Jakarta –
Kasus kekerasan anak di daycare Little Aresha Jogja masih menjadi sorotan publik. Kasus ini telah ditangani oleh pihak berwajib, Bunda.
Peristiwa ini mencuat usai pihak kepolisian melakukan penggerebekan di daycare Little Aresha yang berada di Umbulharjo, Yogyakarta, pada Jumat (24/04/26). Dalam proses tersebut, sebanyak 30 orang diamankan, dan 13 di antaranya telah resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Baru-baru ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, DIY, membeberkan hasil asesmen terhadap sejumlah anak yang menjadi korban di daycare Little Aresha. Menurut Dinkes, belasan anak terindikasi mengalami gejala kurang gizi dan gangguan tumbuh kembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinkes Kota Jogja, Emma Rahmi Aryani mengatakan bahwa pemeriksaan tak hanya dilakukan terhadap korban yang terdata dalam laporan polisi. Mereka juga melakukan pemeriksaan kepada semua anak yang keluarganya mengadu ke tim khusus Pemkot Jogja.
“Kemarin karena dibuka (layanan aduan), dibuka untuk yang alumni (daycare) itu juga bisa periksa kemarin,” kata Emma saat dihubungi wartawan, Senin (4/5/26).
“Sebetulnya kan kemarin ada 149 (anak yang terdata), tapi kemarin yang baru diperiksa 131 [anak]. Tapi yang (sudah diperiksa) gizinya itu 125 kalau enggak keliru, karena ada yang kesuwen (kelamaan) nunggu atau gimana kan ya, belum sempat diperiksa psikolognya,” sambungnya.
Menurut Emma, dari ratusan anak yang telah menjalani pemeriksaan, belasan di antaranya terindikasi kurang gizi dan mengalami gangguan perkembangan. Beberapa indikasi gangguan perkembangan ini seperti Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas atau ADHD hingga kemampuan perkembangan bicara lebih lambat (speech delay).
“Kalau kemarin itu 17 (anak) yang masalah gizi, yang [gangguan] perkembangan ada 13 (anak). (Gangguan) perkembangan itu ada yang hiperaktif, ada yang autis. Ya itu baru diagnosis sementara nanti kan itu harus diperiksa lagi,” ujarnya.
“Itu kecenderungan ke sana, jadi kemarin belum didiagnosis pasti, baru sementara. Itu yang speech delay ada tiga (anak), terus ada yang hiperaktif, ADHD, bahasanya ADHD.”
Dinkes melakukan tindak lanjut atas temuan ini, Bunda. Bagi anak yang terindikasi gizi kurang akan ditindaklanjuti dan didampingi Puskesmas dekat domisili dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Menurut Emma, Puskesmas menyediakan tim yang terdiri dari dokter, bidan, nutrisionis, hingga psikolog.
Sementara bagi anak yang terindikasi mengalami gangguan perkembangan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Hasilnya nanti akan dijadikan acuan untuk pemberian terapi selanjutnya.
Lantas, bagaimana rencana terapi dan proses penyembuhan pada anak yang mengalami gangguan perkembangan usai menjadi korban kekerasan anak di daycare Little Aresha Jogja?
TERUSKAN MEMBACA DI SINI.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)





Comments are closed.