Senin pagi bulan Juni lalu, Novry mengemudikan perahu fiber menyeberangi Teluk Kupang menuju Pulau Kera. Hari itu, bersama istri dan beberapa tetangganya, dia baru saja kembali dari Pasar Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk menjual hasil tangkapan. Setelah terjual, mereka kembali ke pulau dengan membawa air bersih, bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Pulau Kera berada di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mayoritas warga adalah Suku Bajo dari Buton dan Wakatobi. Tiap hari, Novry bersama para nelayan menangkap ikan tuna, cakalang, tongkol yang mereka pancing dari rumpon. “Pulau Kera ini anugerah Tuhan. Hal yang penting, kami bisa hidup berdampingan dengan laut saja sudah cukup,” kata Novry, Ketua Serikat Nelayan Pulau Kera (SNPK), Senin (26/6/26). Sebagai generasi kelima yang tinggal dan besar di Pulau Kera, Novry bersama warga Pulau Kera menggantungkan hidup pada laut. Mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menyekolahkan anak. Tak hanya jenis ikan laut, mereka juga seringkali menangkap gurita, beragam jenis karang dan budidaya rumput laut. Nana, nelayan perempuan Pulau Kera sejak subuh sudah mulai bekerja. Dia membersihkan perahu suaminya, memperbaiki tali-tali rumpon hingga sesekali ikut melaut. Saat siang tiba, dia menyusuri pesisir memanen rumput laut hingga petang. “Dari laut inilah kami bisa hidup. Hasil ikan dan rumput (laut) cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,” katanya, Minggu (28/6/26). Novry bersama istri dan tetangganya menggunakan perahu menuju Pulau Kera, usai menjual hasil tangkapan, membeli air bersih, dan belanja kebutuhan rumah tangga di Pasar Oeba. Mobilitas laut seperti ini menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia…This article was originally published on Mongabay
Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera
Ketika Ancaman Relokasi Terus Hantui Warga Pulau Kera





Comments are closed.