Wed,29 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Film Palestine 36: Awal Mula Zionis Merebut Tanah Para Pejuang

Film Palestine 36: Awal Mula Zionis Merebut Tanah Para Pejuang

film-palestine-36:-awal-mula-zionis-merebut-tanah-para-pejuang
Film Palestine 36: Awal Mula Zionis Merebut Tanah Para Pejuang
service

Film ‘Palestine 36’ menceritakan kondisi Palestina sebelum peristiwa Nakba pada 1948. Banyak hal yang tidak terucapkan, baik karena ketakutan atau kesakitan, atau karena beban memori yang lebih berat ketimbang untuk harus diceritakan secara keseluruhan.

Drama sejarah ini diawali dengan pemandangan kota Yerusalem pada 1936. Sebuah kota yang sibuk, kendaraan lalu lalang, dan warga yang bekerja sekaligus menghabiskan waktu menyenangkan bersama keluarga. Di pedesaan di wilayah Nablus, Tepi Barat, langit biru menaungi tanaman-tanaman kapas yang siap dipanen. 

Tapi dilema muncul tatkala sekelompok pendatang Yahudi mulai mendirikan tenda-tenda permukiman. Seorang anak bertanya kepada ibunya, siapakah mereka. Ibunya menjawab, ”mereka adalah orang-orang yang terusir dari negerinya.” Jumlah pendatang lama kelamaan semakin banyak hingga menggusur tanah-tanah warga. 

Konflik merebak ketika tentara zionis mendatangi desa-desa dengan dalih mencari para pemberontak berikut senjata. Jika warga melawan, maka taktik bumi hangus dijalankan. 
Menariknya, ‘Palestina 36’ tidak bertumpu pada satu sosok sentral lantaran setiap tokoh memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sutradara Annemarie Jacir dengan piawai menyatukan semua kisah yang saling terkait. Ada jurnalis perempuan yang terpaksa menggunakan nama samaran pria agar beritanya laku dibaca. Suatu hari ia menemukan fakta media tempatnya bekerja ternyata menerima aliran dana jutaan poundsterling dari pihak Inggris. Hatinya pun terguncang. 

Sementara itu ada lelaki muda yang bekerja sebagai pelayan di kota, dan kelak memilih pulang ke kampung halamannya sebagai pejuang untuk membela tanah kelahiran. Ada pula seorang pendeta yang rela menjadi martir demi menyelamatkan warga –tak peduli apapun keimanannya. Sekelompok wanita, anak-anak, dan lansia turut memperkaya cerita. Mereka berjuang agar dinasti tidak terputus, cerita tidak terhapus, dan nama-nama tidak padam dalam pusaran sejarah.

Meskipun tidak masuk dalam nominasi, ‘Palestina 36’ berhasil mencapai tonggak sejarah penting dengan lolos dalam daftar pendek resmi Oscar yang terdiri dari 15 film, yang diumumkan pada Desember 2025. Setelah pemutaran perdana di Festival Film Internasional Toronto (TIFF) pada September 2025 –dan mendapat tepuk tangan meriah selama 20 menit, drama sejarah ini mendapatkan perhatian yang sangat besar, seperti penghargaan Film Terbaik di Festival Film Internasional Tokyo 2025. Tokoh-tokoh Hollywood ternama seperti Mark Ruffalo dan Susan Sarandon turut memberikan dukungan penuh selama kampanye penghargaan tersebut. 

Pada tahun yang sama, film dokumenter ‘No Other Land’ yang juga diproduksi sineas Palestina, mencetak sejarah dengan memenangkan penghargaan Film Dokumenter Terbaik di Academy Awards 2025.

‘Palestina 36’ diproduksi sebagian menggunakan pendanaan dari BBC Film dan British Film Institute (BFI) serta dukungan dari Corniche Media asal Prancis. Film ini diputar untuk publik Jakarta pada Minggu (26/7) atas kerja sama Klikfilm, Asosiasi Fana, Dewan Kesenian Jakarta, dan Amnesty International. 

Meskipun aksi menentang pendudukan Israel saat ini meredup di Indonesia –saking banyaknya persoalan di dalam negeri yang tak kunjung berakhir, masih ada puluhan penonton yang datang dan mereka dibagi dalam dua sesi sesuai kapasitas bangku di bioskop CGV FX Sudirman. 

Dubes Palestina Beberkan Kekejaman Zionis Israel

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah A.K. Al-Sattiri, yang hadir bersama istrinya, mengisahkan awal mula cengkeraman zionis Israel di negerinya. Ia mengatakan semua yang ditampilkan dalam film adalah nyata dialami rakyat Palestina, termasuk dirinya sendiri.

“Saya sempat enam kali ditahan tentara Israel. Apa yang anda saksikan di film ini masih terjadi hingga sekarang di Palestina. Mereka (tentara Israel) datang jam 3 pagi lalu menendang pintu, berteriak-teriak, dan merusak semua barang mulai dari televisi, kulkas dan lain-lain. Mereka akan minta KTP, lalu jika ingin ditangkap mata kita ditutup. Saya pernah ditahan selama 18 hari dan dipukul setiap saat,” kisah Abdulfattah.

Pihak Israel mengira jika aksi keji itu terus-menerus dilakukan maka rakyat Palestina akan pindah dari tanah mereka. Namun, lanjut Abdulfattah, tentara Israel lupa bahwa rakyat Palestina telah ditanamkan arti perjuangan dan perlawanan sejak masih dalam kandungan. 

“Sejak kecil ayah-ayah kami sudah mengajarkan untuk melawan Israel. Saya pertama kali melihat tentara Israel pada usia 5 tahun, saat tinggal di Gaza. Saya masih ingat ketika tangan saya ditarik oleh abang saya. Orang tua, ibu saya, guru-guru juga mulai mengajari kami tentang perjuangan dan perlawanan. Jadi sekarang anak-anak jauh lebih banyak memahami sejarah Palestina dan penjajahan Israel,” ujar Abdulfattah.

Tiga tahun zionis Israel memerangi Gaza namun mereka tak kunjung mampu menguasai wilayah tersebut. Perjuangan itu kini dilanjutkan oleh rakyat Palestina di Tepi Barat. Seluruh rakyat Palestina, tak terkecuali umat Kristen di Betlehem, berjuang untuk Palestina berdaulat. ”Jika anda melihat mata anak-anak Palestina di Gaza dan Tepi Barat, maka anda akan percaya bahwa Palestina akan merdeka. Lihatlah mata pemimpin Israel sekarang, penjajah akan kalah,” tegas Abdulfattah.

Solidaritas Internasional Menguat di Tengah Kecamuk Perang Iran-AS

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai solidaritas dunia untuk Palestina justru menemukan momentumnya, tepat ketika AS menggencarkan serangan ke Iran untuk membantu Israel. 

“Dukungan terhadap Palestina bukan hanya datang dari negara-negara muslim tapi juga dari negara-negara sekuler, mulai dari Eropa, AS, dan Australia. Gelombang protesnya sangat besar dan sangat terorganisir, jumlahnya bukan lagi ribuan tapi sudah jutaan orang. Ini perjuangan umat manusia yang menolak penjajahan Israel atas tanah Palestina.”   

Sementara Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, saat ini sedang memproses perkara terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun Kepala Jaksa Penuntut Utamanya, Karim Khan, telah dicopot dari jabatannya akibat dugaan pelanggaran atau pelecehan seksual. Tindakan ini telah memicu respon internasional. 

“Saya kira tindakan AS atau negara manapun yang menghambat ICC sama dengan menghambat peradaban dunia yang baru, menghambat upaya keadilan bagi orang-orang yang sudah menjadi korban dalam serangan-serangan Israel, baik itu kejahatan kemanusiaan maupun kejahatan agresi puluhan tahun. Ini kejahatan genosida,” ujar Usman.

ICC tetap melanjutkan proses hukum dan menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu. Operasional kantor kejaksaan ICC kini dilanjutkan oleh para wakil jaksa penuntut, yakni Nazhat Shameen Khan dan Mame Mandiaye Niang. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.