Sat,5 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Perubahan Iklim Pengaruhi Lebah Hutan Meratus

Ketika Perubahan Iklim Pengaruhi Lebah Hutan Meratus

ketika-perubahan-iklim-pengaruhi-lebah-hutan-meratus
Ketika Perubahan Iklim Pengaruhi Lebah Hutan Meratus
service

Syarianto, pengepul madu skala kecil asal Desa Hampang, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), gundah. Pasalnya, hingga akhir Januari, dia belum menerima setetes pun madu hasil panen hutan hujan tropis di Pegunungan Meratus. Terakhir kali dia menerima madu hutan sebanyak 50 liter dari para pemuai–pemburu yang biasa memanjat langsung ke atas pohon tinggi untuk mengambil sarang lebah–pada Desember 2025. Itu pun hasil panen dua tahun sebelumnya. Permintaan terus berdatangan, sedang  setok madu dalam kemasan botol 600 mililiter di rumah sudah habis. “Para pemuai yang kita percaya datang sendiri ke rumah. Madu disimpan tahun 2024 pun juga sudah habis bulan itu juga,” katanya. Biasanya, dalam setahun, dia bisa menampung hingga 500 liter madu yang datang dari dataran tinggi. Ia melibatkan sekitar 20 orang, mulai Desa Cantung, Kiri Hulu, Hulu Sampanahan, Limbur, hingga Muara Urie. Pada waktu tertentu, suplai juga datang dari kabupaten tetangga. “Memang saat ini yang aku lihat dari sekian ratus pohon tidak ada sarangnya,” kata pria yang sudah menekuni usaha madu sejak 2014 itu. Di Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, desa tertinggi di Pegunungan Meratus, Alli, seorang pemuai, dan sembilan temannya, juga belum menemukan sarang yang terisi koloni lebah madu. “Biasanya memuai musim hujan, musim berkembang, seperti sekarang. Tetapi di kampung saat ini masih belum ada, Bang,” katanya. Dia memprediksi lebah madu hutan (Apis dorsata) berkurang berkaitan dengan tanaman di kampung yang tidak berbuah maksimal. Akibatnya, lebah tidak memiliki cukup pakan untuk menghasilkan madu. “Lebahnya juga tidak ada. Tidak tahu kenapa. Madu tidak mau datang kalau…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.