Arina.id – Salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah adalah sholat Tarawih, yaitu sholat sunnah yang dikerjakan setelah sholat Isya pada bulan Ramadhan. Ibadah ini memiliki kekhususan karena hanya disyariatkan pada bulan Ramadhan saja. Oleh karena itu, apabila dilakukan di luar bulan tersebut, maka tidak disebut sebagai sholat Tarawih.
Pelaksanaan sholat Tarawih dilakukan dengan 2 rakaat kemudian salam. Jika dikerjakan 4 rakaat sekaligus dengan 1 salam, maka menurut sebagian ulama tidak dianggap sebagai pelaksanaan Tarawih sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini karena praktik yang diajarkan Rasulullah adalah 2 rakaat satu salam.
Dalam pandangan ulama mazhab Syafi’i, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan sholat Tarawih bersama para sahabat sebanyak 8 rakaat di masjid. Namun setelah itu beliau melanjutkan sholat malamnya di rumah. Terkait dengan hal ini dijelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak menambah rakaatnya di masjid karena ingin meringankan para sahabat.
فَإِنْ قُلْت: أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ التَّرَاوِيحَ عِشْرُونَ رَكْعَةً وَالْوَارِدُ مِنْ فِعْله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثَمَانِ رَكَعَاتٍ. قُلْت: أُجِيبُ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يُتَمَّمُونَ الْعِشْرِينَ فِي بُيُوتِهِمْ بِدَلِيلِ أَنَّ الصَّحَابَةَ إذَا انْطَلَقُوا إلَى مَنَازِلِهِمْ يُسْمَعُ لَهُمْ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الدَّبَابِيرِ، وَإِنَّمَا اقْتَصَرَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى الثَّمَانِ فِي صَلَاتِهِ بِهِمْ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمْ الْعِشْرِينَ تَخْفِيفًا عَلَيْهِمْ اهـ اج.
Artinya: “Jika ada yang bertanya “Ulama sepakat bahwasanya jumlah rakaat Tarawih adalah 20 rakaat, padahal yang dikerjakan Nabi saw itu hanya 8 rakaat saja”, Maka dijawab “Rasulullah SAW meneruskannya di rumah hingga genap menjadi 20 rakaat, hal ini diriwayatkan oleh para Sahabat yang melewati rumah beliau SAW. Di mana mereka mendengar suara tangisan (petanda bahwa Rasulullah SAW sedang sholat), adapun alasan mengapa Rasulullah saw hanya Tarawih 8 rakaat saja ketika bersama sahabat dan beliau meneruskannya di rumah, adalah karena beliau meringankan kepada para sahabatnya”. (Hasyiyah Al-Bujairimi ala al-Khatib, Juz 1 Halaman 421)
Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Khatib:
وَقَوْلُهُ ” وَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ” أَيْ: ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ الثَّلَاثِ، وَأَمَّا الْبَقِيَّةُ فَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُهَا فِي بَيْتِهِ قَبْلَ مَجِيئِهِ أَوْ بَعْدَهُ وَالظَّاهِرُ الْأَوَّلُ اهـ مِنْ ع ش عَلَى م ر.
Artinya: “Rasulullah SAW sholat Tarawih di masjid hanya berjumlah 8 rakaat saja, adapun sisanya (kemungkinan) beliau teruskan di rumahnya. Ada yang mengatakan sebelumnya dan sesudahnya, namun pendapat yang dzahir dijelaskan bahwa Rasulullah SAW menggenapi Tarawih dengan 20 di sebelumnya”. (Hasyiyah al-Jamal, Juz 2 Halaman 489)
Dalam praktik yang berkembang di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, sholat Tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat. Hal ini tidak hanya merujuk pada praktik Rasulullah SAW, tetapi juga mengikuti kebijakan sahabat Sayyidina Umar bin Khattab yang mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan sholat Tarawih secara berjamaah dengan jumlah tersebut.
وَقَدْ قِيلَ: إنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مَوْضِعًا حَوْلَ الْعَرْشِ يُسَمَّى حَظِيرَةَ الْقُدْسِ وَهُوَ مِنْ النُّورِ وَفِيهِ مَلَائِكَةٌ لَا يَعْلَمُ عَدَدَهُمْ إلَّا اللَّهُ تَعَالَى يَعْبُدُونَ اللَّهَ تَعَالَى عِبَادَةً لَا يَفْتَرُونَ سَاعَةً، فَإِذَا كَانَ لَيَالِيَ رَمَضَان اسْتَأْذَنُوا رَبَّهُمْ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَنْزِلُوا إلَى الْأَرْضِ وَيَحْضُرُوا مَعَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ، فَكُلُّ مَنْ مَسَّهُمْ أَوْ مَسُّوهُ سَعِدَ سَعَادَةً لَا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا، فَلَمَّا سَمِعَ عُمَرُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – هَذَا قَالَ: نَحْنُ أَحَقُّ بِهَذَا الْفَضْلِ وَالْأَجْرِ، فَجَمَعَ النَّاسَ عَلَى صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَكَانَ ذَلِكَ سَنَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِنْ الْهِجْرَةِ وَمَا قَبْلَ ذَلِكَ لَمْ تَقُمْ جَمَاعَةٌ مِنْ حِينِ شُرِعَتْ إلَّا مَرَّةً وَشُرِعَتْ فِي السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ الْهِجْرَةِ لِمُضِيِّ إحْدَى وَعِشْرِينَ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، «فَخَرَجَ النَّبِيُّ وَصَلَّى بِهِمْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ إلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَكَانَ ذَلِكَ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ. ثُمَّ خَرَجَ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ فَصَلَّى بِهِمْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ إلَى نِصْفِ اللَّيْلِ، ثُمَّ خَرَجَ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَصَلَّى بِهِمْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ إلَى قُرْبِ الْفَجْرِ، ثُمَّ انْتَظَرُوا لَيْلَةَ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ فَلَمْ يَخْرُجْ لَهُمْ وَقَالَ لَهُمْ صَبِيحَتُهَا: خَشِيت أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجَزُوا» ، وَإِنَّمَا لَمْ يَخْرُجْ لَهُمْ مُتَوَالِيًا شَفَقَةً عَلَيْهِمْ.
Artinya: “Dikatakan bahwasanya Allah membuat sebuah tempat yang terbuat dari cahaya, tempatnya berada di sampingnya arsy yang bernama Hadzirah al-Quds, di sana ditempati oleh banyak malaikat yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah SWT saja. Mereka senantiasa beribadah kepada Allah SWT, namun jika telah tiba bulan Ramadhan, mereka meminta izin kepada Allah SWT untuk turun ke bumi. Guna mengikuti Tarawihnya umat Nabi Muhammad SAW, sesiapa yang berkesempatan menyentuhnya atau disentuh oleh mereka, niscaya mereka akan mendapatkan kebahagiaan selamanya. Ketika Sahabat Umar bin Khattab mendengar hal ini, beliau berkata “kami yang paling berhak dengan keutamaan ini”. Kemudian beliau mengumpulkan segenap kaum Muslimin untuk melaksanakan Tarawih secara berjamaah, peristiwa ini terjadi pada tahun 24 Hijriah. Di mana sebelumnya tidak pernah terjadi fenomena Tarawih berjamaah, kecuali 1 kali saja. Sholat Tarawih ini disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, setelah tanggal 21 Ramadhan. Rasulullah SAW sendiri pada waktu itu keluar saat tanggal 23 Ramadhan, beliau saw sholat bersama sahabat hingga sepertiga malam sejumlah 8 rakaat. Lalu pada malam 25 Ramadhan, Rasulullah SAW keluar lagi untuk sholat bersama sahabat hingga separuh malam sejumlah 8 rakaat juga. Kemudian demikian pula pada malam 27, beliau sholat bersama para sahabat hingga mendekati fajar sejumlah 8 rakaat. Lalu pada malam 29, Rasulullah SAW ditunggu oleh para sahabat, namun beliau tidak keluar. Kemudian beliau SAW pada pagi harinya menjelaskan “Aku tidak keluar, takutnya sholat ini diwajibkan bagi kalian”, yakni Rasulullah SAW tidak keluar secara terus menerus, karena mengasihi para sahabat.” (Hasyiyah Al-Bujairimi ala al-Khatib, Juz 1 Halaman 421)
Disebutkan dalam beberapa keterangan ulama bahwa pada malam-malam Ramadhan para malaikat turun ke bumi untuk menyaksikan dan ikut menghadiri ibadah umat Nabi Muhammad SAW, khususnya sholat Tarawih. Ketika mendengar keutamaan tersebut, Umar bin Khattab RA kemudian mengajak umat Islam untuk melaksanakan sholat Tarawih secara berjamaah.
Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahannya, setelah sebelumnya sholat Tarawih berjamaah hanya pernah dilakukan sekali pada masa Rasulullah SAW.
Dalam riwayat disebutkan bahwa pada beberapa malam di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW keluar untuk memimpin sholat malam bersama para sahabat sebanyak delapan rakaat hingga sepertiga malam, kemudian pada malam berikutnya hingga pertengahan malam, dan pada malam lainnya hingga mendekati fajar. Namun pada malam berikutnya beliau tidak keluar lagi karena khawatir sholat tersebut akan diwajibkan kepada umatnya, sehingga memberatkan mereka.
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW juga melaksanakan sholat malam dengan jumlah yang lebih banyak, meskipun tidak seluruhnya dilakukan secara berjamaah di masjid. Oleh karena itu, umat Islam kemudian mengikuti praktik para sahabat, khususnya kebijakan Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab RA, dengan melaksanakan sholat Tarawih 20 rakaat secara berjamaah. Wallahu a’lam bisshawab.





Comments are closed.