Sun,2 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Jejak Konflik Tenurial Perusahaan Hutan Energi di Gorontalo Utara

Jejak Konflik Tenurial Perusahaan Hutan Energi di Gorontalo Utara

jejak-konflik-tenurial-perusahaan-hutan-energi-di-gorontalo-utara
Jejak Konflik Tenurial Perusahaan Hutan Energi di Gorontalo Utara
service

Marten Laita, belum lupa. Siang itu, sepulang dari pasar pada  2012, dia dapati kebunnya seluas delapan hektar di Desa Bubode, Gorontalo Utara mendadak berubah rupa. Beragam pohon yang dia tanam bertahun-tahun, seperti nangka, durian, kakao, pisang, hingga cengkih bertumbangan dan tergantikan tanaman industri. PT Gema Nusantara Jaya (GJN) yang mendapat izin sejak 2011. Lebih terkejut lagi saat dia mendapati jejak alat berat memenuhi hamparan kebun. “Semuanya sudah rata,” kenangnya. Menurut dia, apa yang terjadi di kebunnya buntut klaim GNJ, kebun yang dia kelola berada di wilayah konsesi perusahaan. Padahal, tak sekalipun dia menerima surat peringatan, undangan musyawarah, ataupun penjelasan tentang batas konsesi. Sehari sebelumnya, dia hanya melihat alat berat terparkir tak jauh dari kebunnya.  Saat dia ke pasar untuk menjual hasil panen, alat-alat berat perusahaan masuk dan menghancurkan semua tanaman yang menjadi sumber penghidupannya. Marten  sempat mendengar kabar dari warga lain bahwa kebun mereka terima Rp250.000 per hektar, nilai ini lebih kecil dari hasil satu kali panen kakao atau  cengkih. Apalagi, dia tak pernah mendengar tawaran itu secara langsung. “Ini yang membuat warga Bubode marah. Wilayah itu diperlakukan seolah-olah tanah kosong, padahal kami sudah lama mengelolanya,” kata Marten. Yones Bagu, warga lain alami serupa setelah dua hektar kebun jagung perusahaan sasak dengan alat berat. Gara-gara itu, dia merugi hingga Rp10 juta lantaran untuk satu hektar saja, dia perlu modal Rp3 juta–Rp5 juta untuk benih, pupuk, dan ongkos kerja. Dalam satu musim, Yones  bisa mendapat 8-10 ton jagung per hektar. Dengan dua hektar, produksinya bisa mencapai 16-20 ton. Saat harga stabil,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.