Berikut adalah catatan tentang sosiologis pesantren yang kerap disalahpahami dan ditulis oleh alumni Pesantren Lirboyo.
Pesantren sejak semula hadir membersamai kaum marginal, lemah, jauh dari akses pada kekuasaan dan sumberdaya, miskin, dan pedesaan. Pesantren adalah lembaga pendidikan alternatif bagi orang tua yang ingin anaknya bisa sekolah dan mesantren agar menjadi anak shaleh dengan keuangan keluarga yang lemah, dan lembaga yang dianggap oleh masyarakat bisa menjadi solusi dalam menyelesaikan kenakalan remaja.
Setidaknya dalam tulisan ini saya mencoba menjelaskan tentang landasan teologis dan sosiologis tiga tradisi pesantren yang penting diketahui publik.
Endalem
Yang paling terasa dan kentara adalah kiyai menjadi bapak asuh bagi anak-anak santri dari kalangan masyarakat kurang mampu. Dikenal dengan endalem dalam tradisi pesantren Jawa atau abdi endalem.
Endalem diberi pekerjaan tertentu, misal menjaga kantin, memasak, belanja bahan mentah untuk memasak, menjaga tokoh kitab, mengurus sapi ternak, membersihkan rumah dan pekerjaan yang lain.
Imbalan yang didapat dari kiyai adalah endalem mendapatkan makan dan minum gratis, biaya sekolah dan pesantren gratis. Mendapatkan jamu atau obat untuk kesehatan. Ini dari aspek materi.
Ada aspek non materi yang jauh lebih berharga. Pertama, seorang endalem punya kesempatan dekat dengan kiyai. Lebih dekat dari santri-santri yang lain.
Pandangan seorang ulama yang dituangkan dalam sebuah syair dikatakan bahwa obat hati itu di antaranya adalah bergaul dan dekat dengan ulama shaleh.
Kedua, mendapatkan sekill dan keahlian yang digelutinya. Ini bisa menjadi modal atau bekal kelak sudah pulang kampung.
Contoh kongkrit saya punya teman sekelas namanya Jumeno. Dulu ia endalem bagian jaga toko kitab. Ketika jaga toko, ia menjadi belajar bisnis jualan kitab. Ia tahu membeli kitab yang harga murah di mana, grosiran, jaringan dan dari hulu ke hilir bisnis tokoh kitab dikuasainya dengan baik.
Akhirnya ilmu bisnis itu sangat bermanfaat di saat pulang kampung. Ia merintis bisnis toko kitab dan maju.
Ketiga, memiliki ketangguhan mental dan spiritual yang kokoh. Kempat, keberkahan. Berkah adalah bertambahnya kebaikan di atas kebaikan. Boleh dibilang keberkahan adalah kebaikan yang terus mengalir.
Ada banyak kisah para kiyai yang waktu mesantren sebagai endalem atau abdi dalem kiyainya.
Di antaranya adalah KH. Azizi Hasbullah ahli bahtsul masail yang dulu abdi dalem Romo KH. Ahmad Idris Marzuki. Beliau seorang rois Suriah PBNU. Pengasuh pondok pesantren Blitar Jawa Timur. Dan masih banyak yang lain.
Penghormatan
Semua tradisi body language (bahasa tubuh) para santri ketika di depan kiyainya adalah bagian dari cara menghormati dan memuliyakan kiyai. Para santri akan pemposisikan diri lebih rendah dari kiyainya.
Secara teknik, ketika kiyai sedang duduk di kursi yang rendah, maka para santri akan memposisikan dirinya duduk di lantai. Ini etika penghormatan santri kepada kiyainya, sama sekali bukan dan tidak sedang kultus individu kepada kiyai. Sebagaimana dalam tradisi di sebagian daerah ada etika seorang anak kepada orangtuanya.
Penghormatan dan pemuliyaan kepada kiyai dilandasi pada sikap kecintaan lantaran kiyai adalah orangtua yang melahirkan dari kebodohan menuju pencerahan dan dari akhlak buruk menuju akhlak yang baik. Lebih dari itu, kiyai adalah seorang yang berilmu, shaleh, dan berakhlak muliya yang dalam pandangan Islam disunnahkan untuk dihormati dan dimuliyakan.
Para ulama menyatakan bahwa disunnahkan mencium tangan guru, ulama, orang-orang shaleh, dan orang-orang muliya. Imam an-Nawawi dalam kitab Fatawa al-Imam an-Nawawi menyatakan bahwa “disunnahkan mencium tangan orang-orang shaleh dan orang-orang alim yang agung”.
Penghormatan kepada guru, orang tua, orang alim, asketis/zahid, karena ilmu dan akhlak dan sesamanya adalah bagian dari urusan keagamaan, bukan urusan duniawi.
Dalam hadits Sunan Aby Dawud dikatakan bahwa tangan Kanjeng Nabi dicium oleh para sahabat dan anak cucunya. Sebagaimana Abu ‘Ubaidah mencium tangan Sayyidina Umar bin al-Khatthab sahabat dekat Nabi.
Syekh Dr Ahmad Syarbushy dalam kitab Yasalunaka fi ad-Din wa al-Hayat menyatakan bahwa mencium tangan seseorang adalah muliya ketika bertujuannya muliya. Niat baik dan muliya mencium tangan kedua orang tua, guru, mursyid rohaniyah, orang shaleh, kekasih Allah/ wali, atau seorang yang agung yang menebar manfaat adalah muliya, baik, dan dianjurkan.
Bahkan mayoritas ulama dan as-Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam kitab Rawai’ al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam ketika menafsirkan QS. Al-Mujadalah: 110 menyatakan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa berdiri atau body language yang lain boleh untuk memuliyakan orang lain dari golongan orang-orang muliyah dan shaleh. Karena sikap penghormatan dan menghormati adalah wajib bagi seorang muslim. Karena sejatinya menghormati itu adalah jalan cinta dan kasih sayang.
Kami kalangan santri merujuk pada al-Quran, hadits, prilaku para sahabat dan pandangan para ulama dalam kitab kuning.
Cara menghormati memang beragam. Harus menghormati keragamaan dan keunikan masih-masih. Misal penghormatan dalam dunia militer dan kepolisian dengan meletakkan tangan terbuka di samping kepala sebagai tanda hormat. Sebagaimana kita hormat bendera.
Atau kalau kita melihat tradisi negara lain, Jepang menghormati dan menyampaikan ucapan terimakasih dengan cara membungkuk badan seperti sedang ruku’ dalam shalat.
Bahkan ucapan terimakasih dalam tradisi Jepang dan China bisa ekspresikan dengan bersimpuh di lantai atau bahkan bersujud.
Itu semua adalah ekspresi rasa hormat, cinta dan rasa syukur. Bukan kultus individu. Bukan pula feodalisme.
Ekspresi etika, rasa syukur, suka cita, berterimakasih dan cinta adalah bahasa rasa dan intuisi. Karena pesantren berbasis etika, tasawuf, teologi dan syariat serta dielaborasi dengan kearifan lokal.
Bisyaroh untuk Kiyai
Ada tradisi santri sowan ke kiyai di awal tahun pembelajaran pasca liburan di kampung halaman. Biasanya seperti pengalaman pribadi saya, orangtua menitipkan oleh-oleh dan bisyarah untuk kiyai.
Ada empat alasan. Pertama, lillahi ta’ala, semata hanya karena Allah. Bersedekah/hadiah atau bisyarah adalah baik kepada siapapun, apalagi kepada kepada guru kita, orangtua kita.
Kedua, bahasa orangtua saya, titip awak (menitipkan diri) anaknya yang akan bermukim di pondok pesantren. Orangtua saya sering berkata, “kita kudu pintar nitipake awak” (kita wajib pinta menitipkan diri kita).
Ketiga, berterimakasih kepada kiyai yang sudah direpotkan dan tersita waktunya untuk mendidik santri 24 jam dan bertahun-tahun.
Keempat, meraih keikhlasan dan keberkahan. Karena keikhlasan guru bisa menjadikan santri futuh (terbuka) akal pikirannya sehingga mudah mempelajari pelajaran, mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah.
Amplop yang hanya berisi tak seberapa yang setahun sekali itu sungguh tidak seimbang dengan apa yang sudah diberikan kiyai kepada santri. Dan pemberian santri itu inisiatif santri. Kiyai tidak berharap dan mengharapkan apapun dari santrinya.
Yang diharapkan kiyai adalah santri betah di pesantren, rajin belajar dan mengaji, dan kelak ilmunya bermanfaat dan berkah untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa.
Kiyai mendoakan dan nirakati (laku spiritual) untuk santri-santrinya. Dalam malam yang sunyi, kiyai memohon kepada Allah agar santri-santrinya dibukakan akal pikirannya agar mudah memahami pelajaran dan mendapatkan ilmu manfaat dan berkah.
Penulis adalah Mukti Ali Qusyairi, alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Lulusan 2001





Comments are closed.