Sun,6 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Katib Syuriyah PBNU: Tradisi Keagamaan Cara Islam Tetap Hidup di Masyarakat

Katib Syuriyah PBNU: Tradisi Keagamaan Cara Islam Tetap Hidup di Masyarakat

katib-syuriyah-pbnu:-tradisi-keagamaan-cara-islam-tetap-hidup-di-masyarakat
Katib Syuriyah PBNU: Tradisi Keagamaan Cara Islam Tetap Hidup di Masyarakat
service

Jakarta Barat, NU Online Jakarta

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Faiz (Gus Faiz) menyebutkan bahwa tradisi keagamaan seperti haul, maulid, tahlilan, dan berbagai amaliah lain yang hidup di tengah masyarakat bukanlah praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam. 

Menurutnya, tradisi tersebut merupakan hasil ijtihad para ulama dalam menerjemahkan nilai-nilai syariat agar tetap hidup dan membumi di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Gus Faiz saat memberikan ceramah dalam Peringatan Haul Ke-79 KH Abdul Majid bin KH Abdurrahman (Guru Majid) di Masjid Al-Musyari’in, Kampung Basmol, Jakarta Barat pada Ahad (1/2/2026). 

“Betapa guru-guru kita, para kiai, para ulama di masa lalu itu bisa menerjemahkan ajaran agama Islam yang sederhana, yang mungkin kalau tidak diterjemahkan dalam bentuk seperti ini akan banyak amalan saleh yang terlupakan dan terlalaikan dalam ingatan kita,” ujarnya melalui kanal Youtube Open Broadcast dikutip NU Online Jakarta, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan tradisi keagamaan sejatinya merupakan gabungan harmonis antara syariat dan budaya. Tradisi seperti tahlil, maulid, dan manaqib dalam haul ini adalah bentuk dari kreativitas manusia yang memberi warna pada praktik keberagamaan, tanpa menghilangkan substansi ajaran Islam itu sendiri.

Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta itu juga menyoroti fenomena di kota-kota besar, di mana sebagian umat Islam baru belajar agama, tetapi belum memahami struktur Islam secara utuh. Akibatnya, muncul sikap mudah memprotes dan mempersoalkan tradisi keagamaan yang telah dirawat oleh para ulama.

“Ada orang tanya saya, apa dalilnya haul, apa dalilnya maulid. Padahal, tidak semua praktik keagamaan bisa dicari dalil tekstualnya secara literal. Tapi kalau orang belajar agama dengan benar, ngerti ushul fikih, maka dengan mudah orang itu tidak akan gampang protes,” jelasnya.

Ia mengibaratkan sikap tersebut sebagai gejala “muslim yang gemar protes”, yakni kecenderungan memahami agama secara sempit dengan hanya berpegang pada teks Al-Qur’an dan hadis sahih tanpa mempertimbangkan metodologi istinbath hukum yang telah diwariskan ulama.

Selengkapnya klik di sini.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.