Ketika Bapak pensiun, satu pertanyaanku: “Mau ngapain?”. Dia menyulut Djarum Super, membiarkan bakaran tembakau bergemeretak, mengisapnya dalam menimbulkan bunyi seperti remasan kresek hitam, lalu ia mengembuskan asap neraka itu seolah meniupkan segala masalah hidup. “Merawat mbahmu” jawabnya.
HANYA MERAWAT ORANG TUA?
Dalam pemikiranku, pensiun adalah masa ketika seorang membangkitkan ambisi yang telah lama hibernasi karena kekangan profesi. Bisnis kek, angon ayam kek, kalau perlu pelihara tuyul sekalian. Ngerawat Mbah kan bisa disambi. Toh dia masih bisa makan, mandi, dan buang tai sendiri. Meski kalau mau ke toilet ia harus merangkak serupa suster ngesot.
Aku amati kegiatan bapak setelah ia menerima surat pensiun: bangun tidur, makan, nganterin Ibuk ke kantor, main catur sama sampai pukul 4 sore, lalu menjemput Ibuk. Seringkali ia menghabiskan hari dengan sebat sambil melihat burung peliharaannya mandi. Jika disimpulkan dalam satu kata: gabut.
Saat ditinggal keluar, Mbah biasanya sudah terlelap dengan piring sesajen yang sudah kosong dan pispot yang terisi setengah– setengah sisanya tercecer ke lantai, sebab berbeda dengan anak muda yang mampu mengarahkan pipisnya suka-suka. Kemampuan itu hilang setelah lelaki dewasa berubah jadi lansia, kencingnya tak lagi bisa lurus, ia muncrat ke kanan dan kiri seolah selang air yang terlalu kencang.
Mbah sudah terbiasa dengan pola perawatan seperti itu, barangkali sampai mati. Hingga geledek datang, muncul bisul sebesar biji kedondong di pipinya. Semula kami kira itu akan kempes lalu pecah dengan sendirinya, tapi biji kedondong itu berubah jadi biji durian. Bisulnya membengkak membuat mukanya seperti orang habis kena tonjok Muhammad Ali.
Kami membawanya ke rumah sakit, oh Tuhan, mengangkat tubuh kerempeng yang cuma 40 kilo itu begitu siksa. Belum lagi aku harus menghindari sarungnya yang bau pesing karena dia tidak pernah mau pakai popok. “Bisul ini kudu dicongkel, pak” kata dokter begitu kami sampai IGD. Bapak membalasnya dengan senyum ringan seolah memasrahkan segala nasib di tangan si dokter.
“Biar ibuk aja yang nungguin” kata ibuku serupa pahlawan yang menumbalkan nyawanya untuk kemaslahatan umat. “Selesaikan urusanmu di Yogyakarta”. Bisa saja aku menuruti perintahnya, tapi aku adalah pembangkang nomor wahid di keluarga ini. Segera aku minggat dari Yogyakarta, lalu masuk ruangan si sakit. Di sana Mbah terkulai dengan jarum infus menusuk lengan kirinya. Perban menempel di pipi kirinya, di balik itu pasti ada daging yang koyak. Merah dan bernanah karena proses penyembuhan luka lansia tak secepat anak muda. “Lukanya bagus,” kata dokter “Sebab dia nggak punya diabetes atau kolesterol”. Tapi bagiku luka tetaplah luka. Ia menyimpan perih yang mengerikan seolah aku ikut merasakan sakitnya.
Aku duduk di sofa samping ranjang pasien, Ibuk yang lagi tadarus menatapku dengan tatapan “Udah dibilang nggak usah ke sini”. Tapi dia juga tidak marah apalagi mengusirku, artinya aku adalah pembangkang yang baik hati. Selama menunggu itu, ada beberapa saudara sekandungan darah setor muka seolah dengan berbasa basi setengah jam bisa menggugurkan kewajibannya untuk merawat orang tua.
Ketika Mbah enyah dari rumah sakit, kami mengusungnya seperti mengangkat gedebog pisang. Itulah titik di mana semuanya telah berubah. Dulu ia doyan makan nasi, sekarang harus bubur. Pernah kami mencoba memberinya makan nasi perkedel hangat kesukaannya, kami kira itu akan memantik memori rasa nikmat dalam tempurung kepalanya, tapi ia justru menyepahnya ke satu piring, PUAH! Membuat isi piring itu seperti gilingan makanan dari neraka. Melihat itu, aku jamin kalian nggak akan mau makan seharian.
Mbah juga tidak bisa mengontrol air pipis dan tainya, ia keluar begitu saja seperti manusia normal mau kentut. Sekarang dia pakai popok serupa orok. “Begitulah orang tua, mereka kembali lagi seperti bayi”. Tapi sumpah demi Tuhan, popok bayi dan popok lansia sungguh berbeda. Ia jauh lebih laknat seolah seluruh isian Bantar Gebang dipindahkan ke satu titik. “Cobalah pakai masker” saran ibuku, tapi aroma itu menerobos segala jenis masker dari yang made in China sampai yang made in America. Melihat panorama keparat itu, aku jamin nafsu makan kalian akan pamit, paling tidak seminggu.
Ketika mendapat tugas mengganti popok, aku angkat tangan. Memilih keluar seolah itu adalah kamar gas beracun. Tapi di sana Bapak masih berdiri. Tegap serupa menhir. Menggulung popoknya, mengelap bokongnya yang belepotan tai, sekaligus membasuh sekujur tubuhnya dengan handuk basah lalu menaburinya dengan pupur yang membuatnya sewangi bayi. Ia mengerjakan semua itu sendiri. Tanpa masker. Tanpa serapah. Tanpa bantuan saudara yang cuma setor muka.
Itulah hari ketika aku pergi ke sungai samping rumah. Lalu di sana, aku menangis sejadi-jadinya.
–
Tidak ada yang tahu kapan Mbah lahir. Orang zaman dulu terlalu sibuk beranak pinak sehingga lupa mencatat kapan tanggal lahir anaknya. Maka ketika negara perlu data penduduk, petugas sensus punya ide cemerlang. “Bikin mereka semua lahir tahun 1940”, hanya tanggal lahirnya ditulis berdasar ilmu kira-kira. Siapa yang brojol duluan di bumi ini, maka ia akan dicatat lahir di Bulan Januari begitu seterusnya. Tapi Mbah punya permintaan khusus, “Tulis tanggal 20 April” kata mbahku pada petugas sensus. “Sebab itu tanggal lahir Nabi Muhammad”. Demikian kemudian tertulis tanggal lahirnya di KTP: 20 April 1940.
Dia adalah santri NU penghuni shaf ujung kanan. Masa remajanya ia habiskan dengan mondok di Payaman Magelang, di bawah gemblengan langsung KH Siradj Payaman– yang konon dengan karomahnya mampu menghentikan erupsi Gunung Merapi. Selagi pemerintah Soeharto berkuasa, dia sedang jadi guru muda, mengajar agama di sebuah SMP. Ketika pemilu berlangsung, pusat dibantu aparat bersenjata memerintahkan guru-guru untuk memilih Golkar dan mengajak paling tidak 5 sanak keluarga untuk memilih partai beringin itu, “Agar diangkat jadi pegawai negeri” kata kepala sekolah.
Berbondong-bondong para guru muda memilih Golkar, tapi Mbah melihat pengerahan pegawai ini murni sebagai kezaliman. Maka ia menentang partai kuning itu, tak apa jika diam-diam, masalahnya ia berteriak di tengah majelis rapat “Lebih baik dipecat ketimbang harus memilih beringin”.
Demikianlah ia tidak diangkat jadi PNS dan menyusul beberapa tahun setelahnya, ia didepak dari sekolah.
Lalu ia mulai bertani, menanam cabai dan tembakau dan kobis di sepetak sawah belakang rumah, sore setelah selesai mencangkul, ia mengajar ngaji di langgar. Bertani kena tipu mulu (sama tengkulak dan sama negara), sementara jadi guru ngaji cuma dibayar pahala. Sebuah keajaiban dia dan nenekku mampu bikin hidup empat orang anaknya, bahkan tiga di antaranya sampai lulus kuliah. Betul ia tidak dapat duit bulanan dan pensiunan menjadi guru. Tapi janji Allah nyata, ketika satu pintu rezeki tertutup, Dia akan membuka pintu lain yang jauh lebih besar.
Tidak kurang dari 50 tahun ia jadi guru ngaji, muridnya dari generasi bapakku sampai aku. Setiap ngaji ia akan membawa sabit rotan untuk memukul murid yang bebalnya sudah ada di tingkat naudzubillah, membuat Ifanudin kawanku menangis sesenggukan karena tidak bisa melafalkan tiga ayat pertama surat Abasa.
Yang paling menyenangkan bagi murid ngaji adalah ketika khataman, sebab kami akan ziarah ke makam wali. Angkatanku dapat giliran ke Makam Sunan Kalijaga. Setiap murid diwajibkan iuran 50 ribu, yang sudah dicicil selama enam bulan. Menurut perhitungan Mbah, uang itu akan cukup untuk menyewa satu bus beserta sopir dan keneknya, namun sebagaimana acara kampus, Mbah harus tombok dengan menjual dua ekor kambing gembil untuk menutupi sisa uang yang kurang. Padahal kambing itu sudah dipersiapkannya untuk Qurban tahun depan.
Kekurangan itu disebabkan ada beberapa penumpang gelap yang tak ikut iuran, tapi ikut ziarah. Mbah mafhum betul ada satu-dua penyelundup dan ia juga tahu penyelundup itu sebenarnya mampu, tapi ia membiarkan mereka tetap ikut membawa rantang, termos, dan satu tas belanja berisi nasi, sambal teri, dan semua perabot rumah tangga yang bisa masuk sana.
Harapanku bus yang akan kami naiki adalah bus wisata full musik yang bisa karaokean dilengkapi kelap-kelip lampu warna-warni. Untuk itu aku sudah menyiapkan satu album Hadad Alwi versi karaoke di sebuah flashdisk yang aku curi diam-diam di meja kerja bapak. Bus datang, suara mesinnya serupa senapan mesin yang digunakan Rambo untuk menumpas Vietcong, asap knalpotnya lebih pekat ketimbang pembakaran hutan Sumatra, dan rangkanya berkarat sebentar lagi masuk kiloan. Ini bukan bus, tapi rongsokan, pikirku.
Masuk bus itu aku langsung mencium bau kecut keringat, antimo, minyak kayu putih, dan nasi bungkus dalam satu hirupan napas. Bau itu hanya akan sirna setelah bus berjalan, membiarkan angin-angin kota menerpa wajah kami para bocah yang bergelayut di jendela.
Ketika belakangan aku melihat rombongan peziarah– orang tua bau tanah, bocah bersarung dan bergerombol, emak-emak berseragam fatayat, atau lelaki necis NU yang selalu mengisap kretek, aku jadi teringat Mbah. Apakah satu dari mereka ada yang mengorbankan dua ekor kambing?
–
Tiga lebaran lalu Mbah masih duduk di kursi ruang depan, menyalami tamu yang mau sungkem. Ingatannya setajam bilah pedang Sayyidina Umar, ia masih mengingat nama seorang yang datang sekaligus kapan terakhir ia datang mampir seolah ada jin yang membisikkan kebenaran itu, membuat si tamu terperanjat dari kursi. Bagaimana seorang uzur ini masih ingat namaku, pikir mereka. “Sebab dia masih rajin membaca” bisik seorang yang lain sambil menunjuk dua kitab kuning di atas mejanya.
Dua lebaran berikut, ingatannya mulai kacau, ia tidak lagi bisa membedakan mana pulpen dan mana sendok. Jika dia minta pulpen, maka yang dimaksud adalah sendok. Dan jika ia minta sendok, maka yang dimaksud adalah raket pingpong. Perbendaharaan namanya juga sudah poranda, ia tak bisa membedakan mana Alwi mana Hisyam sebagaimana tak bisa membedakan mana Rahmat mana Mahmud. Tapi ajaibnya, ia masih bisa mengingat nama Bapak– orang yang memandikannya setiap hari.
Di suatu malam yang dingin, kala maling enggan bangun dan penganut ilmu babi ngepet malas menyalakan lilin, terdengar teriakan dari kamar Mbah. Keras dan beriak seperti erangan harimau. Pintu kamar Bapak terbuka menghasilkan suara gedobrak yang membangunkanku, aku lihat jam di ponsel menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku memilih tidur lagi menganggap itu sebagai sekelebat mimpi buruk yang harus segera dilupakan.
Selepas Subuh biasanya aku akan menjadi asisten Bapak mengurus Mbah: menyapu, nyuapin, dan memberi dia minum teh manis hangat seolah itu obat dari segala penyakit. Aku masih belum siap mental untuk membersihkan popok berisi tai. Namun betapa terperanjatnya aku ketika mencium aroma pupur bayi di kamar itu dan Mbah sudah meringkuk pulas serupa bayi rubah. Sementara di sofa, Bapak terkapar sambil selimutan sarung, “Jangan berisik” kata Ibuk “Dia mengganti popok jam 1 malam dan memandikannya dan mengasih dia makan bubur”.
–
Misi itu datang juga seperti kewajiban yang harus diemban tapi tak tahu datangnya kapan. Subuh itu ketika aku lagi menyapu kamar, Bapak memanggilku. “Bantu bapak angkatin manusia ini” aku menoleh ke kiri dan melihat Bapak menekan-nekan punggungnya serupa pemain angkat besi salah posisi. Tak ada pilihan lain selain membantu, kecuali aku anak nirempati yang hatinya terbuat dari batu. Tatkala mendekat ke kasur, aku bisa merasakan hangat di sekitar selangkangannya. “Sialan, popok ini ada isinya”, batinku.
Aku memeluk Mbah dari belakang seperti Khabib memiting musuhnya, lalu aku angkat tubuh kerempeng yang beratnya tak terkira ini sementara Bapak membuka popok laknat itu. Ketika popok itu terbuka, terbukalah pintu menuju TPA Bantar Gebang, menyeruak masuk memenuhi ruangan sempit. Aku menahan napas. 1, 2, 3. Tapi manusia tak diciptakan untuk bisa menahan napas lebih dari semenit apalagi sedang angkat beban. 18, 19, 20. Di detik 20 aku terpaksa menghirup udara. Tanpa tedeng masker made in America, aroma itu langsung menusuk inti pertahanan indra penciumanku dan memporak porandakan selera makan. Kedua tangan Bapak yang membersihkan pantat dari ceceran tai seolah bergerak dalam slow motion. Keparat, kapan kutukan ini selesai?
Ketika Bapak memberi tanda, aku turunkan tubuh Mbah nyaris membantingnya, lalu langsung keluar ruangan memuntahkan sisa sarapan, namun yang keluar cuma air liur yang rasanya pahit. Aku menengok ke belakang, Bapak sudah memasukkan popok berisi gundukan tai dalam sebuah keresek belang hitam-putih serupa jersey Juventus. Masih setengah perjalanan lagi, batinku. Tinggal memasang popok– yang jelas lebih mudah karena kotoran sudah binasa.
Aku mengeluarkan ludah penghabisan, balik badan masuk ruangan seperti petinju yang mau menuntaskan ronde terakhir. Aku cuma perlu mengangkat tubuh Mbah dan Bapak akan memakaikan popok agar tepat membungkus liang dubur. Aku tersenyum penuh kemenangan, hingga aku melihat sesuatu warna kuning tercecer di permukaan kasur. Jelas itu bukan sobekan seragam Golkar, melainkan feses yang keluar tiba-tiba serupa serangan Blitzkrieg tentara Nazi.
“Syaraf yang mengatur pencernaannya sudah dol” aku teringat kata si dokter “Makanya lansia nggak bisa mengatur kapan dan di mana ia mau buang tai”.
Bapak langsung mencungkil onggokan itu pakai tiga helai tisu yang dilemparkan ke kresek jersey Juventus, lalu dilap pakai tisu basah, mencetak warna kuning kelam di permukaan, terakhir ia menyemprot wipol, membikin kasur itu kinclong seolah tak ada tai yang pernah hinggap di sana. Bapak memasangkan popok dan menabur pupur dan mengganti baju. Aku menyuapi dia dan membersihkan sepahan bubur dan setelah minum obat, membiarkannya terlelap. Pulas serupa bayi rubah.
Pagi itu kami sama-sama membuka baju seperti gelandang bertahan berhasil mencetak gol penentu kemenangan di menit 95. Bapak menyulut Djarum Super, aku menyeduh kopi. Biasanya aku tidak suka ada asap rokok di sekitarku, tapi kali ini aku biarkan dia mengisap batang racun itu. Besok aku harus melakukannya lagi, begitu makna tatapannya.
Dari Bapak aku belajar bahwa merawat orang tua dan HANYA tidak seharusnya berada di satu kalimat yang sama.
Alwi Johan.
Temanggung, 26 Juli 2025





Comments are closed.