Asap tipis mulai mengepul dari pondok kecil di tepi sawah Desa Tarutung, Kecamatan Batang Merangin, Kerinci, Jambi. Di bawah atap seng yang mulai berkarat, Nur Ainun mengaduk air rebusan ubi dengan sepotong kayu. Di hadapan perempuan 54 tahun ini terbentang hamparan sawah dengan Semak belukar belum lama mereka bersihkan. Suaminya masih berada di tengah petak sawah. Ayunan parang terdengar berulang-ulang memotong ilalang yang tumbuh hampir setinggi pinggang. Sesekali dia berhenti, mengusap peluh, lalu kembali menebas perdu yang selama dua tahun menguasai lahan. Ini kali ketiga mereka membersihkan lahan tani yang sama. Bukan karena tanah tak lagi subur, bukan pula karena mereka berhenti menjadi petani. Mereka meninggalkan lahan itu karena air tak lagi datang. “Semoga kali ini airnya lancar, supaya kami bisa mulai menyemai padi,” kata Nur Ainun lirih, April lalu. Sawah Nur tidak jauh dari tepian sungai. Selama puluhan tahun, keluarganya tak pernah ada masalah air. Sungai mengalir mengikuti musim, kincir-kincir kayu yang warga pasang mengangkat air menuju saluran irigasi tanpa pernah banyak mereka pikirkan. Sungai bekerja seperti napas. Tenang, teratur dan mereka bisa pahami. Petani tahu kapan mulai membajak, menyemai, memupuk, bahkan panen. Mereka membaca musim dari tinggi permukaan sungai, sebagaimana nelayan membaca arus dari warna air. Kini, semua pengetahuan itu perlahan kehilangan makna. Air bisa surut pada pagi hari. Beberapa jam kemudian tiba-tiba meluap, lalu menghilang lagi. Tak ada lagi pola yang bisa mereka baca. Tak ada lagi kepastian. “Bulan kedua setelah tanam biasanya kami memberi pupuk,” kata Nur. Lahan sawah yang tak petani tanami lagi karena…This article was originally published on Mongabay
Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang
Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang





Comments are closed.