2 Mei 2025, hari terakhir kerja. Tak ada donat atau pizza, hanya ada rujak. Kenapa rujak? Akan aku ceritakan nanti, kawan. Sekarang aku akan membawamu ke masa satu tahun yang lalu ketika aku baru lulus kuliah, aku mendeklarasikan diri bahwa:
Orang sukses nggak harus kerja di Jakarta. Berimpitan di kereta tiap jam delapan (kadang ada yang dari jam lima), bergerak tanpa jiwa melintasi halte Transjakarta, pulang lewat jalur dan keramaian yang sama. Mata mereka hampa, yang ada di pikiran mereka hanyalah uang.
Ya, uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi ia bisa membantumu membeli kebahagiaan1. Aku bahagia ketika bisa keliling dunia, satu-satunya cara adalah bekerja, sebab aku bukan anak Hary Tanoe yang brojol sudah kaya raya. Bahkan Ed Viesturs, orang yang mendaki 14 puncak tertinggi di dunia tanpa bantuan oksigen pun mengakui “Satu-satunya cara bagi saya untuk bisa mendaki adalah mengubah apa yang saya cintai menjadi bisnis”2.
Dan itulah yang aku lakukan. Menjilat ludah sendiri. Menggadaikan jiwa pada iblis. Oh aku bekerja di Jakarta.
Fresh graduate lain mungkin akan menebar CV ke sebanyak-banyaknya perusahaan, mana yang nyantol dan cocok dengan gajinya, itulah yang ia pilih (meski kebanyakan cuma di-ghosting sih). Tapi aku hanya mendaftar satu perusahaan: FPCI, one shot, aku keterima.
Dengan menggendong dua tas punggung dan satu kardus indomie, aku naik bus jurusan Temanggung-Jakarta. Masih kuingat betul lambaian orang tua dari jendela. Dadah. Selamat tinggal kehidupan nyaman. Sampai Jakarta aku naik Gojek sampai kosan butut di daerah Senen. Kubuka pintu kosan. Selamat datang dunia nyata.
1 April 2024, hari pertama kerja. Dino Patti Djalal memimpin rapat di ruang kaca, topiknya “Bagaimana mempromosikan event dengan efektif?”. Aku adalah 1 dari 10 orang orang yang ada di ruangan itu dan aku yang paling baru. Jujur plonga-plongo seperti orang udik mau pesen makanan di Mekdi, apa yang harus aku lakukan? Apa harus menyumbangkan ide, ah bukannya nanti bakal dikira sok-sokan? Rapat berjalan begitu cepat seperti pelari Kenya di lintasan marathon, sementara aku cuma tertunduk sambil menopang dagu seperti patung The Thinker karya Rodin. Seolah-olah memikirkan eksistensi kehidupan.
Saat tensi rapat memanas, Pak Dino bilang “Is there anything WRONG in this room?”. Semua orang melirik ke arahku, si pemikir ini tiba-tiba berubah menjadi si panik. Kalau orang Jawa merasa salah, hal yang mereka lakukan adalah tersenyum untuk menutupi kesalahannya (makanya banyak orang salah akan cengengesan). “Ya anak baru ini tidak membawa catatan”. Kata Pak Dino langsung ke arahku, oh benar-benar bikin malu. Aku gelagapan keluar ruang rapat mencari buku catatan dengan pemikiran “Apakah aku akan dipecat?… Di hari pertama kerja”. Dungu sih, tapi betul aku berpikir seperti itu (kelak aku akan berpikir seperti ini lagi). Aku kembali dengan membawa buku murah cetakan Snapy dengan bolpoin hotel yang tintanya sudah seret.
“Listen guys,” Kata Pak Dino “In every meeting you have to bring a notes!”. Aku amati sekitar dan ya, hanya aku yang dari tadi cosplay The Thinker. “Itu yang membedakan FPCI dengan kantor lain, kita harus selalu siap mencatat”.
Semenjak tragedi itu, aku selalu membawa catatan (bahkan di luar kantor). Entah apa yang ditulis, mau gambar naga atau godzilla, yang penting bawa catatan aja dulu, karena itu menunjukkan rasa hormat.
Saat aku mendatangi Kemlu, semua staf di sana mencatat ketika atasan berbicara. Oh mungkin Pak Dino belajar di tempat ini. Ketika Valdo (videografer baru) mau ikut rapat bareng Pak Dino, aku hentikan dia seperti arwah leluhur menghentikan tokoh utama agar tidak melanjutkan perjalanan ke kastil terlarang.
“Bawa catatan” kataku.
Alhamdulillah aku berhasil menyelamatkan satu orang dari terkaman macan.
–
Saat menginjakkan kantor untuk pertama kali, aku sudah berprinsip untuk memisahkan antara rekan kerja dan teman. Setelah selesai kerja ya pulang, tidak ada nongkrong atau kongkow bahas kehidupan. Aku tidak mau cari teman, aku hanya mau cari pengalaman. “Concern saya sama Alwi hanya dia terlalu introvert, padahal sebagai videografer, dia harus bekerja lintas divisi” kata Kak Irfan, HR kantorku.
Ketika tekanan pekerjaan di kantor begitu besar dan kalian tidak punya pacar, maka satu-satunya cara untuk meluapkan kekesalan adalah ngobrol sama teman. Ya memang tidak bikin masalah selesai, tapi paling tidak membuat hati ringan dan hanya dengan itulah pekerjaan akan cepat selesai, betul? Mungkin itu alasan Tuhan memberi kalian bos yang ngeselin: biar sesama bawahan bonding dan menggunjing satu orang yang sama. Ups.
Mungkin pertamanan-lah yang membedakan manusia dengan robot. Robot tidak punya perasaan itu sementara manusia punya. Setelah aku membuka pintu itu, rasanya melegakan. Seperti gorila yang terlepas dari kerangkeng kebun binatang. Perumpamaan yang tolol, tapi intinya makasih ya manteman….
Namun baru sebentar pintu itu terbuka, aku harus keluar. Mungkin aku yang dulu bakal tidak peduli, tapi sekarang menjadi beban. Bukan meninggalkan pekerjaan yang berat, tapi meninggalkan pertemanan.
Perpisahan identik dengan haru biru sembari melepas kepergian rekan kerja. Aku kira justru harus sebaliknya, perpisahan harus membahagiakan. Bahkan kalau aku meninggal, aku ingin diadakan sesi khusus roasting Alwi. Sama seperti ketika Graham Chapman dari kelompok lawak Monty Python meninggal. “Kalau syuting dia biasanya datang paling telat,” kata Michael Palin saat membacakan eulogi “Eh tumben sekarang dia duluan”3. Puncak komedi menurutku adalah ketika kamu sudah bisa menertawakan kematian.
Orang yang siap hidup, harus siap untuk mati.4
Orang yang siap masuk kerja, harus siap untuk resign.
Jam 15:00 aku melakukan presentasi perpisahan menceritakan tentang apa yang aku pelajari selama satu tahun kerja di FPCI. Kebanyakan tentang profesionalisme dunia kerja dan menjadi dewasa. Sebagai editor aku juga belajar bahwa ‘cut’ tidak hanya sekadar teknik editing, tapi juga decision making.
Karya terakhirku di kantor ini adalah kumpulan bloopers Pak Dino selama dia syuting. Idenya adalah seperti adegan terakhir Cinema Paradiso (1988) ketika tokoh utama menonton potongan film yang dulu di-cut gereja karena memperlihatkan adegan ciuman. Aku ingin mengumpulkan adegan-adegan buangan itu menjadi satu video yang menunjukkan sisi lain dari Pak Dino.5
Melihat video Pak Dino yang lidahnya keseleo, semua orang langsung tertawa (termasuk Pak Dino) dari detik sampai video berakhir, tak ada habis-habisnya. Ya beginilah perpisahan yang aku bayangkan, membahagiakan.
Setelah itu Pak Dino memelukku. Hangat seperti pelukan seorang bapak.
–
Mari kita kembali ke pertanyaan awal: Kenapa rujak?
Biasanya perpisahan ditutup dengan donat Jco atau pizza limo6. Aku ingin menantang status quo itu dengan membawa sesuatu yang di luar nalar orang kebanyakan dan agaknya rujak adalah pilihan yang rasional (sekaligus radikal). Mari kita buat perbandingan:
Pizza: mahal, tidak semua kebagian, bikin diabetes, dan mendukung antek asing (Mr. President doesn’t like it).
Rujak: murah, semua orang kebagian bahkan sampai sisa, memperlancar pencernaan, dan melarisi usaha wong cilik (Mr. President likes it).
Dilihat dari perbandingan itu, rujak unggul di semua sisi. Tapi selebihnya, rujak bagiku adalah simbol perlawanan. Sebuah antitesis dari makanan resign pada umumnya. Jadi pada akhirnya rujak bukan sekadar makanan perpisahan, ia adalah statement. Seperti Christopher McCandless ketika kerja di MacDonald’s, ia tidak pernah pakai kaos kaki padahal itu SOP-nya. Manajer menegurnya dan ia patuh, esoknya ia pakai kaos kaki, manajer senang. Begitu shiftnya berakhir, hal pertama yang dilakukan McCandless adalah ya, melepas kaos kaki. “Itu menjadi semacam statement bahwa dia tidak mau dan tidak bisa diatur” kata si manajer.7
Ketika memberikan salam perpisahan, Valdo (yang pernah aku selamatkan dari terkaman macan) bilang “Alwi itu orangnya ATIPIKAL dan orang atipikal seperti Alwi, pasti akan sukses dengan caranya sendiri”.
Ya, aku selalu menyukai ide yang berlawanan dengan orang lain. Makanya aku jatuh cinta dengan ‘The Road Not Taken’-nya Henley karena itu linear dengan perjalananku:
“I took the one less traveled by,
And that has made all the difference”8
–
Nah ini gong-nya.
Ketika Ammar, kawan dari divisi lain yang tidak begitu dekat denganku memberi satu pengakuan “Jujur, aku adalah salah satu pembaca setia blog Alwi” katanya “Ternyata asyik juga ya ngikutin kehidupan orang.”
Ammar, jadi kamu?
“Ya, aku tahu Alwi lagi kesel sama siapa, bahkan naksir siapa”.
Aku seperti ditonjok Mike Tyson pas lagi makan pecel lele. Tak terduga.
Tidak cukup sampai di situ, bagaimana jika kamu tidak hanya kena hantam Tyson, tapi juga Ali, Frazier, dan Foreman di satu waktu yang sama? Itulah yang terjadi padaku ketika semua orang bilang “Aku juga baca blog Alwi”.
“Kita udah ngikutin lo dari tulisan ‘hari pertama kerja’.
Tuhan, sudah cukup.
“Dan lo pernah naksir sama Ainun ya!”.
Akhiri nyawaku…..
Mungkin karena aku yang terlalu antisosial hingga yang demikian aku tidak sadar atau ini karena aku tidak begitu peduli dengan sekitar? Atau mungkin aku terlalu dungu untuk mengetahui bahwa seluruh dunia membaca tulisanku membaca. Alasan mana yang benar, semua mempunyai satu sumbu temu: aku telanjang. Bugil. Wudho. Naked.
Mau dilihat pakai teleskop atau mikroskop, kejadianku tak lain adalah maling ayam tertangkap di siang bolong. Memalukan. Tapi manusia sering kali melihat kejadian dari yang buruk-buruknya saja dan melupakan yang baik-baik. Aku jadi teringat kisah dua batu bata jelek dalam anekdot Ajahn Brahm.
Alkisah, Ajahn Brahm membangun tembok untuk wihara, sayang ada dua batu bata yang terpasang miring sementara sisanya lurus sempurna. Bertahun-tahun ketika pengunjung datang, si biksu mengarahkan pengunjung menghindari dua batu bata jelek itu. Suatu saat ada pengunjung yang tak sengaja melihat dua batu bata jelek itu dan bilang “Tembok yang indah”. Si biksu hanya menjawab “Apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Bukankah itu 2 batu bata yang tidak sempurna”. Jawaban si pengunjung membuat biksu terpana “Ya saya melihat dua batu bata jelek itu, tapi saya juga bisa melihat 998 batu bata lain yang bagus”.9
Gong.
–
Aku membaca kembali “hari pertama kerja” yang kutulis satu tahun yang lalu10
“Pengamanan di gedung tempatku kerja sangat ketat, pengunjung harus setor KTP buat bisa masuk. Bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya? Ya. Aku lupa bawa KTP“.
Dari segi kualitas tulisan, setidaknya jika dibandingkan dengan ini, aku merasa ada lompatan jauh ke depan. Tulisanku yang dulu pendek-pendek karena kurang pengalaman dan bacaan.
Lalu aku menyusuri entri jurnal di awal-awal bulan pertama aku bekerja. Ternyata aku pernah tidak betah kerja di Jakarta. Ini entri jurnal tertanggal 16,17, dan 18 April.
Membaca jurnal itu membuatku teringat betapa dulu aku kaget menghadapi ketidaknyamanan (apalagi tanggal 17 tuh haha). Kalau aku tidak menulis ini, aku PASTI, PASTI, PASTI akan lupa, sekalipun aku punya foto atau video tersimpan di galeri. Aku percaya tulisan jauh lebih memantik ingatan ketimbang foto karena menulis memaksa kita untuk berpikir, sementara foto kita menerimanya dalam bentuk jadi. Bahkan saking banyaknya, seringkali foto jadi kehilangan makna.
Banyak juga entri jurnalku yang begitu cringe kalau dibaca sekarang. Ingin rasanya menghapus semua hingga yang tersisia yang baik-baik saja. Tapi biarlah apa yang telah kutulis berada di sana sebagai bukti bahwa aku juga pernah ada di fase cringe. Biarlah tulisan-tulisan cringe itu menjadi dua batu bata jelek sementara tulisanku yang lain menjadi 998 batu bata yang bagus.
–
Bagaimana cara mengetahui kalau sebuah cerita itu seru? Adalah jika musuh di babak 2 lebih kuat ketimbang musuh di babak 1. Naruto harus melawan Akatsuki sebelum melawan Madara Uchiha. Walter White harus mengalahkan Salamanca bersaudara sebelum meledakkan Gustavo Fring. Jojo harus melawan 9 dewa mesir sebelum mengalahkan Dio Brando. Dalam game, kalau raja terakhir lebih lembek ketimbang anak buahnya, Windah tidak akan pernah memainkan game-nya.
Hidup juga demikian. Jika kerja di Jakarta kesulitannya 5, maka aku harus menaikkan eskalasi menjadi 7. Mas-ku (Bahasa Jawa: kakak) menaikkan level kehidupannya dengan cara menikah “Hidup itu seperti game, kamu harus naik level. Dan yakinlah, kerja itu susahnya 1, menikah itu susahnya 10, dan mungkin kalau sudah punya anak susahnya bakal jadi 100”.
Orang tuaku menyuruhku untuk kerja dulu yang stabil, baru menaikkan level dengan cara yang sama seperti masku (dan jutaan orang lain di seluruh dunia): menikah dan beranak pinak. Aku yang di tingkat makanan perpisahan saja tidak mau sama dengan orang lain, membelot dengan mengajukan satu pertanyaan:
“Apakah naik level itu harus dengan menikah?” tanyaku.
Pakdhe-ku bilang ya harus, kamu harus punya pekerjaan stabil dan menikah. “Pakdhe sudah pernah muda, kamu belum pernah tua” katanya. Ah omong kosong, jawabku dalam hati karena tidak mau dikarate Pakdhe. Mendengar pertanyaan itu, orang tuaku kejang-kejang, sudah kehabisan akal menghadapi kuda liar ini. Mas-ku jauh lebih bijak, dia bilang,
“Pilih levelmu sendiri, Jon” kata masku “Itu yang membedakan kehidupan dengan permainan”.
Alwi Johan,
5 Mei 2025
ini adalah karya pertamaku sebagai seorang pengangguran.
Daftar pustaka:
- The Happiness Project (Gretchen Rubin) ↩︎
- Ed Viesturs Listen to the mountain, TEDXRainier. ↩︎
- Always Look on the Bright Side of Life: A Sortabiography (Eric Idle). Potongan eulogi Monty Python terhadap Graham Chapman bisa diakses di sini. John Cleese adalah orang pertama yang bilang “FUCK, SHIT, BASTARD” di acara pemakaman Britania Raya ↩︎
- Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Ajahn Brahm) ↩︎
- Bloopers yang niatnya dibikin buat lucu-lucuan ternyata Pak Dino suka. “Can I upload this?” Tentu saja! Awalnya aku menghapus bagian jokowi yang ‘yo ndak tau kok nanya saya’ karena terlalu politis, tapi Pak Dino malah bilang “I like the Jokowi part, thats so hilarious”. Aku kembali memasukkan bagian jokowi dan itulah revisi terakhirku di FPCI. Videonya bisa ditonton di sini ↩︎
- Jika kalian search “Rekomendasi makanan resign” di Google, maka kalain akan menemukan hal yang relatif sama: donat, pizza, kue, dimsum, dan mentok tumpeng. Aku yakin, tidak ada yang merekomendasikan rujak karena hanya orang halu yang kepikiran itu. ↩︎
- Into The Wild (Jon Krakauer) BAB 5 Bullhead City ↩︎
- The Road Not Taken (Robert Frost) ↩︎
- Kisah Dua Batu Bata Jelek dalam Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Ajahn Brahm). Lama kelamaan si biksu lupa letak di mana batu bata jelek itu ditempatkan. Dia mengibaratkan itu sebagai kesalahan yang sering dilakukan pasangan kita yang membuat kita lupa hal baiknya. Tapi aku menginterpretasikan kisah itu dalam kehidupan, bahwa sering kali kita lupa, mengutip Monty Python, untuk melihat sisi terang kehidupan (atau bahkan kematian). ↩︎
- hari pertama kerja, sebuah catatan tentang pengalamanku menghadapi Jakarta di bulan pertama. ↩︎





Comments are closed.