Minyak sawit dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahan ini tidak hanya memenuhi wajan untuk menggoreng makanan, tetapi juga dapat ditemukan dalam sabun, sampo, kosmetik, dan berbagai produk rumah tangga. Karena digunakan begitu luas, muncul kesan bahwa manusia modern tidak dapat memasak atau mandi tanpa minyak sawit. Benarkah demikian?
Sebelum minyak sawit mendominasi pasar, masyarakat Indonesia telah lama menggunakan minyak kelapa. Proses pembuatannya relatif sederhana. Daging kelapa diparut, diambil santannya, kemudian dipanaskan selama beberapa jam. Panas membuat air menguap dan merusak kestabilan emulsi santan, sehingga lemak terpisah dan muncul sebagai minyak di permukaan.
Cara lain dilakukan dengan mengeringkan daging kelapa menjadi kopra. Kopra dicincang lalu dipanaskan hingga mengeluarkan minyak. Setelah dingin, minyak disaring dan dapat digunakan untuk memasak. Pengetahuan ini masih dipraktikkan oleh sejumlah masyarakat di Pulau Bangka, pesisir timur Sumatera, dan wilayah lain yang memiliki banyak pohon kelapa.
Peralihan besar terjadi ketika minyak sawit tersedia dengan harga lebih terjangkau. Pasokannya yang melimpah turut mengubah kebiasaan memasak. Teknik menggoreng dengan banyak minyak atau deep frying menjadi semakin umum, baik di rumah maupun dalam industri makanan.
Padahal, teknik memasak Nusantara pada masa lalu tidak selalu bergantung pada minyak. Berbagai bahan pangan lebih sering direbus, dikukus, dibakar, dipanggang, atau dimasak dalam kuah. Sejumlah makanan yang sekarang lazim digoreng pun sebelumnya memiliki versi rebus dan panggang. Pempek, misalnya, dahulu tidak selalu disajikan dengan cara digoreng.
Ketergantungan pada sawit tidak terlepas dari sifat tanamannya yang produktif. Sawit mampu menghasilkan minyak dalam jumlah besar sehingga menarik bagi industri. Namun, keuntungan ini disertai persoalan ketika perkebunan terus diperluas dengan mengubah hutan dan lahan pertanian. Dampaknya dapat berupa hilangnya habitat satwa, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta munculnya konflik lahan dan persoalan ketenagakerjaan.
Minyak sawit juga mudah ditemukan dalam produk perawatan tubuh. Dari satu bahan dasar, industri dapat menghasilkan berbagai senyawa turunan yang membantu membersihkan, menghasilkan busa, mempertahankan tekstur, atau mencampurkan bahan yang sulit menyatu. Meski demikian, fungsi-fungsi tersebut bukan berarti hanya dapat diperoleh dari sawit. Minyak kelapa dan bahan nabati lain juga dapat menjadi sumber alternatif.
Mengurangi ketergantungan pada minyak sawit bukan berarti seluruh penggunaannya harus dihentikan seketika. Langkah yang lebih masuk akal adalah mengurangi konsumsi minyak berlebihan, memperbanyak teknik memasak tanpa menggoreng, serta menghidupkan kembali pengolahan bahan lokal.
Kelangkaan minyak goreng memberi pelajaran penting: persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya sawit, melainkan hilangnya keragaman pilihan. Kita tetap dapat memasak dan mandi tanpa minyak sawit, selama pengetahuan tentang bahan alternatif tidak ikut menghilang.
Artikel asli ditulis oleh Taufik Wijaya.
Foto: Lempah kuning, kuliner khas Bangka Belitung yang kaya rempah. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.





Comments are closed.