Arina.id — Tekanan kemanusiaan di Lebanon kian memuncak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa jumlah pengungsi yang kini berada di negara tersebut telah melampaui 1,1 juta orang atau hampir seperlima dari total populasi nasional.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam keterangannya kepada wartawan pada Senin, menyoroti kondisi memprihatinkan yang dihadapi para pengungsi. Sekitar 137.000 orang memang telah tertampung di fasilitas resmi, namun sebagian besar lainnya tersebar di komunitas lokal dan permukiman informal, dengan akses terbatas terhadap kebutuhan dasar.
“Ketersediaan air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, hingga pendidikan masih menjadi tantangan besar bagi mayoritas pengungsi,” ujarnya.
Situasi ini, seperti dilaporkan Al Jazeera, semakin memperparah krisis berkepanjangan yang telah melanda Lebanon. Negara tersebut sebelumnya sudah bergulat dengan tekanan ekonomi berat, termasuk inflasi tinggi dan melemahnya layanan publik.
Di tengah keterbatasan, banyak keluarga pengungsi kini sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan yang jumlahnya kian menipis. Di sisi lain, masyarakat lokal yang menampung mereka juga menghadapi beban tambahan yang tidak ringan.
Sejumlah organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa tanpa peningkatan dukungan internasional, kondisi ini berisiko berkembang menjadi krisis yang lebih dalam dan kompleks. Kekhawatiran juga mencuat terkait potensi dampak terhadap stabilitas sosial dan ekonomi negara tersebut.
Pemerintah Lebanon bersama lembaga internasional terus menyerukan solidaritas global, baik melalui pendanaan, bantuan logistik, maupun program perlindungan bagi kelompok rentan terutama perempuan dan anak-anak.
Krisis di Lebanon terus meluas setelah perang antara Israel dan Hizbullah, pendukung kuat Iran, meluas ke berbagai wilayah di Beirut. Israel memperluas sasaran serangannya dan mulai membom area yang berada di luar wilayah yang dikenal sebagai basis pendukung Hizbullah, termasuk kawasan pusat kota.





Comments are closed.