Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna •
KABARBURSA.COM – Ekspor China mulai kehilangan momentum pada Maret 2026 setelah sebelumnya didorong kuat oleh permintaan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Survei Reuters pada 13 April 2026 memperkirakan ekspor China tumbuh 8,6 persen secara tahunan (year-on-year) pada Maret. Angka ini melambat jika dibandingkan pertumbuhan 21,8 persen pada periode Januari–Februari 2026, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 10 Maret 2026.
Surplus perdagangan juga diperkirakan turun menjadi USD108 miliar dari USD214 miliar pada periode sebelumnya. Kinerja ekspor pada awal tahun ditopang sektor teknologi.
Sumber yang sama juga mencatat lonjakan ekspor elektronik, khususnya integrated circuits, yang tumbuh 66,5 persen secara tahunan dan menjadi yang tercepat dalam lebih dari satu dekade.
Selain itu, ekspor kendaraan listrik, baterai lithium-ion, dan produk energi surya juga menjadi kontributor utama. Permintaan tersebut sejalan dengan ekspansi global infrastruktur AI.
“Kekuatan ekspor sirkuit terpadu dan teknologi memang sudah diperkirakan, sejalan dengan ledakan investasi kecerdasan buatan,” kata Ekonom Senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen dilansir dari Reuters, 10 Maret 2026.
Melansir Reuters 25 Maret 2026, lonjakan kebutuhan chip yang dipicu peningkatan kapasitas komputasi AI. Direktur penjualan China Teradyne, Terry Feng, menyatakan AI telah secara signifikan meningkatkan kebutuhan daya komputasi, dan pada akhirnya meningkatkan kebutuhan pengujian semikonduktor.
Namun, momentum tersebut mulai tertahan oleh tekanan eksternal. Konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.
Reuters melaporkan beberapa minyak fisik diperdagangkan mendekati USD150 per barel, mencerminkan ketatnya pasokan untuk pengiriman segera.
Tekanan ini mulai merembet ke ekonomi domestik China. Reuters pada 7 April 2026 melaporkan pemerintah China membatasi kenaikan harga bahan bakar, dengan bensin naik 420 yuan per ton dan solar 400 yuan per ton. Langkah ini diambil untuk menahan dampak biaya terhadap sektor industri.
Ekonom juga memperingatkan risiko inflasi berbasis biaya. Tekanan harga energi ini dapat memicu “bad inflation” yang menggerus margin industri manufaktur.
Dampak konflik juga meluas ke sektor logistik. Reuters (8 April 2026) menyebut gangguan di Selat Hormuz mulai mengganggu rantai pasok global dan diperkirakan berdampak dalam beberapa bulan ke depan.
Biaya pelayaran pun meningkat signifikan, dengan Hapag-Lloyd memperkirakan tambahan biaya krisis mencapai USD50-60 juta per pekan.
Selain itu, perubahan arus perdagangan mulai terlihat. Reuters melaporkan produsen aluminium Rusal mempertimbangkan pengalihan pasokan dari China ke pasar lain di Asia akibat perubahan dinamika perdagangan.
Dari sisi makro, Dana Moneter Internasional (IMF) menilai konflik ini berdampak luas. Managing Director IMF Kristalina Georgieva mengatakan kepada Reuters.
“Semua jalan kini mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” kata Kristalina, dikutip dari Reuters, 6 April 2026.
Di tengah tekanan tersebut, analis menilai momentum ekspor China masih memiliki penopang dari sektor teknologi, tetapi mulai melemah dalam jangka pendek.(*)





Comments are closed.