Gunung api raksasa Kikai di Kepulauan Ryukyu, Jepang, itu menyembunyikan kekuatannya di dasar laut. Pada era Holosen sekitar 7300 tahun lalu, Kikai meletus. Letusan diikuti megatsunami, yang menenggelamkan pulau-pulau di bagian selatan Jepang. Abu vulkaniknya menutupi hampir seluruh daratan Jepang, bahkan mencapai Korea Selatan. Kubah lava bawah laut raksasa pun terbentuk dan kini berada di kedalaman sekitar 600 meter. Letusan dahsyat juga membentuk struktur kaldera berukuran sekitar 20 km x 17 km. Setelah letusan itu, Kikai tidak lantas mati. Perlahan perutnya kembali terisi. Erupsi kecil terjadi 17 Mei 2026 lalu, berupa semburan gas dan abu setinggi 400 meter. Perut supervulkano tidak selalu kosong setelah erupsi besar. Energi masih bisa kembali punya taji setelah dilepaskan pada erupsi besar. Konsekuensinya, supervolcano yang pernah meletus tetap berpotensi aktif. Ancaman erupsi besar di masa depan masih mungkin terjadi. “Kami mengajukan sebuah model melt re-injection, yaitu magma baru secara alamiah terinjeksi kembali ke dalam reservoir magma besar pada kedalaman dangkal, tepat di bawah kaldera. Reservoir ini adalah ruang magma sama yang pernah memicu letusan Kikai-Akahoya. Model ini mungkin menunjukkan ciri umum pada gunung berapi yang telah mengalami letusan kaldera raksasa,” tulis Akihiro NAgaya, mewakili rekannya. Laporan penelitian mereka berjudul “Melt re-injection into large magma reservoir after giant caldera eruption at Kikai Caldera Volcano” terbit di jurnal Communications Earth & Environment (Nature), 27 Maret 2026. Mereka menggunakan metode pengukuran baru untuk mendeteksi reservoir magma usai erupsi besar. Yaitu, survei seismik refraksi laut dalam di sekitar kaldera, dengan menggunakan pengukuran kecepatan gelombang seismik yang merambat melalui batuan…This article was originally published on Mongabay
Supervolcano Kikai Simpan Magma Baru. Apa Kaitannya dengan Gunung Toba?
Supervolcano Kikai Simpan Magma Baru. Apa Kaitannya dengan Gunung Toba?





Comments are closed.