka bahwa tiga kelompok yang paling dibenci orang India: pertama kelompok kasta rendah (terutama dalit), kedua Chinese, dan ketiga muslim atau orang Pakistan.

Alasan mengapa mereka benci orang Pakistan kiranya nggak perlu aku jelasin.

Hal ini jauh berbeda dengan perlakuan mereka terhadap kaum kulit putih yang dipuja seperti sapi di kandang mereka. Jika kalian lihat di YouTube, kalian akan menemui vlogger bule kulit putih disambut orang lokal bagai Raja Mughal.

Ketika si bule jalan kaki, orang berkerumun: “Sir take picture sir”. Mereka kira tiap bule itu artis, padahal bisa saja gembel

Ketika si bule ingin membayar makanannya: “Please no payment sir” kata mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala tiga kali.

Ketika si bule mulai akrab, orang India bertanya: “Where are you come from sir?”. Si bule menjawab “United Kingdom mate, ever been there eh?”. Orang India: “England! I love Manchester United sir”. Bule: “Bloody hell mate, Manchester is blue”.

Lalu si India tertawa hahahaha. Tanpa sadar orang Inggris-lah yang menjajah mereka. Yang mengadudomba antara Hindu dan Islam. Yang mengeruk warisan budaya India. Dan yang mengirim orang-orangnya jadi budak dan tentara tanpa bayaran.

Jika membenci suatu kelompok itu halal, yang harusnya orang India benci bukanlah orang dalit atau Islam atau Chinese, tapi bangsa Inggris kolonial laknatullah itu yang harusnya mereka kutuk.

Sekali lagi, itu jika membenci itu halal.

Malam datang. Suara azan magrib mulai terdengar. Obrolan seru, tapi kami harus berpisah.

Sebagai kenang-kenangan, aku kasih mereka Mitos Sisifus. Buku yang sebenarnya kucari dan ingin kubaca. Nggak masalah. Toh aku bisa beli lagi di warung bang Jimmy dengan diskon 20%.

“Ini kenang-kenangan” kataku sambil menyerahkan Mitos Sisifus kepada cowok 1. “Siapa tahu di masa depan kamu jadi diplomat di India, jadi aku tahu harus ke mana kalau misal nyasar di sana”.

Sumirat jingga berganti abu, suara azan berganti Sal Priadi, dan salam kenal berganti selamat tinggal.

Aku makin percaya jika semua terjadi karena suatu alasan. Everything happens for a reason. Ketika sembilan kali ditolak, itu berarti Allah sedang menyiapkan rencana yang lebih baik untukku.

Coba jika kelompok pertama dan kedua menerima ajakanku, mungkin aku nggak akan bertemu anak diplomat, lalu ngobrol panjang lebar tentang India.

Dalam kasus yang lebih kompleks, bisa saja ketika kita dapat penolakan kerja atau penolakan cinta, itu sebenarnya pertanda bahwa Allah sedang menyiapkan rencana yang lebih baik untuk kita.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.